Bad Destiny

Gambar

Title : Bad Destiny

Author : Mickeymo125

Main Cast : GG’s Kwon Yuri | SHINee’s Choi Minho

Sub Cast : GG’s Jessica Jung

Genre : Angst

Rating : G

***

Seorang gadis cantik tengah duduk bersila di lantai lapangan. Jari rampingnya menari-nari di layar smartphone yang dipegangnya, memotret seorang pria jangkung yang kurang lebih berjarak lima meter dihadapannya. Sesekali bibirnya tertarik melengkung membuat sebuah senyuman manis karena hasil bidikan yang di ambilnya sangatlah menggemaskan. “Sempurna!.” Gumamnya bangga.

Tidak jauh dari tempatnya bersila, seseorang yang sedari tadi menjadi objek potret gadis itu tengah larut dalam permainan bola basket individualnya. Selain suara bidikan kamera dari ponsel gadis itu, yang terdengar hanyalah suara dentuman khas yang ditimbulkan ketika pertemuan lantai lapangan dengan bola basket yang di dorong pria itu ke lantai.

Gadis itu masih asyik dengan pekerjaannya sebagai fotografer amatiran, entah berapa foto yang sudah di ambilnya. Dan itu akan menjadi koleksi terbaru di dalam ponselnya. Ia memang sangat suka mengoleksi foto elok kekasihnya. Foto yang tak akan pernah membuatnya merasa bosan ketika dipandang. Bahkan akan selalu membuat bibirnya komat-kamit mengeluarkan ratapan-ratapan kagum tanpa henti.

Gadis yang tak lain bernama Yuri itu berhenti dalam aktivitasnya saat objek fotonya kini berjalan mendekat. Dengan perlahan dia menurunkan ponselnya lalu menggenggamnya diantara kedua kakinya yang bersila. Pria jangkung itu duduk dihadapan Yuri, berselonjor kaki dengan kedua tangan yang menopang disamping tubuhnya, dadanya naik turun diiringi nafasnya yang masih tersenggal-senggal. Tubuh atletisnya bermandikan oleh keringat. Namun bagi Yuri, hal itu sama sekai tidak mengurangi kadar ketampanan pria dihadapannya ini. Pria yang sejak dua tahun lalu telah merebut hatinya dan mengisi penuh ruang kosong dalam hati Yuri.

Yuri tersenyum lebar. Membuat wajahnya kian bersinar. Diliriknya jam tangan putih yang memeluk pergelangan tangannya. “1..2..3..” Yuri bergumam sembari menghentak-hentakan jarinya dikaca kecil jam itu. Sudah tiga jam ia menemani Minho bermain basket.“Sudah selesai .. tuan Choi?.”Tanyanya basa-basi. Sedikit mengejek mungkin. Yang ditanya hanya mengangguk dan terlalu sibuk menstabilkan nafasnya.

Yuri mengambil sebotol air mineral dari tas tangannya lalu disodorkannya kepada pria yang ia panggil dengan sebutan ‘tuan Choi’ tadi.

Choi Minho sang pemilik panggilan ‘tuan Choi’ itu tersenyum kecil lalu mulai meminumnya. Yuri dengan sabar menunggunya selesai dan terus memandang kagum kekasihnya itu.

“Aku lapar, sudah ini kita makan ya?.”Ajak Yuri penuh harap. Minho menurunkan botol yang sudah kosong lalu tersenyum lagi.

“Kau ingin makan dimana?.” Tanyanya dengan nafas yang mulai stabil. Yuri hanya mengangkat bahu dan mulai berdiri lalu berjalan pergi keluar lapangan. Minho terdiam sesaat, memandangi punggung tubuh kekasihnya yang mulai menjauh. Dengan satu tarikan nafas panjang, dia berlari mengejarnya.

.

Minho merajut langkahnya dengan ragu. Dua meter dihadapannya, sebuah kursi besi berkarat yang dimakan waktu tampak begitu menakutkan. Suasana di sekitarnya mendukung semua ketakutan itu, yang terdengar hanya desiran angin malam dan suara gemerisik dedaunan.

Di kursi itu, Yuri duduk melamun sembari menggenggam ponselnya. Matanya menerawang jauh ke depan dan tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Dia sudah menunggu selama satu jam, dan entah apa yang akan dikatakan Minho mengenai ulahnya kali ini.

“Kukira kau sudah pulang?.”Ucap Minho ragu. Yuri menoleh lalu mendapati kekasihnya sedang berdiri kaku di samping kursi. Yuri hanya diam, bingung dengan situasi macam apa yang sedang dihadapinya kini. Apa dia harus marah? Atau harus menangis dan memeluknya? Yang benar saja, hari ini dia baru saja di pecat dari pekerjaannya. Dan dia tidak cukup kuat untuk memukul Minho kali ini. Alhasil, Yuri hanya diam, memandang ke lagi kedepan, membiarkan Minho duduk dengan sendirinya. Pria di sampingnya semakin kikuk oleh kesunyian diantara mereka. “Maaf aku terlambat.”Sesal Minho membuat Yuri menoleh. Yuri bisa melihat jelas raut wajah Minho yang tengah gugup sekarang. Kendati seperti itu, Yuri tetap diam dan kembali mengalihkan pandangannya ke depan.

“Kau marah ya?.” Cetus Minho seakan memberitahu kenyataan itu kepada dirinya sendiri. Yuri menoleh lagi, namun kali ini dia tersenyum kecil lalu menggeleng lemah. Secercah perasaan lega membuncah di dada Minho. ‘Dia tidak marah, ya tuhan terimakasih!.’

Tapi kelegaan itu hanya sementara, Minho menatap lekat wajah sayu kekasihnya. Ada yang tidak beres.

“Gwaenchana?.” Minho berbisik pelan, menyeret tubuhnya untuk duduk lebih dekat lagi dengan Yuri. Berharap agar kekasihnya itu melontarkan serangkaian kata yang mungkin bisa melenyapkan rasa kekhawatirannya.

Yuri hanya diam tertunduk, menatap sepatu wedgesnya sambil berusaha untuk tidak menangis.

Minho semakin gelisah.“Chagi-yaa gwaenchana?.” Ulang Minho lembut sembari berusaha menatap wajah Yuri yang terhalang rambut hitamnya. Lagi- lagi Yuri hanya diam, Minho terlonjak saat melihat pundak kekasihnya mulai bergetar, jantungnya seperti disayat saat mulai terdengar suara isakan pelan yang menyakitkan. Dia, tidak suka mendengar Yuri menangis.

Dalam kebisuan dan kehati-hatian. Tubuh jangkungnya mulai merangkul Yuri. Membenamkan wajah basah gadis jelita itu ke dadanya yang bidang. Tidak peduli sebasah apa bajunya nanti karena air mata gadis itu. Dengan sabar, ia mengelus rambut gadisnya itu lembut, menanti sebuah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Minho tadi.

Sepuluh menit kemudian, masih dengan kebisuan yang sama. Yuri mendorong pelan tubuh Minho. Menampakan wajahnya yang sendu dan matanya yang sembab. Tangan rampingnya merangkak naik menyentuh pipi pria yang dicintainya itu. Dan lagi-lagi air mata mulai mengalir menuruni wajahnya yang lembab. Minho semakin kalut, gadis dihadapannya ini nampak sangat terluka kali ini. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan melakukan sesuatu, ia bahkan belum tahu apa penyebab gadisnya itu begitu terluka.

“Ada apa?.” Minho mengangkat tangannya untuk menghapus bulir bening di pelupuk mata Yuri. Yuri tetap bungkam. Menggigit bibir bawahnya agar tidak terbuka.

“Kau tahu? Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita. Tapi percayalah, ini menyiksaku.” Lanjut Minho meyakinkan. Tangannya turun mencengkram bahu Yuri yang rapuh.

“Minho-ya …” Panggil Yuri lirih. Saking lirihnya bahkan hampir tak terdengar oleh gendang telinga normal seseorang dari jarak satu meter. Minho mengangkat alisnya tanda menyahut. Yuri menarik napasnya dalam-dalam.“Aku di pecat hari ini.” Ucapnya lemah. Ia bahkan tak memiliki tenaga sekarang.

Minho terbelalak. Menatap senyuman miris yang baru saja terlukis di wajah Yuri.“W-wae?.”

Yuri menggeleng, menggigit bibit cherry nya agar tidak bergetar. Sesuatu menyeruak lagi dari pelupuk matanya.“M-mereka bilang a-aku…”Dan lagi-lagi Yuri menunduk, setetes air mata lolos dari matanya. Tangannya mencengkram kuat ujung rok motif kotak-kotak yang dipakainya.

“Mereka bilang, anak seorang pelacur sepertiku tidak bisa menjadi editor.” Yuri terhenti. Kini air matanya kian deras saja. Dengan wajah yang masih tertunduk, Yuri menangis meraung-raung. Seolah hal itu akan menghilangkan kepedihan di hatinya.

Minho terdiam sejenak, tapi dengan gesit membawa gadis itu kedalam pelukannya lagi. Menepuk pelan pundak kekasihnya yang bergetar sembari sesekali mencium puncak kepalanya. Yuri terus menangis, dan Minho sengaja membiarkan air mata gadis itu habis malam ini. Agar di malam-malam selanjutnya, dia tidak menangis lagi. “Jangan khawatir, aku disini. Saranghae.”

.

Yuri tidur telentang di kasur kecilnya. Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Seolah mengajak bicara benda mati yang ditatapnya itu. Ponselnya bergetar beberapa kali, membuatnya menoleh lalu dengan malas bangun dari posisinya selama satu jam kebelakang itu.

Yuri mengernyit ketika dilihatnya nomor asing yang terpampang dalam layar ponselnya. Tapi detik selanjutnya ia segera menekan tombol hijau.

//”Yeoboseyo?.”// Sebuah suara melengking seorang wanita di ujung telepon membuat Yuri berjengit.“Nuguseyo?.”Tanyanya sesopan mungkin. Takut jika yang menelponnya kali ini adalah orang penting.

//”Aku Jessica.”// Yuri menautkan alisnya setelah mendengar nama asing itu. Terdengar suara decitan pintu di ujung telepon. Membuat Yuri merinding karena kini dia tidak tahu gadis seperti apa di ujung telepon sana.

//“Kau Kwon Yuri kan?.”// Suara asing itu bertanya pelan. Yuri mencelos mendengar namanya disebutkan. Membuat kemungkinan salah sambung hilang tanpa sisa.“N-ne.” Jawabnya sedikit ragu.

//”Kita harus bertemu siang ini, aku akan mengirimkan alamatnya.”// Yuri lagi-lagi mengernyit membuat kedua alisnya kembali berpaut.

“Tapi kau siapa? Apakah aku mengenalmu?.” Sergah Yuri saat merasa gadis itu akan segera memutus sambungan. Gadis di ujung telepon tertawa mengejek.

//”Kau akan tahu nanti.”//

Beep..

Sambungan telepon terputus. Dengan tangan yang masih gemetar Yuri menyeret kakinya menuju kamar mandi. Hanya membuang-buang waktu jika ia menebak-nebak siapa yang menelponnya, toh mereka akan bertemu siang nanti.

.

Yuri duduk di salah satu kursi. Menerawang keluar dinding kaca yang bening. Sejak menerima telepon dari gadis asing tadi pagi, entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. Di luar dinding kaca, sebuah mobil Porsche putih berhenti tepat di depan café itu. Yuri acuh tak acuh dan kembali mengedarkan pandangannya kearah objek yang lain. Seorang gadis yang keluar dari mobil mahal itu berjalan memasuki café, Yuri melihatnya dan menjadi gugup saat merasakan tatapan gadis itu kepadanya.

Gadis itu berjalan mendekat. Kaca mata hitam menggantung di matanya. Surainya yang berwarna pirang mengkilap, membuat mata Yuri tak berkedip. Tubuhnya tinggi dan ramping. Hotpans putih yang dipakainya seolah menyeret setiap pasang mata di café itu. Tidak salah lagi, gadis ini pasti yang menelepon Yuri tadi pagi. Gadis bernama Jessica, dengan suara mengintimidasi.

Gadis itu berhenti setelah tiba di meja tempat Yuri berada. Yuri bangkit dari duduknya lalu semu-semu membungkuk memberi hormat. Sempat Yuri melihat higheels yang dipakai gadis itu. Itu sudah menunjukkan bahwa gadis ini sangat kaya. Berbanding seratus delapan puluh derajat dengannya.

Gadis itu duduk saat Yuri menatapnya. Tidak ada senyuman sama sekali dibibirnya yang terlapisi oleh lipstick merah itu. Gadis ini benar-benar glamour dan dingin.

Yuri melirik ke sekitar. Beberapa pelayan pria dan pengunjung melongo menatap gadis dihadapannya seperti orang idiot. Yuri tertunduk menatap penampilannya kali ini. Dia hanya memakai blush putih dan jeans lusuh, rambutnya juga terikat asal di belakang kepalanya. Matanya menatap gadis itu dari balik bulu matanya. Yuri merasa dirinya kini adalah hal berbalik dari gadis dihadapannya jika mereka duduk berhadapan seperti ini. Seperti si cantik dan si buruk rupa.

“Apa kau Kwon Yuri?.” Gadis itu bertanya ragu. Bibirnya belum juga tersenyum sedari tadi. Yuri hanya mengangguk mengiyakan. Gadis bernama Jessica itu menarik kaca matanya lalu menatap Yuri tidak percaya. “Ya tuhan.” Gumamnya sembari menggeleng tidak percaya.

“Jadi yang seperti ini seleranya?.” Lanjut Jessica dengan nada merendahkan. Kali ini ujung bibirnya tertarik, membuat sebuah seringaian kejam di bibir merahnya.

“Maaf?.” Yuri angkat bicara, membuat seriangaian itu hilang dan wajah Jessica kembali datar seperti semula.

“Tadi pagi aku meneleponmu dan meminta bertemu, namaku Jessica Jung.” Jawab Jessica yang menyadari guratan-guratan didahi Yuri sembari menatap remeh Yuri. Bibirnya kembali menyeringai dan tentu saja membuat Yuri kesal.

“Apa yang kau tertawakan nona?.”Yuri mulai geram. Gadis yang mengaku bernama Jessica itu menatapnya seperti Yuri adalah wanita yang menjijikan. Dan dia tidak suka itu.

“Aku hanya terkejut, gadis yang Minho sukai ternyata seperti ini.” Jawab Jessica sembari menyandarkan tubuh mungilnya ke kursi.

Yuri terbelalak mendengar nama kekasihnya disebut. Fikirannya melancong jauh ke adegan drama televisi dimana pada situasi seperti ini biasanya akan terjadi konflik hebat. Tapi Yuri menepisnya, ini dunia nyata dan dia tidak suka drama. “Apa maksudmu?.” Tanya Yuri setelah beberapa saat terdiam.

“Baik, kita langsung saja. Jadi kau Kwon Yuri kekasih Choi Minho kan?.” Jessica bangun dari sandarannya lalu menopang dagunya diatas meja. Masih dengan asyiknya menatap Yuri yang menegang.

“Asal kau tahu, kau sangat tidak tahu diri.” Tambah Jessica pelan. Membuat Yuri terlonjak kaget saat merasakan belati diucapan gadis itu.

“Dengar nona Yuri, tidakkah kau sadar siapa kekasihmu itu? Dia adalah penerus perusahaan besar. Putra satu-satunya dari keluarga Choi, sang pewaris utama.” Jelas Jessica tanpa jeda. Dada Yuri mulai sesak dan lehernya terasa tercekik, menyadari kearah mana pembicaraan ini.

“Dan kau, dengan tidak tahu malunya berani berpacaran dengannya sementara penampilanmu sehancur ini. Cih.”Yuri mengerjap merasakan darahnya berdesir turun hingga ke betis. Tangannya gemetaran mencengkram ujung meja.

“Biar kupertegas,  KAU tidak pantas untuknya! Dia membutuhkan pendamping yang sesuai dengan kastanya, dan gadis dari kasta terendah sepertimu bahkan dilarang untuk bermimpi bisa mendampinginya.” Jessica melempar rambut mengkilapnya kebelakang. Menambah kesan arogan pada dirinya.

Yuri kian kalut, bibirnya bergetar menahan tangis. Matanya mulai memerah karena lagi-lagi sesuatu mendesak ingin keluar dari matanya.

“Tinggalkan dia! Kau jelas tahu ini yang terbaik untuknya.” Yuri menggeleng tanda tidak ingin sama sekali melakukan itu. Membuat Jessica memicingkan matanya menyaksikan gadis dihadapannya yang banting tulang menahan tangis.

“Apa kira-kira yang akan dikatakan ayahnya jika anaknya menikahi anak seorang pelacur sepertimu?.”

Deg. Kali ini Yuri membeku. Kata-kata yang diucapkan gadis dihadapannya seakan baru saja mencincang hatinya. Tanpa aba-aba, air mata mulai berjatuhan dari pelupuk matanya. Jessica hanya menyeringai mendapati objek siksaannya hancur berkeping-keping.

“Sadarlah nona, kau tidak lebih dari seorang putri dari wanita kotor. Bahkan aku yakin, ibumu ragu yang mana ayahmu.”Jessica berdecak diakhir kalimatnya.

Yuri mencengkram meja semakin kuat, kata-kata terakhir yang keluar dari mulut gadis dihadapannya membuat tangannya refleks mendarat di pipi mulus gadis itu. Menimbulkan sebuah suara nyaring yang mengerikan. Beberapa pengunjung memperhatikan mereka. Lalu berbisik-bisik tidak jelas.

Jessica mengumpat kesal sembari memegangi pipinya yang memerah. Ia kembali melemparkan sebuah seringaian.“Anyway, aku akan di jodohkan dengannya, sebentar lagi kami akan menikah. Dan kau seperti lalat yang berkeliaran di tengah-tengah ketenangan kami. Apa salah jika aku menyuruhmu pergi?.”

Yuri terisak perih. Matanya menatap gadis itu tidak percaya.“A-a-aku..”

“Tinggalkan dia, dengan begitu dia akan hidup lebih baik dari sekarang. Percayalah, aku akan memberinya kasih sayang jauh lebih baik dari dirimu. Dan kau, carilah pria yang sebanding. Jangan berusaha mengorek ketenangan orang yang tidak sebanding darimu. Itu terlalu menggangu! Permisi.” Jessica berlalu, meninggalkan Yuri yang masih terisak. Dia menutup mulutnya dengan punggung tangan, berusaha meredam isakan yang mungkin akan mengganggu ketenangan para pengunjung cafe yang lain. Benarkah seperti ini nasibnya? Selalu terpojok dan terhina?

.

Tetaplah bermain basket, jangan pedulikan aku dan lanjutkan hidupmu. Aku pergi untuk kebaikanmu. Kau tahu? Aku sangat bersalah selama berada disampingmu. Kau pantas memiliki wanita yang lebih baik, bukan aku! Tentu saja bukan aku. Jangan mencintaiku lagi, lupakan aku dan anggap seakan-akan aku tidak pernah ada. Anggap saja kau terlahir kembali, dan kau tidak mengenalku. Mudah bukan?

Maafkan aku, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Aku yang salah, aku terlalu berharap memilikimu. Maaf, tolong maafkan aku. Aku akan sangat berterimakasih jika kau membiarkan aku hidup tenang tanpa bayang-bayangmu. Jangan coba mencariku, kumohon. Kita tidak ditakdirkan bersama. Kau memiliki masa depan yang cemerlang, dan masa depanmu bukan bersamaku. Raihlah mimpimu. Aku yakin kau bisa melupakanku seiring berjalannya waktu, ya aku yakin. Dan akupun begitu. Terimakasih telah mencintaiku dan memberi warna dalam hari-hariku. Terimakasih. Tapi maaf, sekali lagi maafkan aku. Aku tidak pantas untukmu. Maafkan aku. Aku mencintaimu. Lupakan aku jika kau juga mencintaiku. Maaf.

 

Kwon Yuri

 

Minho tertegun, kakinya terasa seperti agar-agar. Tangannya mencengkram sepucuk surat yang baru saja dibacanya. Dia menggeleng tidak percaya, merutuki kebodohannya selama ini, dia gagal! Dia gagal melindungi orang yang dicintainya, dan kini gadis itu sudah pergi. Meninggalkan Minho dengan sejuta perasaan bersalah yang kian menyiksa.

Pipinya sudah basah oleh cairan-cairan yang keluar dari matanya semenjak kalimat pertama surat itu.

Hari itu, semalaman Minho meraung-raung memanggil nama yang tak mungkin kembali.

.

Two years later

Seorang gadis cantik membuka kaca mata hitamnya, kaki mulusnya berjalan anggun memasuki ruang kerja barunya. Ya, setelah dua tahun yang lalu ia pergi ke USA. Kini gadis bernama lengkap Kwon Yuri itu telah kembali dengan gelar Best Desainer. Hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. ‘Mulai sekarang, tidak ada yang bisa menginjak-injak harga diriku.’ Tekadnya.

Asistennya berjalan mengekori. Lalu tersenyum lebar saat Yuri terduduk di kursi kebanggaannya.

“Kau mendapat job besar Yuri, seorang pengusaha ternama Korea memintamu merancang gaun pengantin untuk pernikahan putrinya. Ini pasti akan membuahkan banyak uang.” Ucap asistennya bersemangat. Yuri hanya mengangguk lalu mulai menggambar saat baru saja sebuah ilham menghampirinya. Tangannya menari-nari diatas kertas. Sebuah desain gaun pengantin indah sudah mulai terlihat jelas walau hanya beberapa coretan-coretan. Asistennya dengan gembira menunggu Yuri berbicara.

“Siapa putri pengusaha itu Hyo? Aku perlu memastikan gaun ini cocok untuknya.” Tanya Yuri tanpa beralih sedikitpun.

“Jessica Jung.. Dia akan segera menikah dengan putra konglomerat juga. Ah aku lupa namanya, mm kalau tidak salah C-Choi Minho. Ya, Choi Minho. Mereka akan menikah akhir bulan ini.”

Yuri terdiam berusaha menelan ludah, pensil yang dipegangnya terlepas dari genggamannya. Memori-memori kelam yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dalam satu ruang pikirannya, kembali menyeruak keluar. Membayang-bayang Yuri dengan sejuta rasa sakit yang menyerbu hatinya. Dua tahun, dua tahun ia gunakan untuk melupakannya. Apakah sia-sia? Ya Tuhan! Apalagi sekarang? Mengapa takdir buruk selalu menghampirinya jika dia di Korea?

= THE END =

 RCL yaa🙂

9 thoughts on “Bad Destiny

  1. daebak ^^
    jgn end donk chingu..
    jujur aq msh pnasaran ma jalan critanya..
    please klo bsa ada lanjtannya.. 🙂
    #ngarep.com

    yul d sini ksian bnget.. dya trus d hina cma gra2 ank plcur.. -_-
    ampe sica dteng cma untuk mnghina ma mrebut minho..
    tpi untung ja yul bsa jdi sukses.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s