I’ll Hide

Gambar

Title : I’ll Hide

Author : Mickeymo125

Main Cast : Kwon Yuri || Choi Minho

Genre : Angst, Romance

Rating : PG-13

Length : Oneshot

Disclaimer : Alir/plot asli milik saya. Cast milik Tuhan dan mereka sendiri. FF ini re-post dari Flamingpearls Kingdom Contest.

Don’t be Plagiator & Silent Reader!!!

***

“Menyebalkan!.” Aku langsung memasukkan ponselku dengan kasar ke saku jaket tebalku, dan berjalan kesal menuju mobilku di pinggir jalan.

Setelah dua jam aku duduk ditaman ini, menunggunya dengan masker dan kacamata yang menutupi wajahku, juga memakai jaket tebal. Apa dia tidak memikirkan keadaanku? Orang-orang yang melihatku pasti sudah menganggapku orang bodoh, menggunakan jaket tebal di musim panas seperti ini. Dan apa dia tidak tahu? Bahkan keringat sudah membanjiri pelipisku ini karena kepanasan menunggunya selama dua jam ini.

Tapi, dengan mudah dia hanya mengirimuku pesan singkat dan membatalkan janji begitu saja. Sungguh menyebalkan!

Dia pikir menunggu itu hal yang mudah huh?

Dengan kasar kututup pintu mobilku. Dan langsung melepaskan embel-embel yang mengganggu ditubuhku ini. Jika bukan karena janji bertemu dengannya, aku tidak akan mau memakai jaket tebal di musim panas seperti ini, dan  memakai masker seperti orang yang sedang terkena flu.

Aku langsung menginjak pedal gas mobilku menuju apartemen layaknya pembalap.

***

Klik .. Klik .. Beeppp .. Aku langsung masuk begitu pintu apartemen terbuka dan langsung menuju kamarku, tanpa memperdulikan panggilan-panggilan member lain yang mungkin .. heran melihat tingkahku?

Aku langsung merebahkan badanku ke ranjang, lalu sedetik kemuadian ku raih ponselku didalam saku jaketku.

 

From : Choi Minho

Mianhae noona, sepertinya janji kita harus tertunda, tadi ada seorang fans yang menyadari penyamaranku dan terpaksa aku harus kembali. Noona tidak akan marah kan?

 

Huh? Marah? Jika aku marah memangnya kenapa? Kau bahkan tidak menanyakan kabarku yang menunggumu! Apa aku tidak boleh marah huh?

Kusimpan ponselku dengan kasar ke laci meja disamping ranjangku, lalu mencoba tidur dengan posisi menelungkup dan menaruh bantal diatas kepalaku, mencoba untuk tidur dan melupakan hal-hal yang mungkin bisa membuatku frustasi.

“Yul?.” Panggil seseorang yang kuyakini itu suara Yoona.

“Hm?.” Jawabku tanpa mengubah posisi.

“Kau baik-baik saja?.” Tanyanya penasaran.

“Ne.” jawabku singkat, dapat ku dengar Yoona membuang nafas berat mendengar jawabanku itu.

“Apa ada yang ingin kau bagi padaku?.” Tanyanya lagi, sekarang kurasa Yoona sudah duduk diranjangku.

Aku langsung membalikkan posisiku dan duduk menghadapnya.

“Kau tahu? Dia membatalkan janjinya lagi.” Jawabku tak percaya.

“Biar kutebak, apa karena kepergok fans?.” Tebaknya, dan binggo! Tebakannya tepat sekali.

“Hm, begitulah.” Jawabku malas sambil mengubah posisiku menjadi berbaring, menatap kosong langit-langit kamar. Lalu, Yoona mengikutiku, berbaring disampingku dan menatap langit-langit kamar.

“Mungkin Minho sedang berusaha mempertahankan hubungan kalian Yul .. Kau tahu kan jika media ta….”

“Mempertahankan? Dengan membuatku menunggu kepanasan dengan jaket tebal di musim panas selama dua jam, apa itu bisa dibilang mempertahankan?.” Aku langsung memotong ucapannya sambil menggerutu kesal.

“Yul .. Minho hanya tidak ingin jika nanti hubungan kalian diketahui media, dan jika itu terjadi, kau tahu kan apa yang akan dilakukan pihak agency nanti?.” Jawabnya mencoba menenangkanku. Ah Yoona, dongsaeng ku yang satu ini selalu saja bisa menenangkanku.

“Tapi Yoong..”

“Sudahlah, ayo berfikir positif Yul.” Sarannya.

“Hm, baiklah.”

“Yasudah, ayo kabari dia, tadi dia menelponku dan menanyai keadaanmu.” Titah Yoona.

“Jeongmal?.” Aku langsung membuka laci meja dan mengambil ponselku. Dan benar saja beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Minho, semua pesannya berisi permintaan maaf padaku.

Apa aku terlalu egois padanya? Ah aku tidak tahu…

Dengan cepat kutulis pesan singkat untuk membalas pesannya.

To : Choi Minho

Ne, aku tidak marah .. Jangan khawatir, kita masih bisa bertemu lain waktu.

 

***

Hari ini aku dan semua member SNSD lainnya kecuali Yoona menjadi tamu di acara show SBS Star King, hal ini membuatku sangat senang tentunya hal seperti ini jarang terjadi, jika bukan show kami sendiri pasti kami tidak akan menghadiri acara show serempak seperti ini, dan seperti biasanya Minho juga menjadi salah satu bintang tamu di acara tersebut. Intinya, mood ku sangat baik hari ini, malahan super sangat baik.

Akhirnya kita dapat bertemu Mr. Choi.

Setelah masuk stage, aku melihatnya duduk diantara para namja tampan lainnya, tapi dia berbeda, dia lebih tampan dari biasanya, apa karena sudah lama tak bertemu wajahnya jadi terasa sedikit berbeda dimataku? Haha. Atau itu memang hanya pandanganku saja? Ah aku tidak peduli, yang penting dimataku Minho lah namja tertampan.

Aku duduk sangat jauh dengannya. Huh? Kenapa tidak duduk disampingya? Ah tuhan, mengapa aku jadi kekanakan begini? Sabar lah Yul sabar …

Setelah acara dimulai, aku selalu mencuri-curi pandang padanya, tapi dia? Tidak melirikku sedikit pun, apa dia benar-benar ingin menutupi hubungan kami, huh menyebalkan!

Lamunanku pecah saat MC Kang Ho Dong mengadakan segmen dimana seseorang disuruh untuk memilih salah satu dari kami para member SNSD sebagai yeoja idamannya. Dan betapa terkejutnya aku, namja yang disuruh adalah … Minho?

Baiklah, ayo biarkan segmen ini berjalan dengan baik dan menutup pikiran burukku pada Minho.

Choi Minho, kau pasti memilihku kan?

Tak kusadari bibirku menyunggingkan sebuah senyuman. Ya.. senyuman penuh percaya diri seakan aku sudah tahu apa yang akan terjadi.

Dan segmen pun dimulai.

“Sooyoung atau Taeyeon?.” Tanya MC Kang.

“Hmm..” Minho tampak bingung untuk memilih.

“Taeyeon.” Jawabnya.

“Yuri atau Jessica?.” Tanya MC Kang lagi.

Aigoo, kenapa hatiku berdebar tak karuan.

“Yuri.” Dengan gampang dia menyebut namaku. Saat itu juga aku rasa jantungku ingin melompat keluar saking senangnya. Ahhh, entah berapa banyak kupu-kupu yang berterbangan dihatiku sekarang.

“Seohyun atau Tiffany?.” Tanya MC Kang selanjutnya.

“Seohyun.” Jawabnya setelah berfikir lumayan lama.

“Sunny atau Hyoyeon?.”

“Hmm .. Sunny.” Jawabnya.

“Selanjutnya, Yuri atau Sunny?.” Tanyanya MC Kang.

“Yuri.” Jawabnya dengan mudah lagi. Dan kini aku rasa aku mulai susah bernafas saking senangnya. Kau tahu Choi Minho? Setelah acara ini berakhir, aku akan bersikap manis padamu.

“Seohyun atau Taeyeon?.”

“Seohyun.” Jawab Minho.

Jadi aku melawan Seohyun. Baiklah Minho biarkan semua orang tahu yeoja ideal mu seperti apa.

“Dan terakhir .. Seohyun atau Yuri?.” Tanya MC Kang untuk yang terakhir kalinya.

Aku melirik kearah Minho yang nampak sedikit ragu untuk menjawab. Waeyo Minho-ah kenapa kau lama sekali menjawabnya? Kau akan memilihku kan? Itu pasti!

Hatiku semakin berdebar saat MC Kang Ho Dong dan yang lainnya memojokkan Minho untuk segera menjawab. Ah jantungku, kasihan sekali kau harus bekerja dua kali lipat seperti ini.

“Dan jawabannya adalah ..”

“Hmm, Seohyun.”

Deg! Nugu? Seohyun? Apa Minho salah menyebutkan namaku? Kenapa Seohyun? Saat itu juga hatiku mencelos, rohku rasanya turun sampai ke betis, aku rasa aku ingin sekali menampar Minho sekarang saking kesalnya.

MC Kang Ho Dong langsung menyuruh Seohyun untuk duduk disamping Minho, aku langsung menoleh kearah Minho. Ya, kini Seohyun telah duduk disamping Minho.

Dan lagi, Minho dan Seohyun sama-sama tersenyum. Jadi apakah kau senang duduk bersama tipe yeoja ideal mu itu Choi Minho? Apakah kau ingin benar-benar menutupi hubungan kita Choi Minho?

Rasa sesak menghinggapi ku sekarang, ada sesuatu yang mendobrak untuk keluar dibalik mataku. Melihat keadaanku, Jessica yang berada disampingku tersenyum dan mengangguk padaku. Ya aku tahu, itu adalah senyuman semangat untukku. Jessica, kau selalu saja menyuguhkan senyuman manis mu saat aku sedang drop, terima kasih.

Baiklah Choi Minho, jika ini yang kau mau ayo kita lakukan dengan baik. Aku mencoba menarik sebuah senyuman dibibirku, ya walaupun hanya senyum terpaksa. Aku tidak boleh membiarkan sorotan kamera dan orang-orang melihatku bersedih, tidak boleh!

Sampai acara berakhir, aku tidak pernah melirik kearah Minho ataupun Seohyun, aku tak mau melihat pemandangan yang akan menyesakkan hatiku.

Aku langsung segera pulang setelah acara berakhir, untungnya Jessica mau pulang lebih dulu bersamaku karena yang lainnya masih berbincang-bincang dengan artis lainnya di backstage.

“Yul, gwaencaha?.” Tanya Jessica saat kami sudah berada dimobil.

Aku melirik kearahnya sebentar lalu mengangguk setelah itu aku kembali menatap jalanan kota Seoul pada malam hari lewat jendela mobil.

Setelah sampai di dorm pun aku tak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku langsung masuk kamarku dan langsung menutup pintu, aku melempar tas dan ponselku ku keatas ranjang dengan kasar.

“Jika kau ingin benar-benar menutupi hubungan kita, ayo lakukan bersama-sama.” Lirihku sambil melepaskan high heels yang kukenakan dan langsung berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.

***

Kini aku duduk dibalkon kamarku, kebetulan Yoona masih sibuk dengan syuting drama terbarunya dan mungkin pulang larut atau bahkan malam ini dia tidak pulang ke dorm.

Aku sengaja mematikan ponselku dan menutup pintu kamar, sekarang aku hanya ingin sendiri. Ya.. hanya sendiri.

Kutekuk kedua kakiku dan memeluknya, lalu menyandarkan daguku di lututku. Semilir angin malam tak sedikitpun membuatku kedinginan walaupun sekarang tubuhku hanya dibalut kemeja putih sesiku dan hotpants hitam sepaha. Tak kupedulikan rambutku yang kini menari bebas bersama angin malam. Pikiranku kembali terbang ke kejadian di show tadi.

“Dan terakhir .. Seohyun atau Yuri?.”

“Hmm, Seohyun.”

Tak bisa kupungkiri lagi kini aku cemburu, cemburu menyaksikannya lebih memilih yeoja lain sebagai tipe yeoja ideal nya, apalagi yeoja itu, yeodongsaeng ku sendiri. Sakit, ulu hatiku seperti teriris mendengarnya menyebut nama yeoja lain selain diriku, apalagi senyuman menghiasi wajahnya setelah menyebutkan nama itu. aku tidak peduli apa dia terpaksa atau tidak tadi, yang aku pedulikan kini … aku cemburu, benar-benar cemburu.

“Apa aku harus menyalahkan Seohyun?.” Lirihku, rasa sakit yang kurasakan kini telah tak dapat kutahan lagi, pertahananku ambruk begitu saja, aku tak bisa lagi menahan air mataku yang semenjak tadi selalu kucegah untuk mengalir bebas, dan kini tanpa tolakkan dariku lagi, airmataku mengalir begitu saja di kedua pipiku.

“Apa aku salah memilihnya sebagai namja yang kucintai dihidupku?.” Gumamku bermonolog.

“Apa kau tidak menyadari? Pilihanmu tadi menorehkan luka dihatiku Minho.” Lirihku lagi sambil terisak.

Dan sekarang hatiku bertanya-tanya, apa benar dia mencintaiku?

Aku membenamkan wajahku diantara lututku, ingin rasanya aku menangis dan berteriak sekencang mungkin untuk mengeluarkan rasa yang ada dihatiku saat ini, tapi aku sadar, teman-temanku mungkin sedang tidur saat ini, bagaimana jika mereka mendengarnya?

Aku menangis dalam diam. Apa harus sesakit ini?

Janji-janjinya bahwa dia akan selalu mencintaiku, kata demi kata yang selalu dia ucapkan bahwa dia sangat mencintaiku. Apa aku harus meragukannya? Ah tidak, bahkan sekarang aku memang sudah meragukannya.

Apa aku harus tetap bertahan dengan cinta ini?

Berjam-jam merenung dibalkon ini membuatku merasa haus. Aku mengusap airmataku, takut-takut ada member yang menyadariku sehabis menangis.

Ckrekkk. Kubuka pintu kamarku perlahan. Gelap?

“Mereka pasti sudah tidur.” Dengan pelan aku melangkah menuju dapur. Langkahku terhenti ketika mendengar suara dari balik kamar Taeyeon dan Sunny.

“Apa mereka belum tidur?.” Batinku, aku mengintip sedikit ke kamar duo danshin itu yang kebetulan pintunya sedikit terbuka, kulihat mereka masih asyik mengobrol bersama. Hmm, aku jadi merindukan Yoona. Kucoba tutup pintu kamar mereka sebelum mereka menyadari keberadaanku, belum sepenuhnya aku menutup pintu, kudengar Sunny mulai angkat bicara.

“Aku heran kenapa tadi Minho memilih Seohyun?.” Tanya Sunny dengan suara khasnya. aku mengurungkan niatku untuk menutup pintu.

“Minho?.” Kuakui, aku sedikit tertarik dengan obrolan mereka, kubuka lagi pintu itu sedikit agar dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.

“Sebenarnya .. tadi, aku yang menyuruhnya memilih Seobaby.” Jawab Taeyeon pelan.

Deg! Jadi? Taeng yang menyuruh Minho, tapi kenapa?

“Waeyo? Kau tahu, mungkin karena hal itu Yuri pulang mendahului yang lain dan mengurung diri di kamar.”

“Ya menurutku begitu, aku hanya kasian pada Seobaby dan kurasa mereka harus saling tak memberi kode pada media, kupikir Yuri akan mengerti dan menganggap ini semua hanya permainan.” Jawab Taeyeon.

Mwo? Permainan? Apa kalian pikir hubunganku dengan Minho juga permainan? Teman macam apa kalian?

Kini airmataku mengalir begitu saja, apa mereka tidak memikirkan perasaanku? Apa mereka hanya kasian pada Seohyun? Apa mereka tidak kasian padaku yang sudah beberapa hari tidak bertemu dengan namjachinguku sendiri? Kalian tega.

“Yul?.” Kurasakan seseorang memegang pundakku. Aku langsung terlonjak kaget dan meliriknya. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena ruangan ini gelap, tapi aku tahu suara itu, itu suara milik ..

“Yoona?.” Pekikku kaget.

“Kau melihat apa?.” Tanyanya penasaran.

“Ani, kau sudah pulang?.” Tanyaku pelan lalu berjalan melewatinya dan menuju kamar lagi, bahkan aku lupa tujuanku tadi keluar kamar.

Aku mengusap airmataku beraharap tadi Yoona tak menyadari aku sehabis menangis. Aku langsung merebahkan badanku ke kasur dan menutupi tubuhku dengan selimut dari ujung kaki sampai kepalaku.

“Ada masalah?.” Tanyanya setelah mengunci pintu dan kurasakan dia naik keranjangku.

Aku mengabaikan pertanyaannya, airmataku tak berhenti mengalir dipipiku, pikiranku kembali larut pada kejadian tadi dan perkataan Taeyeon.

Jadi siapa yang harus kusalahkan? Minho atau Taeyeon? Aku tahu sekarang, Minho hanya disuruh untuk memilih Seohyun tapi kenapa dia lebih mengikuti perintah Taeyeon? Kenapa dia tidak mengikuti kata hatinya?

“Yul?.” Panggil Yoona lagi.

Srett. Dengan sekali gerakan Yoona menarik selimut yang menutupi tubuhku, dan sekarang aku benar-benar tertangkap basah sedang menangis.

“Yul? Apa yang terjadi?.” Tanya Yoona khawatir sambil menarikku kedalam pelukannya.

“Yoong?.” Isakku dipelukannya.

“Menangislah Yul jika kau mau, aku disini.” Ucapnya sambil menepuk-nepuk punggungku.

Aku tak dapat berbuat apa-apa lagi, dalam pelukannya airmataku selalu tak dapat kutahan lagi, hanya dalam pelukannya aku dapat menumpahkan semuanya.

“Kau boleh bercerita setelah kau merasa tenang Yul.” Ucapnya.

***

Sinar matahari yang menorobos masuk kedalam kamarku serasa menusuk-nusuk mataku yang masih terkatup dan memaksaku untuk bangun dari tidur nyenyakku. Rasanya enggan untuk membuka mataku sekarang, masih ingin lebih lama untuk berjalan-jalan menyusuri alam mimpiku, tapi apa daya matahari sepertinya enggan melihatku masih bermalas-malasan di ranjangku ini.

Kulihat jam weker di meja samping ranjangku yang menunjukkan pukul 7 pagi. Sangatlah kurang waktu untukku tidur, mengingat semalam aku bercerita pada Yoona sampai jam 2 pagi.

Jika tidak karena merasa kasihan pada perutku ini yang selama semalaman terus menggerung-gerung minta diisi, mungkin aku lebih memilih menentang matahari dan kembali berbaring diranjangku hari ini, ya kapan lagi memiliki hari free tanpa rentetan schedule yang menuntut ku melakukannya.

Mataku yang sudah terbuka sempurna menyusuri setiap sudut kamar ini, tak kutemukan sosok Yoona yang semalaman dengan setia mendengarkan isi curhatan hatiku. Apa dia sudah pergi?

Aku menggeliat dan merentangkan kedua lenganku, kemudian bangkit dan langsung mengambil handuk dan berjalan malas kearah kamar mandi.

***

“Yuri-ah? Waktunya sarapan.” Seru Sunny dipintu kamar ketika aku sedang membereskan ranjangku.

“Ne, duluan saja.” Jawabku pelan lalu menyelesaikan pekerjaanku ini dan berjalan keluar.

“Yuri-ah? Matamu sembab?.” Tegur Tiffany saat berpapasan denganku menuju ruang makan.

“Hm? Mungkin karena kurang tidur, kau tahu kan jika Yoona ada didorm? Kami akan bergadang semalaman.” Bohongku.

“Don’t lie Yuri! Aku sudah mengenalmu sejak lama.” Ucapnya dan menghentikkan langkahku.

Huh pasti ketahuan berbohong. Selain Yoona, aku paling tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Tiffany.

“Ikut aku.” Ajaknya sambil menarikku kekamarnya.

“Biar kutebak! Karena Minho?.” Tanyanya hati-hati. Setelah kami berdua berada dikamarnya dan mengunci pintu kamar.

Aku hanya mengangguk pasrah mengiyakan pertanyaannya tadi.

“Ayo duduk.” Pintanya sambil mendudukkanku di depan meja riasnya.

“Kau mau apa?.” Tanyaku bingung.

“Tentu saja menutupi mata sembabmu, aku tahu kau pasti tidak mau melihat member lain melihatnya kan?.” Tanyanya sambil mengoleskan krim di wajahku, tepatnya di area mataku dan pipiku.

Aku terdiam mematung melihatnya memperlakukanku dengan lembut.

“Tiffany?.” Panggilku sesaat setelah ia merapikan krim diwajahku dan sekarang wajahku terlihat seperti biasa. Benar-benar tak terlihat seperti sehabis menangis semalaman.

“Hm?.” Sahutnya sambil menyisiri rambutku yang sedikit berantakan karena tadi aku asal menyisirnya.

“Gomawo, kau sangat mengerti aku.” Ucapku sambil menatapnya nanar.

“Ani, jangan menangis lagi Yuri .. Aku benci melihatmu bersedih! Sekarang tersenyumlah!.” Pintanya. Dan aku menurutinya walaupun masih dalam keadaan terpaksa.

“Aku menyayangimu.” Ucapnya sambil memelukku erat, aku membalas pelukannya. Selain pelukan Yoona, pelukan Tiffany lah yang membuatku nyaman dan pelukan mereka seolah memberiku semangat.

“Ayo ke ruang makan, mereka pasti sudah menunggu.” Ajaknya setelah melepas pelukannya dan menarikku.

Dan benar saja semua semua member yang lainnya telah berkumpul diruang makan, menunggu sang koki menghidangkan sarapan pada mereka, menggerutu manja pada sang koki Hyoyeon karena makanan belum juga terhidangkan.  Biasanya, aku akan duduk diantara Jessica dan Seohyun, tapi sekarang .. Hm, lebih baik aku duduk dikursi Yoona, diantara Sooyoung dan Tiffany. Aku belum terlalu siap untuk berinteraksi dengan Seohyun.

“Yul? Kenapa tidak duduk disini?.” Tanya Jessica heran, pertanyaannya membuat semua member mengalihkan pandangan mereka padaku.

“Iya eonnie, kenapa duduk dikursi Yoona eonnie?.” Sambung Seohyun.

Aigoo, bagaimana aku menjawabnya jika karena aku malas duduk dekat Seohyun.

“Aku yang menyuruhnya.” Sahut Tiffany. Aku langsung melongo kearahnya.

“Kalian tahu aku sedang diet? Tidak ada Yoona disini, jadi nanti siapa yang mau membantuku mengabiskannya? Yuri kan shikshin ketiga.” Jelas Tiffany yang menyadari guratan tanda tanya di wajah para member.

“Bukankah ada aku?.” Sambung Sooyoung.

“Kalau kau, nanti bukan membantuku tapi malah menghabiskan semuanya.” Cibir Tiffany.

Semua member tertawa mendengar apa yang dikatakan Fany, ya itu memang benar, Youngie pasti malah akan menghabiskan semuanya. Hahaha.

***

Setelah selesai makan, aku kembali masuk ke kamarku, sungguh malas melakukan aktivitas apapun, dan untungnya hari ini aku free.

Aku mengambil ponsel diatas meja samping ranjangku sambil rebahan diatas ranjang.

Apa aku harus mengaktifkannya?

Semalaman aku sengaja menon-aktifkan ponselku, entah kenapa, aku hanya malas berkomunikasi dengannya, ya siapa lagi jika bukan Minho.

“Baiklah, kita lihat apa dia mengkhawatirkanku.” Seruku sambil mengaktifkan ponselku.

Belum sampai satu menit ponselku kembali aktif, sudah berpuluh-puluh rentetan pesan dari seseorang untukku.

“Minho.” Gumamku tak sadar.

Hatiku yang telah berbunga-bunga setelah tahu bahwa dia mengkhawatirkanku langsung musnah seketika setelah melihat satu persatu pesannya.

“Kau hanya mengkhawatirkanku karena semalaman aku tidak mengabarimu, tapi .. tak ada satupun pesan kau menanyakan keadaanku setelah show kemarin? Huh, menyebalkan!.” Gerutuku kesal, langsung saja aku menindih ponselku dengan bantal.

“Menyebalkan! Menyebalkan!.” Kesalku sambil memukul-mukul bantal itu.

Drrtt .. Drrtt .. Tiba-tiba ponselku bergetar panjang, aku langsung mengangkat bantal itu dan terlihat sebuah panggilan dari seseorang yang selalu membuatku kesal sekaligus seseorang yang selalu aku rindukan.

Apa aku harus mengangkatnya?

Kutimang-timang ponselku, antara bimbang dan ragu. Sejujurnya aku masih sangat kesal padanya yang untuk beberapa saat dia tidak menyadariku dan juga posisiku sebagai yeojachinganya kemarin, tapi disisi lain .. aku sungguh merindukannya, merindukan suara bass nya itu. Seharusnya kemarin kami bisa berbicara untuk sekedar melepas kerinduan, tapi sayangnya dia malah membuatku kesal, marah dan cemburu!

Dia kan tidak salah Yuri! Dia hanya disuruh, ingat itu! Baiklah untuk saat ini, rasa rinduku bisa mengalahkan rasa kesalku padanya.

Kuangkat panggilan itu sebelum mati karena aku tidak juga menjawabnya, kutempelkan poselku di telinga.

“Yeoboseyo?.” Ucap seseorang diujung telepon sana. Untuk sesaat mungkin aku bisa melupakan kejadian kemarin karena suara bass nya itu yang memancarkan rasa kekhawatiran besar padaku.

“Yeoboseyo chagi?.” Lanjutnya lagi karena aku belum mengeluarkan sepatah katapun.

“Hm?.” Aigoo, kenapa hanya itu yang bisa keluar dari mulutku? Kau bodoh Yuri-ya! Kenapa tidak menyapanya!

“Chagi-ya, kau membuatku khawatir.”

Tuh kan! Dengarlah Yuri! Dia begitu mengkhawatirkanmu! Kenapa kau begitu dingin padanya?

“Hm, mianhae.”

“Chagi? Kau kenapa? Apa kau sakit?.” Tanyanya lagi kini dengan nada yang sedikit menuntutku untuk menjawabnya.

Walaupun aku ingin sekali untuk menjawab aku baik-baik saja dan dia jangan terlalu mengkhawatirkanku, tapi sekelebat bayangan kejadian kemarin menghinggapi pikiranku lagi, seolah merobohkan kata demi kata yang telah kususun untuk menjawab pertanyaannya itu.

“Aku sakit, kita bicara nanti saja, aku mengantuk.” Jawabku datar dan langsung menutup teleponnya.

Ahh ada apa aku ini? Kenapa kata itu yang keluar dari mulutku? Ah sudahlah, lagipula mungkin dia akan menghubungi ku lagi.

Kutunggu beberapa saat berharap dia menghubungiku kembali. Tapi sudah hampir setengah jam dia tidak juga menghubungiku. Biasanya jika aku bersikap dingin padanya, dia akan terus bertanya alasanku bersikap seperti itu, tapi kenapa sampai sekarang belum ada panggilan lagi? Apa dia tidak peduli padaku yang marah padanya? Atau jangan-jangan dia tidak menyadari bahwa aku sedang marah padanya? Tapi kurasa ucapanku tadi menunjukkan aku marah padanya.

Sebenernya sekarang aku yang bodoh atau dia yang tidak peka? Huh, aku bisa gila memikirkannya.

“Heh namja babo! Seharusnya kau menghubungiku kembali dan bertanya padaku kenapa aku bersikap seperti itu padamu!.” Gerutuku pada layar ponselku yang menampakkan fotoku bersamanya ketika di backstage beberapa minggu lalu.

***

Saat ini aku dan Sunny sedang dalam perjalanan menuju tempat syuting Invicible Youth untuk episode ke enam. Aku bertekad, hari ini aku harus bersenang-senang bersama teman-teman lainnya, aku tidak mau harus terus dibayangi perasaan cemburu, kesal atau yang lainnya.

Kemarin Yoona bercerita padaku, katanya Minho bertemu dengannya dan Minho bilang dia sangat mengkhawatirkanku, bohong jika aku tidak merasa bersalah setelah mendiamkannya hampir seminggu hanya karena segmen di Starking itu.

Kuakui aku pun sangat merindukannya, sudah lebih dari seminggu kami tak bertemu dan selama seminggu itu juga kami lepas kontak. Aku juga bingung kenapa dia tidak menghubungiku, apa dia sibuk? Tapi biasanya sesibuk apapun Minho, dia pasti sesekali mengecek keadaanku atau hanya sekedar mengingatkanku waktu makan. Tapi sekarang? Sudah satu minggu, aku tidak pernah mendengar suara bassnya lagi, aku tidak mendengar celotehannya lagi karena aku lupa waktu makan, aku tidak mendengar rengek manjanya yang meminta bertemu. Dan tanpa semua itu sekarang hari-hariku terasa sangat hampa. Hey… Yuri, kenapa kau jadi serba salah seperti ini?

Pernah sesekali aku mencoba menghubunginya tapi sayangnya ponselnya tidak aktif, jadi hingga saat ini aku tidak pernah berani menghubunginya lagi. Jujur, aku merasa gengsi. Dimana-mana seorang namja yang akan menghubungi terlebih dahulu yeoja nya.

Dan sekarang aku semakin sadar, semua itu bukan salah Minho, aku tidak pantas mendiaminya sampai seperti ini, kurasa aku menyiksanya, eh tidak .. bahkan aku menyiksa diriku sendiri. Aku rasa kini aku sangat…. Kekanak-kanakan.

Andai kata nanti Minho menghubungiku, aku janji aku akan minta maaf padanya atas semua sikapku padanya, aku rela harus menyembunyikan hubungan kami ini, asalkan aku tetap bisa bersamanya, karena tanpanya, sekarang aku lupa cara bagaimana tersenyum, aku lupa bagaimana cara tertawa, bahkan tanpanya lidahku selalu kelu sekedar untuk mengobrol bersama para member.

Minho, aku hanya ingin kau menghubungiku, tidak lebih .. Setelah itu aku akan mencoba memperbaiki sikapku padamu.

Tak terasa aku dan Sunny sudah sampai ditempat tujuan, oke Yuri jangan tunjukkan kesedihanmu pada orang lain, apalagi nanti kau akan mendapatkan sorotan kamera, jadi .. FIGHTING!

Aku dan Sunny turun dari mobil, seorang kru dari acara IY ini sudah berada dihadapanku dan Sunny saat kami turun dari mobil, ia membawa sebuah keranjang yang sudah berisi beberapa ponsel dari member G7.

Aku merogoh saku jaketku dan mengambil ponselku. Aku meliriknya sebentar, kuharap dia menghubungiku nanti.

Akupun menaruh ponselku ke keranjang itu, begitu juga dengan Sunny.

***

Waktu berjalan terasa sangat lambat, sudah lebih dari 15 menit, ah tidak mungkin sudah hampir setengah jam aku berada disini, tapi aku tidak sedikitpun merasa lebih baik, aku mengingkari tekadku tadi, kupikir bersama para member G7 dan para host aku akan bisa sejenak melupakan bayang-bayang nya, tapi ternyata aku salah! aku bahkan tidak bisa tertawa lepas seperti para member G7 lainnya, senyum pun hanya sebatas senyum tak berarti yang sedari tadi tersungging dibibirku ini. Lelucon para member G7 bahkan terasa biasa bagiku, sulit untuk membuka mulutku ini dan tertawa renyah seperti yang selalu kulakukan saat mereka melakukan aksi lucu yang selalu bisa menggelitik kerongkonganku untuk membuka mulutku lebar-lebar. Tapi sekarang? Untuk sekedar tersenyum pun aku harus sedikit berdusta. Ini bukan dirimu Yuri!

Dan sekarang semakin kusadari bahwa … segala tentangnya selalu akan bisa menyita pikiranku!

Aku tersadar dari lamunanku ketika semua orang disini berseru memanggil seseorang dengan sebutan ‘Ho’.

“Ho?.” Bingungku.

“Choi Min Ho.” Gumamku pelan.

Yuri? Kurasa kau memang benar-benar tak bisa melepaskan pikiranmu darinya!

Aku langsung mengikuti arah pandangan mereka. Dan dari arah belakang ShinYoung eonnie muncul seorang namja berperawakan tinggi.

“Omo? Minho?.” Kagetku dan semuanya.

Ya Tuhan, semoga ini bukan mimpi .. akhirnya aku bisa melihatnya dengan senyum yang sedari tadi selalu tersungging di bibirnya itu. Dia tampak sedikit berbeda, dia .. dia terlihat sangat tampan dengan karismanya itu, dan aku sangat sangat merindukan karismanya itu.

Minho, apa kau juga merindukanku? Huh Yuri, kau fikir dia bukan namjachingumu? Tentu saja dia juga merindukanmu, atau mungkin tidak …

Pandanganku tak pernah sedikit pun terlepas darinya, dan saat pandangan kami bertemu dia tersenyum padaku, senyum yang selalu membuatku bisa luluh. Aku bahkan hampir lupa kapan terakhir dia tersenyum kepadaku.

Aku membalas senyumannya dengan senyuman paling manis yang pernah tersungging dari bibirku, aku harus bisa memperbaiki hubungan kami dan hari ini aku harus bisa menarik perhatiannya!

Aku terkejut saat seseorang menarik ku kebelakang.

Demi apapun siapapun yang menarikku ini, dia adalah orang paling menyebalkan di dunia.

“Aaaaa” Kagetku spontan dan tertarik kebelakang.

Uhh, Tae Woo oppa? Menyebalkan!

Aku menyembunyikan senyum ku yang telah berubah menjadi senyum kecut dengan tawa ringan. Kulihat Minho juga tertawa, dan itu membuatku tersenyum lega. Kapan terakhir kali aku membuatnya tertawa? Haha.

Baiklah Yuri, buat dia tersenyum dan tertawa seperti dulu lagi. Kau harus menarik perhatiannya! Ajja ajja fighting ~!

Aku kembali melakukan lelucon-lelucon yang membuat semua tertawa termasuk Minho tapi sayangnya Taewoo oppa selalu saja menjahiliku. Apa sih maunya?

Dan beberapa menit kemudian, ada segmen dimana Minho harus memilih diantara member G7 serta Shinyoung eonnie sebagai yeoja idealnya.

Segmen ini lagi? Baiklah Yuri, apapun yang terjadi, sekarang kau harus menang!

“Yoochiri’s Popularity Contest.” Seru para host.

Dan setelah Shinyoung eonnie menjelaskan cara mainnya, segmen pun dimulai.

“Hyomin vs Hyuna?.” Aku hanya bisa melihatnya dari belakang, karena Taewoo oppa selalu menarikku jika aku berada didepan.

Kulihat, Minho mendorong Hyomin sambil berkata maaf. Artinya dia memilih Hyuna.

“Hara vs Narsha?.”

Kurasa Minho akan memilih Hara, karena sebelumnya Minho pernah memilih Hara di acara show lain.

Dan beberapa detik kemudian Minho mendorong Hara pelan, Minho memilih Narsha?

“Sunny vs Sunhwa?.”

Aku mengendap-endap berjalan kebelakang, dengan hati-hati aku sedikit menjauh dari mereka. Aku mengeluarkan lip ice di saku jaket ku dan mengolesnya sedikit dibibirku. Ya,, harus kusadari, kini aku memang bertindak genit.

Dengan sedikit terburu-buru aku memasukkannya lagi ke kantongku dan berjalan mendekati mereka lagi. Saat kulihat ternyata Minho memilih Sunhwa.

“Shinyoung vs Yuri..”

Taewoo oppa menarik ku untuk maju tapi sebelum itu Taewoo oppa menatapku dengan tatapan yang aneh, entahlah seperti tidak suka?

“Kau menggunakan make up?.” Tanyanya kesal.

“Yuri-ya? Kau memakai make up?.” Tanya Shinyoung eonnie, aku hanya diam sambil tersenyum.

Lalu Sunny maju kesampingku.

“Aku ingin mengungkapkan sesuatu .. Sebenarnya aku tidak menyukai Minho.” Celetuknya santai. Kami semua menatapnya bingung, apa maksudnya? Apa karena dia ditolak Minho?

“Aku mencintainya.” Lanjutnya.

Mwo? Berani nya dia bilang mencintai Minho? Ya~! Minho adalah namjaku! Dan dia tahu itu.

“Ya~!.” Gerutuku sambil menepuk perutnya.

Beberapa detik kemudian aku dan Shinyoung eonnie sudah menghadap ke kamera, dengan Minho dibelakang kami.

Choose Me Please!

“Aku tidak yakin aku akan menang.” Celetuk Shinyoung eonnie. Tentu saja kau akan kalah eonnie ..

Aku hanya tersenyum senang mendengarnya, ya semoga Minho memilihku.

Dan setelah menunggu, Minho mendorong Shinyoung eonnie pelan. Jadi? Minho memilihku? Saat ini aku tidak bermimpi kan? Atau hanya halusinasi ? Ah tidak! Aku akan bunuh diri bila semua ini hanya mimpi atau halusinasi.

Aku tersenyum malu, disatu sisi sebenarnya aku yakin Minho akan memilihku tapi disisi lain aku takut kejadian saat di Starking terjadi lagi, karena sejujurnya pemikiran tentang Minho masih ingin menyembunyikan hubungan kami masih bersarang baik diotakku.

“Selanjutnya .. Hyuna vs Yuri ..”

Aku lalu memposisikan diri seperti tadi.

“Yuri, ayo lakukan sesuatu yang manis!.” Pinta Shinyoung eonnie.

Ide yang bagus, aku lalu tersenyum dan menghadapkan tubuhku untuk menghadap Minho.

Neomu banjjak banjjak nunibusyeo .. no no no no no.” Aku menyanyikan dan menarikan sedikit lagu Gee dihadapannya, tapi belum selesai aku menyanyikannya seseorang mendorongku dari belakang hingga aku sedikit terpental maju tapi untungnya tidak sampai terjatuh.

Aku langsung berbalik. Huh lagi-lagi Taewoo oppa. Ingin rasanya aku melemparnya ke galaksi Andromeda saat ini.

“Ya~! Apa kau jealous?.” Celetuk Shinyoung eonnie, aku hanya memasang muka masamku dan kembali berdiri disamping Minho.

“Hyuna vs Yuri?.”

Aku dan Hyuna berdiri berdampingan, huh sungguh segmen seperti ini selalu membuatku takut. Aku takut Minho tidak memilihku lagi. Ya.. ‘lagi’.

Aku menundukkan kepalaku, pasrah untuk siapa yang akan Minho pilih, jika pun Minho tidak memilihku, kurasa aku akan terbiasa dengan itu, mungkin sudah takdirku.

Beberapa detik kemudian, Hyuna terdorong maju. Aku langsung mengeluarkan senyum kebanggaanku. Setelah itu aku mundur beberapa langkah. Oh tuhan… aku rasa aku ingin melompat saking senangnya.

“Narsha vs Sunhwa ..”

Aku hanya melihat kearah Minho, tak perduli siapa yang akan dipilihnya sekarang. Aku hanya ingin memperhatikan setiap gerak geriknya, aku takut jika setelah ini Minho tidak memilihku, aku takut Minho dan salah satu diantara Narsha atau Seonhwa akan berduaan seperti saat disegmen Starking saat itu, dan itu akan membuat kesempatanku untuk memandanginya semakin sempit. Dan mungkin, aku akan menangis konyol seperti waktu itu.

Kualihkan pandangan kearah lain, ternyata ada Taewoo oppa disampingku, dia menatapku dengan tatapan tidak suka, aku mengerutkan dahiku bingung. Kenapa dia? Apa dia benar- benar jealous? Ah aku sama sekali tidak peduli.

“Narsh.a” Seru salah satu host, aku langsung mengalihkan pandanganku lagi kearah Minho, dan ternyata Minho memilih Narsha.

“Final…”

Aku kembali memposisikan diriku didepan Minho. Aku harap Minho memilihku sekarang.

Terlintas sesuatu diotakku. Aha! Aku punya ide.

“Ayo, dance couple.” Ajakku pada Minho.

“Omo?.” Mereka semua tampak terkejut dengan ajakanku tapi Minho hanya melongo tak percaya tapi setelah itu dia memposisikan diri tepat disampingku.

“Juliette.” Ajjaku lagi.

“Ne kajja.” Setujunya.

Kami pun mulai menari dan menyayikan lagu Juliette, yang sangat kuhafal gerakannya.

Juliette ..yeonghoneul bachilkkeyo .. Juliette ..”

Ditengah-tengah kami menari, Narsha tiba-tiba muncul diantara aku dan Minho lalu mengikuti gerakan kami.

Aku berhenti dan melongo melihatnya. Yeoja yang menyebalkan!

“Ya~! Apa yang dia lakukan? Dia menggangguku!.” Rutukku dalam hati.

Aku tertawa masam. Huh Menyebalkan! Rasanya ingin sekali aku masukan wanita itu ke dalam kendi saat ini.

Setelah Narsha berhenti kami semua tertawa sambil bertepuk tangan.

Beberapa detik kemudian entah apa yang terjadi tiba-tiba Taewoo oppa berjalan kedepan.

“Setelah final selesai, dia harus memilih antara aku atau Minho.” Ucapnya pada Shinyoung eonnie. Aku diam mematung dengan ucapannya barusan. Aku tersenyum sendiri memikirkannya. Haha, kena kau oppa, kau jealous kan?

“Baiklah, Final.” Seru Shinyoung eonnie.

Aku dan Narsha berdiri berdampingan dengan Minho dibelakang kami.

Lama sekali menunggu Minho memilih, aku bisa mendengar desahannya karena bingung. Ditambah lagi celetukan Taewoo oppa agar Minho cepat memutuskan. Ini semakin membuatku tegang.

Bersikap tenanglah Yuri!

Dan sedetik kemudian Narsha terdorong maju. Berarti? Minho memilihku?

Aku langsung tersenyum lebar, detakkan jantungku seolah meloncat-loncat kegirangan. Aku rasa kini bibirku akan robek saking lebarnya aku tersenyum. Ah, ini yang aku mau. Kurasa hubungan kami akan membaik.

***

Sejak setengah jam yang lalu aku duduk dibangku diatap gedung apartemenku, menatap kagum bintang-bintang yang bertaburan di langit yang gelap, diantara banyaknya bintang itu, malam yang gelap juga diterangi oleh cahaya bulan purnama, mereka seolah-olah sedang mengikuti parade untuk bersama-sama menyinari bumi di malam hari.

Lampu-lampu kota juga ikut berpartisipasi menyinari bumi ini, sungguh kolaborasi yang bagus jika mereka sama-sama memiliki tujuan untuk menyinari malam. Huh. Sepertinya Seoul belum mengantuk saat ini.

Sleppp. Kurasakan sepasang tangan kekar melingkar indah dipinggangku. Sedetik kemudian sesuatu bersandar dibahu kiriku. Aku dapat menghirup aroma tubuh seseorang yang sangat familiar sekali untukku. Aku lalu memeluk tangannya yang melingkat dipinggangku dan memejamkan mataku. Berusaha meresapi indahnya momen ini. Aku suka saat seperti ini, saat dimana seseorang memelukku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

“Apa aku membuatmu menunggu?.” Tanyanya lembut. Suara ini, aku bisa gila jika tidak mendengarnya sehari saja.

“Tidak, aku baru datang.” Jawabku sedikit berbohong sambil tetap memejamkan mataku, merasakan setiap deru nafasnya yang terdengar indah ditelingaku.

Sejak saat segmen di Invicible Youth itu, aku ingin merubah sikapku, aku tak mau terlalu sentimental hanya karena ia telat datang, karena itu akan membuat hubungan memburuk. Aku tidak mau kehilangannya lagi. Ya.. ‘lagi’.

Lagipula sekarang aku tak keberatan jika menunggu, asalkan aku bisa tetap bersamanya aku akan tetap menunggu.

“Apa kau tidak mau melihat wajahku yang tampan ini?.” Tanyanya yang sukses membuatku membelalak dan menoleh padanya.

Chu~

Posisinya kepalanya yang bersandar dibahuku membuat bibir kami bertemu saat aku menoleh padanya. Dia tersenyum evil saat melepas bibir kami. Walaupun bibir kami hanya menempel sebentar, tapi itu membuatku malu, Entahlah mungkin pipiku memerah sekarang.

“Nappeun.” Cibirku. Dia hanya terkekeh lalu membalikkan badanku menghadapnya tanpa melepas rangkulannya dipinggangku.

“Saranghae.” Bisiknya lembut ditelingaku. Aku rasa kini jantungku berdetak tiga kali lebih cepat. Bulu kudukku juga merinding mendengarnya. Apa ini yang namany … Respon cinta?

Kuakui sejak segmen seminggu yang lalu, kami menjadi sedekat dulu lagi dan jujur semenjak saat itu ia jadi sangat perhatian padaku, mengirimiku pesan setiap saat, jika aku tidak membalasnya 10 menit saja dia langsung menghubungiku, tak jarang dia selalu merayuku saat kami bertemu dan itu selalu membuat pipiku selalu memerah didekatnya.

“Nado Minho-ah.” Jawabku tak kalah lembut. Sedetik kemudian ia langsung memelukku.

“Mianhae.” Ucapnya sambil mempererat pelukannya.

“Untuk?.”

“Untuk semuanya, aku tahu mencintaiku pasti membuatmu lelah, bahkan kadang aku tidak peka dengan perasaanmu.” Ucapnya dengan nada menyesal.

“Tidak, aku tidak lelah, kau tidak salah, jangan bahas masalah itu lagi.” Pintaku dengan nada sedikit memaksa.

“Tapi kau harus selalu bersembunyi seperti ini.” Sesalnya lagi.

“Tidak, bila hanya dengan bersembunyi aku tetap bisa mencintaimu, maka aku akan terus bersembunyi untuk terus mencintaimu.” Ucapku meyakinkannya.

“Aku janji, suatu saat nanti, aku akan segera mempublikasikan hubungan kita pada media.” Aku nya dengan nada serius.

“Mwo? Andwe!.” Tolakku sambil melepaskan pelukannya.

“Minho, kau tahu apa yang akan dilakukan agency nanti jika hubungan kita terpublikasikan kan? Aku tidak mau itu terjadi.” Protesku keras.

“Tapi chagi-ya, aku ingin semua orang tahu bahwa kau adalah yeojachinguku, bahwa kau adalah milikku, hanya milikku! Dan aku juga ingin semua orang tahu bahwa aku ini adalah milikmu!.”

“Ani, teman-temanku digrup, teman-temanmu, dan member Super Junior tahu tentang hubungan kita, menurutku mereka sudah cukup.” Jawabku meyakinkannya.

“Tapi..”

“Ssst. Kau melupakan fansmu? Mungkin mereka akan menjadi antis atau bahkan lebih buruk dari itu, jadi kumohon, biarkan seperti ini. Kumohon…”

“Kau itu keras kepala sekali.” Cibirnya sembari mengacak rambutnya frustasi. Aku hanya bisa tertawa mendengarnya.

“Saranghae.” Bisiknya lagi dan membuatku menghentikkan gelak tawaku.

“Nado.” Jawabku.

Perlahan Minho mulai mendekatkan wajahnya padaku, aku langsung menutup mataku mengerti apa yang akan dilakukannya.

Dan seterusnya, biarkan bulan purnama dan bintang yang bertaburan dilangit yang menyaksikannya.

= THE END =

6 thoughts on “I’ll Hide

  1. Sempet sebel sm minppa pas di starking krna lbh milih seohyun dr pd yulnie.
    Tp yasudahlah.
    Ini ff kyk real bgt,
    yulnie suka ngambek ya.
    Tp aku klo jd yulnie jg psti kesel kok.
    D tggu ff lainnya ya thor

  2. annyeong…
    aku pengunjung baru blog ini..
    mohon bimbingannya ?
    maaf sebelum.x klo aku cm bc ff yg cast.x yuri doank coz aku yuristable..
    mohon di ijinkan….. ne.. chingu..

    • Ne annyeong🙂 Hai sevy, welcome yaa. .makasih udah mau ngunjungin blog aku yg banyak sarang laba2 nya ini /cari kemoceng/
      Kkk~ gapapa kok, aku ijinin bangeett🙂 aku juga yurisistable malah ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s