In Your Eyes (Chapter 1)

Gambar

Title : In Your Eyes

Author : Park Minhwa & Mickeymo125

Main Cast : Im Yoona || Park Chanyeol

Sub Cast : Kim Youngran (OC) || Park Minhwa (OC)

Genre : Romance

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Disclaimer : Alur/plot asli karangan kami. Cast milik Tuhan & dirinya masing-masing.

Don’t be Plagiator & Silent Reader!!!

***

 

= “When I Meet You” Chapter 1 =

Ini pertama kalinya, sungguh! Aku benar-benar merasa aneh. Gadis itu, seketika seakan duniaku terpusat hanya padanya. Tatapannya, seolah menarikku kedalam dunianya, dunia yang selalu membuatku tak pernah berhenti untuk memikirkannya. Aku tidak tahu kenapa, tapi yang jelas .. Aku terhipnotis! Terhipnotis oleh tatapan matanya. –Park Chanyeol-

***

 

Chanyeol POV

“Arrggghhhh.” Aku mengacak rambutku frustasi, bisa-bisa nya motorku mogok disaat seperti ini! Kulirik jam rolex yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, hanya tersisa 15 menit lagi sebelum aku benar-benar terlambat. Oh shit! Hari apa ini? Apakah ini hari sialku?

Aku mengedarkan pandanganku ke kiri dan kanan, sebuah halteu tampak berada sekitar 10 meter dari tempatku berdiri sekarang. Tanpa pikir panjang aku segera mengambil kunci motorku dan berlari ke halteu itu.

Kurasa aku gugup. Entahlah, ini sudah lama sekali aku tidak naik bis. Mungkin terhitung sejak aku berumur 10 tahun aku tidak pernah naik bis lagi. Disini tidak ada seorangpun yang aku kenal. Semuanya asing. Atau memang aku saja yang tidak pernah memperhatikan sekitar? Sudahlah, yang penting sekarang aku harus segera tiba disekolah tepat waktu.

Aku menghentakkan kakiku, ayolahh .. kenapa jarum jamnya terus berputar disaat bis belum datang seperti ini?

Aku melihat ke sekitar, nampaknya bukan aku saja yang menunggu bis. Diujung halteu seorang pria paruh baya tengah menelepon seseorang, tidak jauh darinya seorang anak sekolah tingkat junior tengah bersenandung kecil dengan earphone yang terpasang ditelinganya. Seorang nenek tua itu juga tampak berusaha membaca sesuatu dikoran. Dan gadis berambut panjang itu … Astaga, dia menatapku. Tatapan yang begitu sulit kuartikan. Tapi sepertinya ia menatapku malu-malu. Tapi benarkah ia menatapku? Jantungku tiba-tiba berdegup kencang walaupun gadis itu sudah mengalihkan pandangannya.

Aku berusaha melenyapkan rasa gugupku dan kembali memfokuskan lagi pikiranku. Ah sialan! Gadis itu membuatku penasaran. Akhirnya aku menyerah dan diam-diam melirik gadis tadi. Tunggu! Kemana dia? Aku mencari ke sekeliling. Semua orang disini sibuk masuk kedalam bis. Eh, kenapa aku sampai tidak menyadari bis datang? Bodoh!.

Dengan sedikit linglung aku menyusul masuk kedalam bis. Aku segera mencari kursi kosong yang bisa ku duduki. Dan sialnya, satu-satunya kursi yang tersisa hanya disamping gadis itu. Aku tidak beranjak dari tempatku berdiri, terjebak antara pilihan aku duduk disampingnya atau tidak. Dan tatapan orang-orang disini telah menjawabnya. Mereka menatapku seakan menyuruhku untuk segera duduk. Hey, apakah aku mengganggu jika berdiri disini? Huh.

Dengan ragu aku mulai melangkahkan kakiku menghampiri gadis itu, ah tidak! tentu saja aku berjalan kearah kursi kosong disamping gadis itu. Ayolah Park Chanyeol! Kenapa kau terus memikirkan gadis itu?

Detik selanjutnya aku sudah terduduk disampingnya. Aku mengambil sebuah ponsel dari saku celanaku. Kuketikkan sebuah pesan singkat untuk menyuruh seseorang membawa motor kesayanganku itu ke bengkel, lalu kukirimkan pada Kang ahjussi –supir pribadi eomma-.

Aku kembali memasukkan ponselku ke saku celana. Kusapu pandanganku ke seluruh penjuru bis dan berhenti pada sosok gadis disampingku.

Aku baru menyadari gadis ini begitu cantik jika dilihat dari dekat. Rambut panjangnya yang berwarna coklat pekat terlihat berkilau karena pantulan sinar matahari pagi. Kulit wajahnya berwarna putih susu dan terlihat begitu lembut jika disentuh. Kelopak matanya juga indah. Kurasa, dia gadis yang sempurna.

Entah aku berkhayal atau tidak, dia menatapku sekarang. Pandangan mata kami bertemu. Matanya, sekali lagi aku seperti tertarik kedalamnya. Gadis itu sedikit menundukkan kepalanya tanda memberi hormat padaku, dengan sedikit salah tingkah aku membalasnya dan langsung mengalihkan pandanganku ke sudut lain. Ya tuhan, kenapa aku tiba-tiba gugup? Jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, aku kembali berdehem kecil untuk menetralkan kembali detak jantungku. Dasar jantung bodoh!.

Aku melirik gadis itu dengan ekor mataku, kini ia sudah tidak menatapku lagi. Ia menerawang ke jendela kaca bis, tatapannya terlihat begitu damai. Dan sekarang aku dengan terang-terangan menatap gadis itu seperti orang idiot.

Aku mengerjap, bis yang kutumpangi kini berhenti di halte berikutnya. Kenapa cepat sekali? Aku tahu, aku harus segera turun sekarang. Dengan berat hati, aku berdiri lalu segera keluar dari bis. Sebelumnya, aku sempat merasakan tatapan gadis itu pada punggungku. Aku membalikkan badanku untuk menatap bis yang mulai menjauh. Gadis itu, aku harap dia akan melihatku lagi. Errr, kurasa bukan begitu! Aku harap aku akan melihatnya lagi.

Setelah bis itu benar-benar lenyap dari pandanganku, kulirik lagi jam rolex ditanganku. Mataku langsung membulat diiringi mulutku yang menganga kaget. “Omo!.” Hanya tinggal satu menit lagi, ah tidak bahkan kurang dari itu sebelum gerbang sekolahku benar-benar tertutup. Aku segera berlari kearah gerbang sekolahku yang berjarak kurang lebih sekitar 100 kaki dari halteu ini. Dari jarak pandangku sekarang aku bisa melihat seorang petugas keamanan sekolah mulai menutup gerbangnya. Aku mempercepat lariku seraya berteriak. “Ahjussi, ahjussi, chakkaman! Tolong jangan ditutup!.”

Penjaga sekolah itu melihatku, ia menatapku lalu menggelengkan kepalanya. Detik selanjutnya aku sudah melewati gerbang itu dan menghentikkan langkahku. Kupegangi dada ku yang naik turun sehabis berlari sembari mengontrol nafasku.

“Kau! Lain kali berangkat lebih pagi!.” Nasihat ahjussi itu lalu berlalu melewatiku.

Aku mengangguk masih dengan dadaku yang naik turun. Kutarik napas panjang dan mulai berjalan menuju kelasku. Hah, untung saja!

 

***

 

Yeay! Apa sekarang aku menjadi seorang penguntit? Ah tidak tidak! Mungkin julukan ‘Secret-Admirer’ lebih cocok untukku. Yaa, itu terdengar lebih keren ditelingaku daripada seorang ‘penguntit’.

Gadis itu, tatapan misteriusnya seakan membiusku untuk terus mencari tahu tentang dirinya. Seakan aku telah kecanduan, candu untuk selalu melihat tatapannya. Bagaimana tidak? sejak hari pertama kami bertemu saat itu, aku jadi naik bis setiap hari. Tapi walaupun setiap hari bertemu, gadis itu tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun padaku, dia hanya menatapku diam-diam dengan tatapan misteriusnya itu.

“Hey, ireumi mwoeyo?.” Rasanya lidahku gatal, aku ingin sekali melontarkan pertanyaan itu padanya. Tapi kenyataannya, aku selalu bungkam seribu bahasa saat melihatnya.

Ini sudah terhitung satu minggu aku berangkat dan pulang sekolah dengan menaiki bis. Anehnya, aku tidak pernah bertemu dengannya saat jam pulang sekolah. Apa sekolahku dan sekolahnya tidak memiliki jam pulang yang sama? Memangnya dia sekolah dimana? Itu juga salah satu dari rentetan pertanyaanku tentang dirinya.

Sekarang hari sabtu, seperti biasanya aku terlampau bersemangat menuju halteu. Aku berhenti saat sebuah tangan menepuk pundakku. Aku berbalik dan mendapati sosok Baekhyun berdiri dibelakangku. Dia sahabatku dari kecil, orang tuanya tentu saja luar biasa kaya. Aku mengernyit ketika menyadari sesuatu. Apa yang dia lakukan disini?

“Baekhyun-aa, apa yang kau lakukan disini?.” Tanyaku bingung. Ia tersenyum.

“Aku mengikutimu.” Jawabnya singkat lalu mensejajarkan langkah kami dan kami kembali berjalan menuju halteu bis yang hanya tinggal berjarak dua meter lagi.

Kerutan didahiku bertambah. “Mengikuti?.” Baekhyun mengangguk dan kembali tersenyum. “Tadi aku mampir kerumahmu. Jung ahjumma bilang kau sudah berangkat ke halteu. Jadi, aku menyusulmu.” Jelasnya yang cukup untuk menghilangkan satu pertanyaan kecil yang mengganggu pikiranku. Aku mengangguk mengerti. Kami berbincang ringan sembari menunggu bis datang, sesekali aku mencuri pandang kearah seorang gadis, siapa lagi kalau bukan dia.

Dia baru saja sampai dihalteu ini, rambut indahnya yang panjang diikat kuda kali ini. Seragamnya tetap rapi seperti biasa. Tapi, kurasa ada yang aneh. Gadis itu terlihat sedih, tatapan matanya sendu. Apa yang terjadi padanya?

Aku terlonjak saat Baekhyun kembali menepuk pundakku.

“Apa yang kau lihat?.” Tanyanya penasaran lalu mengikuti arah pandanganku kearah gadis itu. Aku tertawa garing berusaha mengalihkan pandangannya. “Aah tidak, tidak ada.” Jawabku sedikit salah tingkah lalu menggaruk tengkukku yang tak gatal.

“Siapa gadis itu? Kekasihmu?.” Tanya Baekhyun dengan cengiran khasnya. Aku terlonjak, takut gadis itu mendengarnya.

“Aah apa maksudmu, dia bukan siapa-siapa.” Jawabku sekenanya. Aku mengalihkan pandanganku dari Baekhyun.

Tidak lama kemudian bis yang kami tunggu datang, seperti biasanya aku akan menunggu gadis itu masuk ke dalam bis terlebih dahulu. Gadis itu duduk di bangku nomor dua dibelakang kemudi, disebelahnya duduk seorang wanita paruh baya yang terlihat baik hati. Baekhyun terlihat santai, lalu mengeretku duduk di belakang kursi  gadis itu.

“Itu seragam Hanyoung High School kan?.” Baekhyun berbisik sembari menyikut pinggangku. Aku menautkan alisku tanda tidak mengerti.

“Apa?.” Tanyaku garang.

“Gadis itu… Gadis yang tadi kau perhatikan! Astaga benar, itu seragam Hanyoung!.” Jawab Baekhyun masih setengah berbisik. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga seperti orang tolol.

“Benarkah? H-Hanyoung katamu?.”

“Iya, aku yakin sekali! Itu seragam Hanyoung High School!.”

“Jadi dia murid Hanyoung?.”

“Sepertinya begitu, astaga bukankah sangat sulit masuk kesana.” Baekhyun menggeleng tanda tidak percaya. Aku juga cukup terkejut, hey! bukankah ini keren? gadis itu murid Hanyoung High School! tentu semua orang tahu, hanya orang terpilih saja yang bisa sekolah disana. “Ini kereeenn!.” Tambah Baekhyun bersemangat.

Entah memang suara kami yang telalu keras, atau pendengaran gadis itu yang terlampau tajam. Yang jelas, kini gadis itu menoleh dan menatap kami. Sontak aku dan Baekhyun hanya diam seribu bahasa seakan terperangkap oleh tatapannya. Gadis itu menatap kami selama beberapa detik, lalu kembali menatap ke depan. Kami yang di tatapnya hanya terdiam seperti patung. Aku jadi seperti orang bodoh! Mengapa aku jadi begitu sial jika bersama Baekhyun? aku menutup mataku sembari memikirkan apa yang mungkin dipikirkan gadis itu tentang diriku. Baekhyun menepuk pundakku, tapi aku tidak menggubrisnya.

 

***

 

Yoona POV

Sesungguhnya aku sangat malas pergi ke sekolah hari ini. Selain karena hari ini hari kematian ayahku, hari ini juga aku merasa sangat lelah. Seperti biasanya aku akan berjalan menuju halteu tempat aku menunggu bis setiap harinya.

Astaga, pria itu. Aku melihat dia juga hari ini. Awalnya aku kira dia tidak akan naik bis secara rutin, tapi sekarang apa? Sudah seminggu ini dia menunggu bis disini. Aku menggeleng pelan sembari mendudukan tubuhku, berusaha menghilangkan pemikiran ku tentang pria itu. Seperti biasanya, aku akan memperhatikan pria itu diam- diam. tapi sekarang sepertinya dia tidak pergi sendiri, dia kini tengah berbincang santai dengan seseorang yang sepertinya adalah temannya. Seragam yang mereka pakai sama, dan bukankah itu berarti mereka satu sekolah? yang kutahu, itu adalah seragam Seoul High School, dulu awalnya aku akan masuk kesana. Tapi karena Hanyoung High School menerima pengajuan beasiswaku, aku tidak jadi sekolah disana.

Bis sudah datang, aku berjalan melewati pria itu lalu masuk kedalam bis. Ada sebuah kursi kosong di sebelah Ahjumma itu. Tanpa fikir panjang aku duduk disebelah ahjumma itu. Sekarang apa? pria tadi dan temannya itu duduk di belakang ku. Aku menahan leherku untuk tidak menoleh. Astaga, dan ada apa denganku? Im Yoona! Kau tidak mengenalnya, dan dia bukan siapa- siapa, jadi berhenti memikirkannya!

 

“Itu seragam Hanyoung High School kan?.” Sebuah suara pelan terdengar berasal dari kursi belakang. Aku yakin ini bukan suara pria itu, mungkin ini suara temannya.

 “Apa?.” Nah, untuk yang satu ini aku yakin adalah suara pria itu.

“Gadis itu… Gadis yang tadi kau perhatikan! Astaga benar, itu seragam Hanyoung!.” Jawab suara yang kuyakini adalah suara teman pria itu. Tapi apa dia bilang ? -Gadis itu… Gadis yang tadi kau perhatikan- aku tertegun sejenak. A-apa mungkin pria itu sempat memperhatikanku? ya tuhan, kenapa jantungku berdegup kencang. Sontak kepalaku penuh dengan suara-suara pria itu ‘gadis itu… gadis yang tadi kau perhatikan’. Aku menggeleng, berusaha menghilangkan suara- suara itu.

“Benarkah? H-Hanyoung katamu?.” Suara bass pria itu kembali terdengar. Ah, aku bisa membedakannya. Suara pria itu Bass, dan suara teman pria itu lebih terdengar seperti Tenor.

“Iya, aku yakin sekali! Itu seragam Hanyoung High School!.”

“Jadi dia murid Hanyoung?.”

“Sepertinya begitu, astaga bukankah sangat sulit masuk kesana.” Suara tenor teman pria itu kini lebih keras. “Ini kereeenn!.” Tambah suara teman pria itu lagi.

Aku tidak tahan untuk tidak menoleh. Dan tanpa fikir panjang aku menoleh ke belakang. Pria itu, dan temannya yang baru kusadari memakai eyeliner itu kini terdiam. Aku bingung akan bereaksi seperti apa. Apa aku harus marah? Tapi mereka tidak salah. Atau aku harus tersenyum? Apa? Senyum? Yang benar saja.

Aku hanya menatap mereka beberapa detik, lalu kembali berbalik sebelum pria itu melihat wajahku memerah.

 

***

 

Aku baru saja tiba di rumah. Seperti biasanya, aku akan tiba pukul tujuh malam. Itu karena setelah pulang sekolah aku akan bekerja di Breeks Café hingga pukul setengah tujuh. Aku bekerja sebagai pelayan, gaji nya memang tidak besar. Tapi cukup untuk membantu ahjumma membiayai hidup kami. Ahjumma adalah wanita yang baik, dia memiliki seorang anak perempuan. Yaa.. dia adalah keponakanku. Namanya Kim Youngran, dia bersekolah di Cheongdam Junior High School . Youngran sangat mirip ahjumma, dia cantik dan ramah.

Aku membuka sepatuku, lalu menaruhnya di dekat pintu masuk. Ahjumma sedang menyaksikan acara televisi sembari menulis sesuatu di buku kecilnya. Disebelahnya, Youngran hanya diam merenung.

“Aku pulang.” Ahjumma menoleh lalu tersenyum seperti biasanya. Tapi Youngran hanya tetap diam termenung. Ada apa lagi sekarang?

Dengan gontai aku masuk ke kamarku, apa sebaiknya aku mandi dulu? Oh iya, masih ada tugas sekolah yang harus kukumpulkan besok. Jadi aku lebih memilih membuka buku dan mulai mengerjakan tugas.

Pintu kamar terbuka, Youngran berdiri di ambang pintu tanpa sepatah katapun. Aku tahu ada yang tidak beres, aku hanya tersenyum sembari melambaikan tangan dan menyuruhnya masuk. Dia berjalan sangat pelan lalu duduk di tepi ranjang.

“Kenapa kau menekuk wajahmu seperti itu?.”

“Eonni…”

“Ada apa Youngie-ya?.”

“Kau tahu kan besok hari apa?.” Youngran balik bertanya.

Aku menghitung hari  dan tanggal dengan jariku. “Mm, minggu lima belas april.”

“Dan kau tahu berapa lama aku menunggu hari itu tiba?.”

Aku hanya menggeleng, sebenarnya apa maksud dari kata- katanya? Aku sungguh tak mengerti. Youngran terlalu berbelit-belit.

“Satu tahun. Aku menunggunya selama satu tahun eonnie.” Youngran memasang wajah memelas. Dan aku, masih belum mengerti.

“Ada apa? Besok kau akan menikah?.” Tanyaku mencoba menebak. Aah tebakan yang konyol.

“Ya~! Eonnie aku serius!.” Youngran mempoutkan bibirnya kesal.

“Habisnya aku tidak mengerti apa yang kau maksud, memangnya besok ada apa?.”

“Besookk.. aku akan menonton konser Super Junior.”

“Oh, lalu? apa itu penyebabmu murung?.”

“Bukaan!.” Youngran membantah dengan suara melengkingnya. Aku segera menutup telingaku yang terasa berdenging. “Aku bahkan sudah menabung uangku dari jauh-jauh hari untuk membeli tiketnya.” Tambahnya, nada suaranya melemah kembali.

“Kau sudah punya tiketnya?.” Tanyaku pada Youngran yang kini telah duduk di lantai bersamaku. Youngran hanya mengangguk mengiyakan. “Lalu apa lagi? Kau tinggal pergi.”

Youngran menundukkan kepalanya, ia meremas pelan ujung kaos putih yang ia kenakan. “Eomma tidak mengizinkanku.”

“Eoh?.”

“Dia bilang aku tidak boleh pergi jika tidak ada teman yang menemaniku.” Lanjutnya lagi, Youngran merebahkan badannya di lantai lalu menerawang pada langit-langit kamar.

“Lalu kemana teman mu yang lain?.”

“Mereka tidak pergi.” Jawabnya tak bersemangat.

“Jadi kau berencana pergi sendirian?.” Youngran hanya mengangguk mengiyakan.

Aku menepuk jidatku pelan. “Aigoo, ya jelas saja kau tidak diberi izin.” Aku kembali beralih pada buku-bukuku lalu mulai fokus mengerjakan tugasku lagi. Kudengar Youngran berdecak lalu bergumam pelan. “Oh ayolah aku bukan anak kecil lagi.”

“Eonnie, bantu akuuu.” Rayunya manja. Aku menyimpan bolpoin yang ku pegang. Lalu menoleh melihat Youngran yang berbinar.

“Caranya?.”

“Bujuk eomma, dia pasti akan mendengarkanmu.” Aku menghela nafas tak yakin.

“Ayolah eonnie, tabunganku akan sia-sia jika seperti ini.” Rengek Youngran, ia menendang-nendang kakinya pada angin sembari menggoyangkan tubuhnya. Ckck, miris sekali. Aku ragu sejenak, tapi kini tangannya bergelayutan di tanganku. Aku hanya membuang nafas, sekuat apapun aku menolak, gadis ini tidak akan menyerah. Alhasil aku mengangguk lalu berjalan keluar kamar, menghampiri ahjumma yang masih sibuk menulis.

“Ahjummeoni.” Seruku lalu duduk disampingnya. Ahjumma menoleh lalu tersenyum padaku, setiap aku melihat senyuman itu. Aku jadi ingat ibuku.

“Kau sudah makan?.” Tanyanya tanpa menatapku. Aku menggeleng. “Aku masih kenyang. Youngran bilang dia-.”

“Jika itu yang ingin kau bicarakan, lebih baik kau masuk kembali ke kamarmu. Aku tidak mau membahas itu.” Potong ahjumma tanpa beralih dari bukunya.

“Tapi ahjummeoni, dia sudah menunggu hari besok. Dia bahkan sudah menabung uangnya untuk membeli tiket.” Jelasku, ahjumma hanya menggeleng. Ah, ibu dan anak sama saja, sangat keras kepala.

“Dia sudah membeli tiketnya ahjummeoni.” Rayuku.

“Salahnya sendiri membeli tiket tanpa bertanya padaku.” Aku menghela nafas sejenak, ini akan sulit. sungguh keras kepala.

“Baiklah, aku akan menemaninya pergi ke konser itu. Jadi kau tidak perlu cemas sesuatu akan terjadi.” Ahjumma menoleh dan menatapku.

“Mwo?.”

“Youngran bilang kau tidak mengizinkannya karena dia pergi sendiri kan? Nah, aku akan menemaninya besok, bagaimana?.” Tawarku penuh harap, ahjumma tampak berpikir.

“Kau punya tiketnya?.”

“Aniyo, aku tidak akan menonton konsernya. Aku hanya mengantarnya dan menunggunya selesai.” Aku mencoba meyakinkannya.

Ahjumma mendengus. “Jangan bodoh Yoona-ya, bagaimana bisa kau diperbudak oleh anak kecil seperti itu?.”

“Aniyo ahjummeoni, aku akan menunggu nya di perpustakaan. Tempat konsernya kan tidak jauh dari perpustakaan Seoul.” Jawabku kembali mencoba meyakinkannya.

Ahjumma terlihat berpikir sejenak, aku diam menunggu jawabannya. Sementara Youngran, aku yakin kini ia sedang mengintip dan menguping dari celah pintu.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Besok kau harus ke café kan?.” Aku berfikir sejenak. Ah aku hampir melupakan pekerjaanku. “Mm. aku bisa mengambil shift malam.”

“Baiklah, lakukan sesuka kalian. Toh aku juga yakin Youngran akan nekat pergi walaupun aku melarangnya.” Pasrah ahjumma, ia kembali memfokuskan diri pada bukunya.

“Jeongmal? Ah gomawo ahjummeoni.” Aku memeluknya erat. Dapat kudengar samar-samar Youngran menjerit tertahan di dalam kamar.

 

***

 

Chanyeol POV

Ah, aku rasa aku benci hari minggu. Aku memang aneh, orang- orang menantikan hari libur. Dimana mereka bisa menepi sesaat dari kegiatan mereka sehari-hari. Tapi aku? Aku lebih suka hari sibuk seperti biasanya. Karena apa? Karena di hari libur, aku tidak bisa melihatnya. Ya, melihat gadis itu.

Aku duduk malas disofa ruang keluarga. Sungguh, tidak ada satupun acara televisi yang menarik, bisa-bisa aku mati karena bosan! Terdengar suara ricuh dari arah tangga yang kuyakini ditimbulkan oleh Minhwa, adikku.

Aku menoleh, Dia berjalan cepat menuruni tangga. Tidakkah dia pikir bahwa dia hanya punya satu nyawa? Dan sekarang apa? Dia jelas-jelas berdandan hari ini, memangnya dia mau kemana?

“Eommaa.” Panggilnya berisik. Aku mengalihkan pandanganku pada remote ditanganku dan kembali menekan-nekannya asal.

“Eomma baru ingat, Kim Seohoon sedang mengambil cuti ke pulau Jeju. Jadi dia tidak bisa mengantarmu ke konser itu.” Suara eomma samar-samar terdengar dari ruang makan.

“Mworago?.” Teriak Minhwa yang berasal dari ruang makan juga. “Aaa. Eottokhae? Konsernya akan dimulai beberapa jam lagi, aku masih harus mengantri untuk masuk ke dalamnya.” Kini kudengar Minhwa mengomel.

“Kau tidak usah pergi saja.” Jawab eomma acuh.

“ANDWEEE!!!.” Aku mengernyit setelah mendengar teriakan Minhwa, dengan malas aku berjalan ke ruang makan.

“Mau bagaimana lagi?.” Jawab eomma saat aku berjalan mengambil air mineral.

“Aku tidak mau, aku ingin pergi. Eomma, aku sudah punya tiketnya. Juga lightsticknya, dan yang lain-lainnya juga.” Rengek Minhwa dengan suara seperti biasanya jika dia menginginkan sesuatu.

“Sudahlah lupakan.” Eomma kini mulai tak peduli.

“Aku bisa naik bis, sungguh!.” Minhwa mulai meyakinkan eomma.

“Kau gila? Appa mu akan membunuhku jika dia tahu aku membiarkanmu naik bis! Cukup kakakmu saja yang membuatku migrain karena setiap hari naik bis!.” Tolak eomma sembari mendelik kearahku. Aku hanya mengangkat bahu dan melanjutkan acara minumku.

“Aku tidak mau tahu, aku ingin pergi ke konser ituuu.” Rengeknya semakin kencang.

“Aissh, dasar keras kepala! Tidak ada yang bisa kulakukan yah kecuali.” Eomma menggantungkan ucapannya lalu menoleh kearahku, Minhwa ikut menatapku. Dan perasaan ku mulai tidak enak. “Chanyeol, kau antar Minhwa. Lalu tunggu sampai konsernya selesai dan bawa gadis cerewet ini pulang tanpa goresan sedikitpun!.” Perintah eomma. Aku terbelalak, sontak aku tersedak dan menghentikan acara minum air mineralku.

“Ani! Ani!.” Tolakku sembari melambai-lambaikan tanganku.

“Ayo cepat kalian pergi, aku mulai pusing sekarang!.” Eomma memegangi kepalanya lalu berjalan keluar dari dapur.

“Oppa ayoo.” Minhwa mengeretku keluar rumah. Aku hanya pasrah karena memang tidak ada cara lain untuk menolak.

 

***

 

“Oppa yakin akan menunggu disini? Disebelah sana ada café. Kau bisa menunggu disana.” Minhwa turun dari motorku lalu jarinya menunjuk ke sebuah café.

“Sudahlah kau masuk kesana! Kau tahu? Kau berisik sekali. Bagaimana bisa ada manusia seberisik kau?.”

Minhwa hanya memeletkan lidahnya lalu berjalan mundur sembari melambaikan tangannya. Ah, jika saja dia bukan adikku. Untuk apa aku sibuk- sibuk datang ke tempat konyol ini.

Banyak sekali manusia disini, aku tidak begitu suka. Dimana-mana warna biru. Ah aku tahu, ini kan fandom terbesar di Korea. Aku memperhatikan sekeliling. Ada halteu tidak jauh dari sini, aku jadi ingat saat aku bertemu gadis itu pertama kali. Ada bis berhenti di halteu tersebut, entah mengapa aku jadi begitu berharap gadis itu akan keluar dari sana. Menyadari khyalanku kian menggila, aku hanya tersenyum miris sembari terus memandangi bis yang sudah siap akan pergi lagi. Tapi tunggu, mata itu, kaki itu, tubuh semampai itu, dan rambut coklat pekat itu. Aku mengenalnya! Aku berkedip beberapa kali untuk memastikan ini bukan halusinasi. Ya, dia adalah gadis itu. Dia berjalan menuju kearahku dan menggandeng seorang gadis yang sepertinya seumuran dengan Minhwa. Aku terdiam, tanpa disadari mulutku menganga. Gadis itu kini memakai celana jeans dan kaos putih. Rambutnya tergerai indah seperti biasanya. Cantik, cantik sekali.

Tapi, apa yang dia lakukan disini? Apa dia akan menonton konser?

Gadis itu berhenti tidak jauh dari tempatku.

“Aku akan ke perpustakaan. Jika sudah selesai, telepon aku ne?.” Telingaku berdenging, ini pertama kalinya aku mendengar suaranya. Suaranya sangat lembut, seperti beludu yang menggelitik telingaku.

“Ne eonnie, terimakasih banyak. Aku menyayangimu.” Jawab gadis yang datang bersamanya lalu memeluk si gadis halteu. Apa dia adiknya? Sepertinya begitu.

“Ne cheonma, aku juga menyayangimu. Sekarang bersenang-senanglah!.”

Adik gadis itu tersenyum sembari melambai kepada si gadis halteu. Aku jadi teringat cara Minhwa tadi. Tapi adik gadis itu menyadari tatapanku, dia berhenti melambai lalu menatapku tajam. Sialan! Sedari tadi aku memperhatikan mereka. Dan sekarang, aku tertangkap basah. Bagus sekali Park Chanyeol! Aku segera mengalihkan pandanganku sembari menahan nafas. Lama-lama aku tidak tahan dan akhirnya melirik ke tempat gadis itu lagi, tapi gadis itu kini sudah menghilang. Kemana dia? Perpustakaan kah?

Tanpa pikir panjang aku segera memakai helm ku dan melajukan motorku ke perpustakaan Seoul. Aku yakin gadis itu pasti pergi kesana. Hanya perpustakaan itu yang jaraknya dekat dari tempat ini.

 

***

 

Aku mengedarkan pandanganku ke setiap sudut tempat ini. Dimana gadis itu? Aku menyusuri tiap ruang baca yang ada di perpustakaan ini. Tapi nihil, dia tidak sedang duduk disalah satu kursi yang disediakan.

Kakiku mulai melangkah menapaki tiap ubin putih yang berlapis debu-debu dari setiap alas sepatu orang-orang yang berjalan. Mataku dengan jeli mengamati lorong-lorong dengan dinding lemari-lemari buku yang tingginya melebihi dari tinggi badanku tanpa kulewatkan satu celah sedikitpun. Aku berjalan melewati deretan buku-buku sejarah, lalu bersambung pada deretan buku-buku musik, kemana gadis itu? Aku mendesah tak bersemangat. Benarkah gadis itu datang ke perpustakaan ini?

Aku beranjak dari deretan buku-buku tentang musik itu, kini beragam judul buku tentang politik berderet rapi di samping kiri dan kananku. Aku melirik malas buku-buku itu dan terus berjalan.

Kuhentikan langkahku ketika kulihat siluet seorang gadis tengah berdiri dihadapan satu lemari buku tidak jauh dari tempatku berdiri. Matanya bergerak mengikuti arah telunjuk tangannya mencari sebuah judul buku. Aku tak tahu buku apa yang ia cari. Yang aku tahu, dia .. Gadis itu. Banyak gadis berambut panjang diperpustakaan ini, tapi aku yakin itu dia.

Tanpa kusadari kakiku telah melangkah menuju sisi lain dari lemari buku itu. Aku berhenti tepat dihadapannya. Siluet gadis itu terlihat dari balik lemari dihadapanku. Aku menyadari satu hal, ia tengah mencari sebuah novel. Yang ku ketahui dari beragam judul cerita cinta yang ada dihadapanku.

Tangan gadis itu terulur meraih satu buku dihadapannya, disadari atau tidak tanganku juga melakukan hal yang sama hingga kini dengan jelas aku bisa melihat wajahnya. Gadis itu nampak terkejut melihatku. Tapi aku? Kurasa aku gugup. Apa yang harus kulakukan?

“H-haii.”

 

To be continued >>

7 thoughts on “In Your Eyes (Chapter 1)

  1. annyeong^^ aku reader baru nih,, salam kenal😉
    ffnya bagus, kata2nya keren.. feelnya dapet bgt! apalagi castnya yoona ama chanyeol hehe
    chanyeolnya disini lucu bgt gitu haha😄
    Fighting ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s