Stay Together

stay together

Title: Stay Together || Author: Potterviskey || Cast: GG’s Kwon Yuri, SHINee’s Choi Minho & T-ara’s Park Jiyeon || Genre: Family, Romance, Life, Hurt || Rating: G || Length: Oneshot || Disclaimer: I own this fic’s plot and idea only. Cast belongs to God.. Don’t copy-paste or plagiarism! Thankyou.

.

.

Cinta adalah ketika dua orang mengetahui segala sesuatu tentang satu sama lain dan mereka masih ingin tetap bersama.

.

.

Aku mulai mengerti tentang arti kehadiran dirimu di hidupku,

Aku hampir mengerti tentang  jantungku yang selalu berlomba ketika bersamamu,

Aku telah mengerti tentang ketika namamu adalah apa yang pertama kali ku ingat ketika pagi membuka kedua mataku,

Aku rasa aku mengerti, cukup satu alasan yang membuatku mengerti.

Yaitu, karena aku. . mencintaimu.

Sesederhana itu.

 

“Puisi yang bagus.” Yuri mendongak dan menemukan wajah kekasihnya itu berada di atas kepala nya. Sedikit merengut, kemudian segera memasukan buku kecil yang menjadi mainan-nya dari satu jam yang lalu kedalam saku. “Sejak kapan kau disitu?,”

Minho terkekeh, mengacak rambut Yuri lembut kemudian berjalan memutar hingga mendudukkan diri disamping Yuri. “Sejak tadi. Sejak kau menulis kalimat pertamamu.”

Apa? Yuri berjengit. Menatap Minho sebal, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke danau yang tidak terlalu luas di hadapannya. Sial. Kenapa aku tidak menyadarinya?

“Puisi mu bagus, berikan padaku. Aku akan menyimpannya.” Minho bergerak melengkung, mencoba meraih buku kecil di saku sisi lain dari Yuri.

Yuri sontak saja menghindar. Memundurkan diri sampai yang ia mau. “Tidak. Enak saja.” Gadis itu berkacak pinggang, memberikan sentuhan aikhir dengan juluran lidahnya, kemudian berlari pergi.

Minho beranjak dari bangku kayu itu. Merentangkan kedua tangannya dengan rileks. Pria itu berteriak, “Jika aku menangkapmu. Kau berhutang satu ciuman padaku. Oke?.”

Langkah Yuri melambat tentu saja, dan berhenti lamat-lamat. Gadis itu berbalik, menunjukan mata nya yang membelo pada Minho dari kejauhan. “Apa? Mana bisa begitu?.” Yuri bersidekap.

Minho tersenyum menyeringai. “Kau punya waktu tiga detik sebelum aku memulai start-ku, Yuri.” Pria itu kembali berteriak, tubuhnya bersiap dengan posisi setengah berjongkok dan setengah menungging –seperti atlet lari yang siap bertempur-.

Yuri mendecih, “Dasar licik!.” Gadis itu tetap diam ditempatnya, -tidak mengindahkan penawaran Minho barusan. Kendati Minho jarang sekali memberikannya penawaran.

“Kenapa kau tidak berlari?,” Minho sedikit mengernyit, mempertanyakan apa yang biasa Yuri lakukan jika Minho memberikan taruhan ringan itu.

Bola mata Yuri berputar, Sama saja! “Untuk apa aku berlari jika pada akhirnya kau akan tetap menangkapku, huh?,” Katanya, Yuri mengetuk-ngetukan sepatunya ke tanah. Menunggu Minho dengan hitungan pertamanya.

Minho mengangguk, kemudian tersenyum lebar. “Ya, kau pintar.” Minho memuji, dan Yuri hanya membalasnya dengan decakan sebal. “Baiklah, bersiap disana!.”

“Satu…”

“Dua…”

“Tiga…”

Kwon Yuri! Semoga kau tidak menyesal. Lihat! Seekor macan tengah berlari menghampirimu.

.

“Apa yang kau cari?,” Minho berbicara berbisik, matanya mengekori jari lentik Yuri yang menjelajahi tiap judul buku dihadapan mereka.

“Begin. Karya Sung Hae Woo.” Yuri balas berbisik, matanya meneliti judul-judul buku yang tertera secara horizontal di setiap buku yang berderet rapi.

Alis Minho meliuk, pria itu menatap Yuri keheranan. “Sejak kapan kau tertarik dengan novel hm?,” Dengan nada sedikit mengejek, lalu meraih asal salah satu buku dihadapannya -membalikkan tiap halaman tanpa minat.

Yuri berdecak, menatap Minho sebal untuk beberapa detik dan kembali berkutat dengan buku-buku berderet itu. “Aku membaca novel sesekali jika ada cerita yang bagus, kau saja yang tidak tahu.” Yuri berbicara rendah –mencoba tidak terlalu menampakan nada kesal yang penuh penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.

Minho mengangkat bahunya tak peduli, “Oh.” Pria itu terlampau malas dengan udara senyap yang membosankan yang ia rasakan tiap kali berada di dalam perpustakaan.

“Yuri, aku menemukannya.” Yuri dan Minho serempak menoleh ketika seseorang berbisik girang. Kepala Jiyeon menyembul dari balik lemari; senyum mengembang terpatri dibibir merah nya, rambut coklat kemerahannya bergoyang tatkala gadis itu membolak-balikan buku yang dicari Yuri sedari tadi.

Mata Yuri berbinar, “Benarkah?,” Kemudian berjalan menghampiri Jiyeon diikuti dengan Minho dibelakangnya. Dengan sekali gerakan, Yuri menyambut riang buku itu ditangannya. “Terimakasih, Jiyeon.”

Minho mendengus cepat, “Sepertinya kau begitu senang?,” Jiyeon segera menyikut pinggang Minho ketika Yuri menatapnya tak suka. Alih-alih menjawab, Yuri hanya mendelik sebelum akhirnya beringsut menjauh –mencari tempat yang nyaman untuk membaca –sekaligus menghindari Minho yang ia duga akan melenyapkan fokusnya karena selalu saja mengajaknya bicara, dalam artian membicarakan sebuah –topik- yang tak penting.

Pupil mata Minho membesar, “Hei, dia mengacuhkan kita hanya untuk sebuah novel tebal dengan cover burung merpati?,” Katanya seraya melongo tak percaya. Jiyeon menyahut dengan kekehan kecil. “Jangan mengganggunya, dia telah menghabiskan waktu makan siang selama tiga hari hanya untuk menemukan novel lama itu.” Jiyeon menjelaskan, kedua matanya masih mengawasi Yuri yang kini tengah duduk menyendiri di meja kesayangannya –meja paling pojok disamping deretan buku sosioantropologi.

Minho merengut, Hey, kekasihmu disini. Dan kau akan mengacuhkannya? Katanya membatin.

Jiyeon diam-diam mengulum senyum melihat ekspresi kesal Minho. Hanya beberapa detik sebelum Minho menyadarinya dan menatap Jiyeon keheranan.

Jiyeon menundukan kepala –tak sengaja bertemu dengan jam rolex yang melingkar di tangan Minho. Dan sekonyong-konyong matanya berbinar. Gadis itu kembali menatap Minho –dengan senyum yang semakin lebar. “Ini waktu makan siang, ayo ke kedai paman Jo.” Ajaknya penuh semangat. Minho berpikir sebentar –melirik ke arah Yuri yang tengah asyik dengan buku bacaanya. Apa gadis bodoh itu ingin melewatkan makan siangnya lagi? Minho hendak mengayunkan langkah pertama mendekati Yuri jika saja Jiyeon tidak menyeretnya pergi bahkan sebelum pria itu mengiyakan ajakannya.

.

Jiyeon menopang dagu, bola matanya tak pernah beralih dari objek paling indah yang pernah ia lihat. Bahkan Jiyeon rela mengorbankan seluruh uang tabungannya untuk membuat mesin waktu seperti dalam serial kartun doraemon. Meskipun terdengar konyol tapi Jiyeon tak peduli. Ia hanya ingin menghentikan waktu agar saat-saat seperti ini tidak pernah berakhir, saat-saat dimana ia mengagumi wajah tampan Minho yang memukau.

Minho memainkan garpu yang diapit jari-jari nya dengan malas. Sejak dua puluh menit yang lalu, terhitung hanya empat kali pria itu menjamah piring ddeokbokki dihadapannya. Selebihnya, Minho hanya mengawasi pintu kaca dengan dua lonceng natal yang menggantung di ujung sisinya dengan tatapan penuh harap. Sesekali berdecak kemudian mengetikan sesuatu dalam ponselnya, seperti –Hey, nona keledai. Cepat datang ke kedai paman Jo-, -Aku tidak menghabiskan makananku, kau tidak ingin memarahiku?-,  -Aissh benar-benar, kau lebih memilih novel bodoh itu huh?- dan yang saat ini sedang Minho ketikan adalah -Jika kau tidak datang dalam lima menit, aku tak akan berhenti mencimmu nanti-

Minho mendongak, menatap sebal pada garpu ditangannya –menggengamnya erat, kemudian menghempaskannya begitu saja di atas meja. Ekor matanya tak sengaja menemukan Jiyeon yang menatapnya. Minho sedikit memincingkan alis, keheranan dengan Jiyeon yang menatap kagum dirinya. Tangannya terangkat sebatas wajah –melambai di hadapan wajah Jiyeon sementara gadis dihadapannya itu masih saja belum terusik dengan lamunannya.

Minho mengangkat bahunya tak peduli, ia melirik kembali pada ponselnya sebentar dan kembali menatap Jiyeon. Lamat-lamat, tatapan menyerbu milik Jiyeon sedikit-banyak membuatnya salah tingkah.

“Jiyeon!.” Minho berbicara –nyaris berteriak. Dan, sukses. Seharusnya Jiyeon akan terjungkang ke belakang jika saja Minho tidak menangkap tangannya.

Minho terkekeh –mungkin tertawa. “Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu.”

Jiyeon memegangi dadanya, “Aiish kau.” Detik selanjutnya; telapak tangan Jiyeon mendarat sempurna dikepala Minho. Pria itu meringis dan kini Jiyeon yang tertawa.

Suara lonceng kecil berbunyi. Secepat kilat Minho segera mengalihkan pandangannya kearah pintu. Pria itu mengulum senyum.

Yuri mengayun langkah terburu-buru, pelipisnya berkeringat tapi gadis itu sepertinya tak berniat untuk menyekanya. Sekonyong-konyong, Minho tertawa.

“Hey, kau habis dikejar anjing?,” Jiyeon melempar tanya ketika Yuri mendudukan diri disampingnya; meraih gelas lemon yang masih terisi seperempat penuh; menenggaknya nyaris tanpa sisa. Jiyeon menatapnya tanpa ekspresi setelah ia sadar gelas lemon itu –milik- Minho. Tidak sampai disitu; bibir Jiyeon semakin menekuk tatkala Minho mengeluarkan sapu tangan berenda dalam sakunya –menyeka keringat Yuri dengan penuh perhatian.

Letupan-letupan dalam dadanya, Jiyeon kembali merasakannya. Selalu saja ketika kedua sahabatnya itu melempar tatap yang dalam –melupakan eksistensi dirinya untuk bilangan waktu yang terkatakan. Hati Jiyeon, menggebu –lantaran cemburu.

.

Matahari masih bertengger di upuk barat, -bersiap kembali ke peraduannya dalam beberapa menit ke depan. Cakrawala senja yang berwarna jingga keemasan itu hampir melangkah pergi. Masih enggan beranjak sebelum gelapnya malam mengusir pulang ke peraduannya.

Minho dan Yuri duduk bersisian diatas rumput-rumput yang hampir menguning. Tangan mereka berpautan –menggumpal menjadi satu. Yuri menyerahkan kepalanya pada bahu Minho –menemukan posisi paling nyaman ketika mereka bersama.

“Yuri..” Minho membuka suara, ia menatap langit senja yang sesekali dilintasi beberapa burung kecil bersayap biru.

Yuri sebaliknya, gadis itu memejamkan kedua matanya –menikmati semilir angin musim dingin yang menerpa helai demi helai rambutnya. “Hm?,” ia menyahut dengan singkat.

“Ini, tentang Jiyeon.” Minho berbicara hati-hati –sedikit ragu.

Yuri membuka kedua matanya, cakrawala senja yang membias ke permukaan danau merasuk kedalam pupil matanya. “Ya?,” Yuri menyahut dengan tenang –namun dalam hatinya ia menggigil; jelas tahu kemana arah pembicaraan Minho. Hanya saja, rasa kekhawatiran dan ketidaksiapan selalu membayang-bayang tanpa lelah ketika mereka membicarakannya. Sedikit-banyak pasti, pembicaraan mereka hanya akan berujung pada pertengkaran –dan Yuri enggan dengan itu.

“Ini sudah sekian lama,” Minho bergumam rendah, langit senja nyaris hilang –berganti dengan langit ungu tua yang menghitam serta lampu temaram taman yang menyala dengan otomatis.

Yuri menghela nafas, Minho hanya berkata pendek namun efeknya tubuh Yuri menegang. “Aku tahu.”

“Sudah saatnya Jiyeon tahu, Yuri.” Yuri beranjak dari sandarannya pada bahu Minho; menatap Minho lekat untuk beberapa detik sebelum akhirnya melemparkan pandangannya asal ke arah danau.

Mata Yuri kembali terpejam, “Tolong jangan bahas hal ini lagi, Minho.” Bibir Yuri bergetar –selalu saja seperti ini.

Minho mendengus kesal, “Tidak. Aku akan mengatakannya besok.”

Mata Yuri terbelalak –menatap Minho dengan pandangan tak percaya. “Kau gila. Aku tidak setuju.”  Yuri tetap bersikeras. Memberi tahu Jiyeon sama saja menorehkan luka secara terang-terangan padanya.

“Terserah, aku akan tetap mengatakannya.” Minho juga tak mau kalah. Pria itu sudah jengah; setiap hari mengumbar pada semua orang kalau mereka hanya sebatas sahabat, tersenyum –penuh kepura-puraan ketika melihat Yuri bersama pria lain, dan lagi berkencan di taman pinggir kota yang jaraknya memakan tiga puluh menit dari rumah mereka. Sementara mereka bisa melakukan lebih.

Yuri terdiam, namun bahu nya bergetar. “Kau tidak mengerti Minho. Jiyeon mencintaimu. Dia, mungkin akan terluka.” Yuri segera beringsut menjauh, meninggalkan Minho yang masih menatapnya tak percaya.

Lalu bagaimana denganmu, Yuri? Apa kau tidak terluka terus seperti ini? Aku- juga terluka.

.

Jarum panjang dalam jam weker di atas nakas terus bergerak memutar, hingga jarum pendeknya kini telah sampai di angka sebelas. Kendati begitu, kedua mata Yuri masih enggan memejam. Memandang haru pada lembaran-lembaran album foto masa kecilnya. Yang kebanyakan adalah fotonya dan kedua sahabatnya. –Yuri, Jiyeon, dan Minho-

Yuri mengulum senyum tatkala jemarinya membuka satu halaman dengan foto Minho yang merangkul dirinya dan Jiyeon yang masing-masing memegang kembang gula. Sang ayah yang mengambil foto itu –ketika mereka berumur 9 tahun. Berawal dari Minho yang berkunjung ke rumahnya yang pada saat itu ia dan Jiyeon tengah bermain boneka di halaman rumah, Minho datang dengan sesuatu di punggungnya –yang ternyata adalah tiga buah kembang gula. Jiyeon sangat menyukai kembang gula, Yuri masih ingat kala Jiyeon memeluk Minho kegirangan setelahnya. Dan itu adalah pertama kalinya Yuri merasakan sesuatu yang aneh dalam hati nya –rasa tidak suka ketika Jiyeon memeluk Minho.

Jemarinya kembali membuka halaman lain, menampakan foto mereka bertiga di hari kelulusan tingkat junior. Yuri tersenyum getir; hari kelulusan saat itu bertepatan dengan hari ulang tahun Jiyeon. Yuri memberikan mantel bulu yang dibeli sang ibu dari Inggris untuknya sebagai hadiah untuk Jiyeon –yang setelahnya membuat dirinya diomeli sang ibu-. Sedangkan Minho, dia memberikan Jiyeon sebuah kotak musik antik yang mahal. Dan Jiyeon memberikan Minho ciuman di pipi sebagai ungkapan terimakasih.

Ponsel Yuri bergetar, ada sebuah pesan masuk –dari Jiyeon-. Kendati sedikit ragu –lantaran perasaannya tiba-tiba aneh, Yuri tetap membuka pesan itu.

-Yuri, kau tidak akan percaya ini. Minho mengirimi pesan padaku. Katanya besok aku harus menemuinya di halaman belakang kedai paman Jo saat jam makan siang. Ah~ aku gugup, apa dia akan menyatakan perasaannya padaku?-

Yuri kembali tersenyum getir. Tidak ada niat sama sekali untuk membalas pesan Jiyeon. Diraihnya kalender kecil di atas nakas. Menatap sendu lingkaran merah pada tanggal 5 desember –hari ulang tahunnya –hari jadi satu tahun hubungannya dengan Minho –hari dimana ia kehilangan ciuman pertemanya –dan, tepatnya satu tahun ia membohongi Jiyeon –sahabatnya-.

Yuri kembali memutar memori pada tanggal 5 desember satu tahun yang lalu, ketika pagi datang dan wajah Minho yang pertama kali menyambutnya ketika ia membuka kedua mata. Pria itu meniupkan sebuah terompet kecil dihadapannya, menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan mendorongnya ke kamar mandi dengan alasan ingin mengajaknya ke suatu tempat. Dan Yuri hanya menurut.

Kala pria itu mengajaknya ke sebuah bukit di belakang gedung sekolah menengah mereka, menghadirkan padang dandelion yang luas beserta peralatan piknik yang telah disusun sedemikian rupa. Cake dengan lilin angka 21 pun tak luput berada di atas tikar. Minho kembali menyanyikan lagu selamat ulang tahun ditemani gitar –hadiah ulang tahun dari Yuri ketika lelaki itu genap berumur 20 tahun- dan disambung dengan sebait puisi yang manis –kelewatpuitis- dari lelaki itu. Bagaimapun, Yuri sangat tersentuh kala itu, apalagi saat Minho melakukan sebuah aksi sulap dengan kalung liontin dengan ukiran M-Y yang indah tiba-tiba berada di genggamannya. Minho bilang itu adalah hadiah ulang tahun untuknya. Beberapa detik selanjutnya, Yuri dikejutkan dengan aksi sulap Minho beserta setangkai mawar dan pria itu tiba-tiba berjongkok dihadapannya. Semerta-merta mengacungkan bunga mawar dengan tangan lainnya yang menggenggam erat jemari Yuri. Lelaki itu, kembali menyuguhkan sebait kalimat manis yang berhasil menimbulkan rona merah di pipi Yuri.

-Bertemu denganmu adalah nasibku, menjadi temanmu adalah pilihanku. Dan, jatuh cinta padamu adalah diluar kuasaku. Dihadapan padang dandelion, –dibawah matahari yang bersinar dengan terik –ditemani semilir angin musim dingin ini. Yuri, maukah kau menjadi kekasihku?-

-Aku tahu, kau tetanggaku, temanku, sahabatku, tapi aku ingin kau lebih dari itu. Kekasihku. Kau memang bukan cinta pertamaku. Tapi, jadilah cinta terakhirku.-

Kesungguhan Minho kala itu, bagaimana mungkin Yuri mengabaikannya?

Dan juga, dihari itu. Yuri akhirnya tahu, bagaimana manisnya berciuman. Baginya, itu adalah hadiah ulang tahun terindah yang tak akan pernah ia lupakan.

Yuri beranjak. Menutup album penuh kenangan itu kemudian menaruhnya di atas meja. Tangannya kini beralih, meraih novel tebal yang tergeletak di atas nakas. Begin.

Yuri membalik buku itu. Membaca untaian kata yang tak pernah bosan ia baca. Dan, Yuri pikir. Minho benar, memang sudah seharusnya mereka bicara pada Jiyeon.

Cinta adalah ketika dua orang mengetahui segala sesuatu tentang satu sama lain dan mereka masih ingin tetap bersama.

.

“Kau ingin mengatakannya?,” Minho menatap khawatir Yuri –meskipun seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Yuri menggeleng, meraih jemari Minho dan menautkannya menjadi satu. “Tidak, kau saja yang bicara.”

Minho tersenyum, mempererat genggamannya. Lembut, Minho mengusap kepala Yuri. “Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja.”

Yuri baru saja mengangguk ketika lonceng di pintu berbunyi. Jiyeon disana. Tersenyum kearah Minho dan sedikit keheranan pada Yuri yang duduk disampingnya. “Yuri, kau disini juga?,”

Minho mengiyakan sepersekian detik sebelum Yuri sempat mengangguk. “Ya, ada yang ingin kami bicarakan padamu, Jiyeon.”

Jiyeon mengerutkan dahinya, ia menatap Yuri yang sedari tadi hanya diam. “Ey~ sepertinya hal yang serius. Ada apa?,” Gadis itu mengusap kedua tangannya lalu bersidekap di atas meja.

Minho menghela nafas sejenak, melirik Yuri yang kini mengalihkan pandangannya ke pemandangan diluar sana.

“Sebenarnya-“ Minho menggantungkan ucapannya. Jiyeon mematung ketika Minho mengangkat tangannya yang bertautan dengan Yuri ke atas meja. Eh?

“Maaf baru memberitahumu, kami berdua berpacaran. Jiyeon.” Minho berkata cepat, tetapi dengan nada yang lembut.

Jiyeon hanya diam, wajahnya tanpa ekspresi –tidak seperti dugaan Minho. Gadis itu menatap Yuri lama, kemudian beralih menatap genggaman tangan mereka. Pandangannya mengabur.

“Kalian?,” Kerongkongan Jiyeon rasanya tersekat. Gadis itu meraih kembali tas bahu diatas meja kemudian beringsut pergi.

Yuri menatap sendu kearah pintu yang loncengnya berbunyi kembali. Matanya masih mengekori Jiyeon yang menghilang di balik jendela kaca kedai paman Jo.

Genggamannya pada jemari Minho semakin menguat, Maafkan aku, Jiyeon.

.

Yuri memejamkan kedua matanya ketika jam besar itu berdentang beberapa kali. 00.00 –tepat lima desember.

Diluar sana turun salju. Yuri mengerjap beberapa kali setelah dirasa doa nya sudah cukup. Senyumnya mengembang –membuat Minho yang berdiri dihadapannya ikut tersenyum.

Ruangan itu kembali gelap ketika lilin dalam cake itu ditiup. Kendati begitu, kedua nya tak berniat untuk sekedar menyalakan lampu. Menggunakan penerangan samar dari luar jendela sana.

Minho menaruh kue yang sedari tadi ia pegang ke atas meja disampingnya. Mengambil satu langkah maju, kemudian meraih Yuri kedalam pelukannya. Lelaki itu tersenyum lebih lebar, “Apa yang kau inginkan, hm?,”

Yuri memejamkan kedua matanya –menikmati kehangatan yang diberikan Minho. Ruang musik ini cukup dingin –menurut Yuri.

Beberapa menit yang lalu, Minho membawanya ketempat ini, -mengingatkannya akan masa-masa dulu ketika lelaki itu selalu menyanyikannya sebuah lagu. Dan Minho membuat mereka seperti bernostalgia –menyanyikan sebuah lagu cinta dengan grand piano tua, kemudian setelahnya lelaki itu berdiri dihadapannya dengan sebucket bunga mawar merah yang indah. Lagi, Minho melontarkan sebait puisi yang manis.

Aku pikir aku bermimpi ketika kau berada disisiku. Tapi cinta bukan mimpi. Benar?

Dulu kau bilang padaku; cinta adalah harapan, dengan hati sebagai jawabannya.

Dan kurasa kau benar. Kau adalah jawaban dari hatiku, Yuri.

Kau adalah alasanku membuka mata ketika pagi hari, dan kau adalah alasan aku bermimpi ketika malam hari. Kau adalah satu-satunya, gadis yang membuatku terkadang gila –mungkin karena terlampau mencintaimu.

Jadi, tetaplah disisiku. Selamanya.

Dan Minho menutup puisinya dengan ciuman yang manis juga.

“Kau ingin tahu?,” Yuri balik bertanya, -sedikit menggoda.

Minho mempererat pelukannya, bibirnya berkali-kali mendarat di kepala Yuri.  “Ya, beritahu aku.” Katanya tak sabaran, “Apa kau berharap kita cepat menikah, hm?” Tanyanya menggoda.

Yuri memukul punggung Minho sekali. “Ey~ apa kau ingin aku berharap itu?,”

Minho melepaskan pelukannya, menatap manik Yuri yang kecoklatan. “Jangan bilang kau tidak berharap seperti itu, ya?.”

Yuri tertawa renyah, tangannya memukul dada lelaki itu pelan. “Berdoa saja di hari ulang tahunmu!.”

Minho melebarkan kedua matanya, hanya beberapa detik sebelum lelaki itu ikut terkekeh. “Ya, aku akan melakukannya nanti.” Katanya setelah kembali menarik Yuri kedalam pelukannya.

Yuri mendecih, membalas pelukan Minho dan mengeratkannya.

Tuhan, biarkan pria bodoh ini tetap bersamaku. Selamanya.

.

.

-FIN-

.

.

HAPPY BIRTHDAY KWON YURI!

Yayaya, aku tahu ini telat. Maaf ya maaf. //deeply bow

Kalo boleh curhat dikit, aku lg banyak tugas kemaren-kemaren. Engga sempet nulis dan kalo pun sempet, otaknya lagi engga sikron. //kemudian digetok. Ini aku ngerjainnya kebut tiga jam, jadi maaf ya kalo ceritanya begini. Dan maaf lagi kalo ceritanya pasaran; lostfeel; posternya yang kelewat absurd; atau parahnya ada banyak typo. Aduh maaf. Aku juga engga tahu kenapa ceritanya jadi begini? //eh apa?

Makasih juga buat yang selalu nagih-nagih ff project birthday nya Yuri sama aku. Meskipun ini ff engga layak buat dikata –project-. So, review-kritik-saran aku tunggu yang dikolom komentar😀

Oke, akhir kata. Thanks buat yang udah baca. Dan mohon maklum ceritanya begini’-‘

Doain sekalian, semoga UAS besok bisa lancar ._. dan kalo bisa doain aku supaya bikin ff engga molor melulu;__; //hiks

Semangat juga buat yang besok UAS! Doaku menyertaimu //kedipkedip😛

Bye :*

5 thoughts on “Stay Together

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s