In Your Eyes (Chapter 11)

in-your-eyes-new-poster

IN YOUR EYES
(Chapter 11)

Author: PinkyPark & Potterviskey || Cast: SNSD’s Yoona, EXO’s Chanyeol & Jongin, Jung Sooyeon & OC || Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama || Length: Chaptered || Rating: G || Note: Already posted at EXOShiDae Fanfiction and our personal blog || Disclaimer: We own this fic’s plot and idea only. Cast belongs to God. So please respect with your comment. Don’t copy-paste or plagiarism! Thanks, enjoy reading guys🙂

.

.

Jika kita tak diperbolehkan bersatu. Lalu, mengapa kita dipertemukan?

.

Yoona tidak tahu kenapa dia begitu tidak peka dengan sikap aneh Chanyeol ketika dia memberikan sup itu. Jelas-jelas Chanyeol sedikit gemetaran ketika memakannya dan bodohnya dia tidak tahu apapun.

“Maaf,” gumamnya lirih entah sudah ke berapa kalinya. Digenggamnya tangan Chanyeol lebih erat—mencoba memberikan kehangatan pada tangan dingin lelaki itu.

Pintu terbuka, Ibu Chanyeol disana—semerta-merta berhambur menghampiri Chanyeol dengan wajah pucat, mungkin lantaran cemas. Yoona lekas bangkit dari duduknya—membiarkan Mrs. Park mengisi tempat yang sebelumnya ia duduki.

Mrs. Park tampak anggun, rambutnya tertata rapi dan dibuat ikal—sekilas nampak mirip dengan Park Minhwa. Bibirnya diolesi lipstick merah, sesaat Yoona memikirkan betapa berbedanya penampilan Mrs. Park dengan bibinya di rumah. Wanita itu jelas sangat berkelas.

Yoona mendengarkan Mrs. Park yang tak henti melontarkan kalimat-kalimat penuh kekhawatiran sembari terus menundukkan kepala. Gadis itu mengintip sedikit dari posisi menunduknya, menyaksikan wanita itu menggenggam tangan Chanyeol seperti yang sebelumnya dirinya lakukan.

Pintu terbuka lagi,  Minhwa dan Youngran disana beserta satu cupcoffee ditangan mereka.  Minhwa melebarkan matanya, tidak percaya jika Ibunya akan sampai disana secepat itu. Youngran juga sama kagetnya. Kepala Minhwa mengedar ke sekeliling, dan menarik napas lega ketika tak ditemukannya sosok sang Ayah di ruangan itu. Syukurlah, batinnya lega.

Eomma.” Minhwa mengambil beberapa langkah maju mendekati sang Ibu. “Dokter bilang keadaan Oppa sudah membaik, dia hanya perlu istirahat.” Ujarnya sembari menyentuh bahu sang Ibu.

Mrs. Park mengangguk sekali, kendati demikian kedua tangannya masih menggenggam erat tangan Chanyeol. “Kenapa hal ini bisa terjadi lagi?” Tanya-nya tanpa mengalihkan pandangannya dari Chanyeol.

Minhwa menggigit bibirnya ragu, sekilas melirik ke arah Yoona yang tampak begitu merasa bersalah. Gadis itu berpikir keras apa yang harus ia katakan. “Oppa—

“Ini semua salahku, Ahjumoni.” Yoona berbicara pelan namun ada ketegasan di setiap kata yang ia ucapkan. Pelan-pelan, dia mengangkat kepalanya.

Minhwa dan Youngran serentak memandang Yoona dengan mata terbelalak—tak percaya jika Yoona akan membuat pengakuan dosa dihadapan Mrs. Park.

Mrs. Park termangu, lamat-lamat membalikkan diri—menatap gadis cantik yang entah itu siapa. Hanya butuh beberapa detik sebelum akhirnya Mrs. Park berspekulasi jika gadis dihadapannya itu gadis yang beberapa hari ini menjadi bahan pembicaraan dirinya dan sang suami.

Mrs. Park kembali mengalihkan pandangan pada anak lelakinya yang masih memejam mata. Katanya, “Kau—pasti gadis bernama Im Yoona itu kan?”

Yoona tidak tahu harus berkata apa jadi ia hanya menganggukkan kepala meski tahu jika Mrs. Park itu tidak sedang menatapnya.

Helaan napas panjang terdengar dari mulut Mrs. Park, wanita paruh baya itu menggumamkan sesuatu lalu bangkit dari kursinya. Sembari melenggang menuju pintu, Mrs. Park berucap “Anakku butuh istirahat, sebaiknya kita bicara di luar.”

.

Yoona duduk tegang dengan perasaan campur aduk—ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Sedikit banyak, Youngran pernah bercerita padanya mengenai keluarga Chanyeol. Ibunya ramah, begitu yang Youngran katakan suatu hari. Namun, duduk berhadapan dengan Mrs. Park yang saat ini tak henti menatapnya, Yoona tidak bisa untuk santai saja dan berpikir semuanya pasti akan baik-baik saja. Tentu tidak bisa.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” Wanita paruh baya itu memulai pembicaraan, sesekali menyeruput teh hangat tanpa gula-nya yang baru satu menit yang lalu terhidang di atas meja.

Yoona masih belum mempunyai keberanian untuk sekedar mengangkat kepala, kedua tangannya pun sedikit gemetar di bawah meja.

“Tentang kejadian ini—“

Tanpa mengurangi rasa hormat, Yoona memotong ucapan Mrs. Park. “Aku benar-benar tidak bermaksud membuatnya seperti ini.” Sesalnya, dia mengangkat kepalanya kali ini. Untuk pertama kalinya menatap secara langsung pada dua bola mata itu. Ah itu dia—itu dia mata yang Chanyeol miliki. Chanyeol mewarisi matanya dari sang ibu.

Mrs. Park menarik napas teramat panjang, ada perasaan aneh menjalari hatinya ketika melihat kedua manik Yoona yang mulai berkaca-kaca. Niatnya, ia tidak ingin bersikap baik pada gadis yang telah membuat anak sulungnya itu dilarikan ke rumah sakit dan tentu saja yang membuatnya panik setengah mati. Namun, entah kenapa. “Aku tahu.” Ujar Mrs. Park yang akhirnya membuat Yoona termangu.

“Karena itu, aku ingin kau melupakannya,” Mrs. Park mengambil jeda, “Berhentilah mengkhawatirkan anakku, dia akan baik-baik saja. Kau hanya perlu bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dan juga, aku tahu hubungan kalian belum terlalu jauh. Jadi, lebih baik kau mengakhirinya segera.” Tambahnya.

Yoona tersentak, dia sudah membayangkan kemungkinan terburuk yang akan ia dapatkan jika ia bertemu dengan orang tua Chanyeol hari ini. Namun, kalimat terakhir Mrs. Park tadi itu diluar ekspetasinya.

“Lagipula, hubungan kalian tidak akan berhasil,” Mrs. Park berbicara lagi, bahkan sebelum Yoona bisa mengambil napas lega dari perkataannya yang sebelumnya. “Chanyeol sudah dijodohkan.” Katanya pada akhirnya.

Yoona memejamkan kedua matanya, meski kenyataannya ia sudah tahu tentang hal itu, tetapi mendengarnya lagi seperti ini membuat satu bagian di hatinya terluka. Sekuat tenaga, Yoona menahan air mata yang sudah mengaburkan pandangannya. Yoona tidak ingin terlihat rapuh—lagi.

Ahjumoni, aku—“

“Ah,” Mrs. Park memotong kalimat Yoona ketika kedua maniknya menangkap anak perempuannya dan Youngran berjalan ragu menghampiri mereka.

“Chanyeol Oppa sudah sadar.” Kata Minhwa sembari menatap dua wanita yang lebih tua darinya itu bergantian.

Yoona menatap Minhwa tak percaya, “Be-benarkah?”

“Iya, Eonni. Dia mencarimu.”

Yoona baru saja akan bangkit dari duduknya ketika ucapan Mrs. Park menghentikannya. “Sebaiknya kau pulang.”

 “Eomma!”

Ahjumoni,”

Mrs. Park bangkit dari duduknya, menatap Yoona yang kini terdiam. “Ini sudah malam, kau bisa menemui Chanyeol lain kali. Biarkan dia istirahat sekarang.”

“Tapi Eomma—“

Mrs. Park menatap Minhwa lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak ada tapi-tapian, mereka harus pulang.” Katanya lalu kembali menatap Yoona, “Kuharap kau mau memikirkan apa yang kukatakan tadi.” Wanita itu mulai membawa tungkainya pergi, “Ayo Minhwa, Ayahmu sedang dalam perjalanan kemari.”

Minhwa membagi pandangan menyesal pada Yoona kemudian Youngran, sebelum akhirnya ia hanya bisa mengekori sang ibu dengan langkah gontai.

Eonni, kau baik-baik saja?” Youngran menatap Yoona dengan cemas ketika didapatinya wajah Yoona yang pucat pasi. “Apa kau mau minum sesuatu? Wajahmu pucat.”

Yoona menarik napas pendek, lantas tersenyum kecil pada Youngran seolah mengatakan ia baik-baik saja. “Tidak. Ayo kita pulang.”

.

Sooyeon tersenyum lebar, sesekali melirik kotak makanan yang sengaja ia bawa dari rumah sembari memikirkan bagaimana ekspresi Park Chanyeol nantinya kala melihatnya. Sooyeon terkekeh sendiri ketika membayangkannya. Dia pasti terkejut, batinnya menduga. Baru saja Sooyeon akan melangkahkan kakinya ke kiri, seseorang menabraknya dan Sooyeon hampir menjatuhkan kotak makanan di tangan kanannya.

“Hey!”

“Maaf, aku tidak sengaja.” Gadis yang menabraknya menundukkan kepalanya berkali-kali. Sooyeon hanya mendelik padanya dan berniat untuk pergi namun matanya tidak berpikir demikian. Dia menatap gadis dihadapannya—yang juga menjinjing sebuah kotak makanan—dengan pandangan curiga sampai akhirnya gadis itu mendongkakkan kepala dan hendak pergi.

“Kau—“ Sooyeon menggantungkan ucapannya ketika dia menyadari siapa gadis itu. “Apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya garang, matanya yang tajam berkilat marah.

Yoona tampak terkejut melihat Sooyeon—meski baru bertatap muka sekali, Yoona tentu saja ingat siapa gadis dihadapannya itu. “Kau tidak datang untuk—“

“Sooyeon?”

Sooyeon dan Yoona menoleh serempak, mendapati Mrs. Park tengah berdiri di depan pintu kamar nomor 302—kamar dimana Chanyeol dirawat—sembari menatap keduanya dengan alis yang berjinjit naik.

“Oh, Eommonim,” Bibir Sooyeon melengkung membentuk senyuman manis dalam sekejap. Sementara Yoona, ia menundukkan kepala berharap bisa segera pergi dari sana atau menghilang begitu saja. Niatnya kemari tadi adalah hanya untuk melihat keadaan Chanyeol, namun begitu tahu sang Ibu ada disana—diruangannya—Yoona mengurungkan niatnya lantaran perkataan semalamnya itu masih terngiang dalam benaknya.

Mrs. Park merajut langkah menghampiri mereka yang masih berdiri beberapa meter dari ruang inap Chanyeol, pandangannya awas menatap Yoona. “Apa yang kau lakukan disini?” Mrs. Park melempar tanya yang ditujukan kepada Sooyeon. “Dan—kalian saling mengenal?” tambahnya.

Sooyeon menatap Yoona tajam sembari menggelengkan kepala. “Oh, tadi hanya sedikit kesalahpahaman, Eommonim. Dan tentu saja kami tidak mengenal satu sama lain.”

Yoona hanya diam; tidak mengiyakan ataupun membantah, genggamannya pada kotak makan di tangannya semakin erat.

Mrs. Park mengangguk mengerti, “Baiklah, karena kalian berdua sudah bertemu disini. Aku akan perkenalkan kalian. Sooyeon-aa, ini Yoona—teman Chanyeol, dan Yoona-sshi, perkenalkan ini Jung Sooyeon, calon menantuku,”

“Halo, Yoona-sshi, senang bertemu denganmu.”

.

Chanyeol menatap langit-langit kamar dengan bosan. Sesekali melirik ponselnya yang siapa tahu bergetar tanda ada sebuah pesan atau panggilan masuk, namun kenyataannya tidak ada. Lelaki itu melirik Sooyeon yang tengah duduk di sofa sembari memainkan ponselnya yang sesekali terkekeh kecil, Chanyeol berdecak, “Kenapa kau masih disini? Cepat sana pulang.” Ujarnya tanpa nada ramah sedikitpun.

Sooyeon menurunkan ponselnya, menatap Chanyeol dengan senyum simpul, kemudian kembali memberikan fokus hanya pada layar smartphone-miliknya. “Aku sedang membalas komentar di foto mu yang tadi kuunggah.”

Mata Chanyeol terbelalak, “Apa?”

Sooyeon dipelototi seperti itu hanya terkekeh ringan, “Mau lihat?”

Chanyeol menutup mulutnya yang sebelumnya sempat terbuka lataran terkejut, ia menatap gadis bersurai kecoklatan itu dengan tidak percaya. Gadis itu benar-benar menyebalkan—persis seperti apa yang selalu dikatakan Minhwa.

Tak mau terlibat pembicaraan tak penting, Chanyeol hanya menarik napas panjang kemudian bertanya, “Dimana Ibuku?”

Sooyeon beringsut kesal mengetahui pertanyaannya tadi diabaikan, meski begitu dia tetap menjawab, “Mengurus administrasi.”

Chanyeol hanya meng-oh-kan saja sampai akhirnya satu pertanyaan melintas di pikirannya. Ia menatap Sooyeon ragu, “A-apa kau melihat seseorang—“

“Gadis bernama Yoona itu maksudmu?” Sooyeon memotong ucapan Chanyeol dengan ketus, namun ketika dia sadar apa yang telah dikatakannya barusan, gadis itu mengumpat dalam hati.

Chanyeol memandang Sooyeon dengan curiga, “Ya. Kau melihatnya?”

“Memangnya kenapa?”

“Jawab saja.”

Sooyeon menatap Chanyeol kesal, gadis itu memasukkan ponselnya ke dalam tas bahu miliknya lantas berjalan menghampiri Chanyeol dan duduk di satu kursi disamping ranjangnya.

“Aku akan menjawabnya tapi ada syaratnya.” Kata Sooyeon dengan smirk di bibirnya.

Chanyeol menatapnya malas, “Ah sudahlah tidak usah dijawab. Aku tidak peduli.”  Katanya lalu berniat menarik selimut putih yang menutupi kakinya hingga ke kepala.

“Benarkah? Meskipun gadis itu pergi dari sini sambil menangis kau tidak akan peduli?”

Chanyeol mematung, dalam pikirannya bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Sooyeon tadi. “Apa maksudmu?”

“Kau tahu aturan mainnya, Park Chanyeol. Ingat syaratnya.”

Chanyeol menarik napas panjang, kepalanya kembali pening menyadari siapa yang sedang mengajaknya bicara. “Baiklah, apa syaratnya?”

“Temani aku makan siang besok,”

Chanyeol mendelik, baiklah Chanyeol, hanya sekedar makan siang, kau bisa melakukannya meski dengan mata tertutup, pikirnya.

“Baiklah, sekarang katakan.”

Sooyeon tersenyum manis, “Gadis bernama Yoona itu, dia datang kemari tapi sayangnya dia langsung di usir oleh ibumu.”

“Apa?”

.

“Yoona?”

Gadis yang dipanggil menolehkan kepalanya, sepupu lelakinya itu tahu-tahu sudah berada lima kaki dari tempatnya duduk di ayunan.

Jongin menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari lamat-lamat duduk di ayunan lain di samping Yoona. Belakangan suasana diantara mereka begitu canggung semenjak Jongin mengungkapkan perasaannya beberapa waktu yang lalu—biasanya Youngran selalu berada diantara mereka dan suasana menjadi hangat seperti biasa. Namun, mengingat ini sudah hampir tengah malam, Youngran pasti sudah tertidur pulas di kamarnya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Jongin sedikit basa-basi, “Bukankah kau baru pulang bekerja? Sebaiknya kau istirahat.”

Yoona tersenyum kecil, “Aku hanya ingin berada disini sebentar, kau masuk saja, Jongin.”

Alih-alih menurut, Jongin masih terpaku di ayunannya, ia tahu dari gelagat sepupunya itu jika ada sesuatu yang tidak beres. Jongin menatap Yoona dengan seksama.

“Kau baik-baik saja? Kenapa matamu sembab? Kau habis menangis?”

Jika sebelumnya, Yoona akan tertawa ketika mendengar Jongin begitu overprotective padanya namun sekarang rasanya sedikit canggung setelah tahu perasaan Jongin. “Aku baik-baik saja.” Katanya lirih.

“Semua orang tahu, apa yang kau ucapkan tadi adalah kebohongan wanita yang paling terkenal.” Jongin menyangkal, tanpa mengalihkan pandangannya barang sejenak. “Apa yang terjadi?”

Yoona tidak berniat menjawab, hening menyelimuti mereka untuk beberapa saat sebelum akirnya Jongin kembali berbicara. “Apa kau seperti ini karena dia?”

Yoona terdiam, semakin menundukkan kepala. Pandangannya mengabur lagi dan ia tahu malam ini ia akan menangis lagi.

Jongin menghela napas, “Aku tahu semuanya.” Katanya, “Youngran menceritakan semuanya padaku.”

Yoona masih enggan berbicara, dirinya kini menangis dalam diam.

“Dengar, Yoona. Jika kau mencintai seseorang, secara otomatis—kau memberikannya hak untuk menyakitimu.” Jongin menyentuh bahu gadis itu, mencoba untuk mendapatkan perhatian darinya. Rasa sesak menyeruak dalam dirinya ketika melihat Yoona yang kini terisak di hadapannya.

“Sesulit apapun masalah yang kau miliki, kau tidak bisa hanya memendamnya untuk dirimu sendiri. Kau tidak tahu betapa khawatirnya kami tiap kali melihatmu menangis seperti ini,” Jongin mengambil jeda. Perlahan, kedua tangannya terangkat menghapus air mata di pipi Yoona. “Kau tidak boleh ragu padanya, Im Yoona. Kau hanya perlu percaya padanya dan semuanya akan baik-baik saja.”

Jongin menarik Yoona kedalam pelukannya, membiarkan gadis itu mengeluarkan tangisannya. Ia jelas tahu, apa yang Yoona alami kali ini tidaklah mudah. Tapi ia juga tahu, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Seperti dirinya yang telah menata hatinya—sulit pada awalnya, tapi Jongin tahu, ia akan baik-baik saja nantinya.

.

“Kau masih tidak mau makan?”

Chanyeol tidak berniat menjawab, tangannya masih asyik mengaduk-aduk sup ayam dari semenjak ia duduk di meja makan itu. Tahu bahwa tiap kepala disana sedang memperhatikannya,  lelaki itu hanya memasang wajah tanpa ekspresi seolah tak peduli.

“Kenapa kau tidak memakan makananmu?” Kini suara berat sang ayah yang bertanya. Chanyeol sedikit bergidik—bagaimanapun, ayahnya masih menjadi orang yang paling ia segani.

Alih-alih menjawab, Chanyeol memusatkan pandangannya pada sang Ibu yang kini menatapnya cemas. “Kenapa Eomma mengusir Yoona?” tanyanya memberanikan diri.

Minhwa tersedak mendengar pertanyaan kakaknya itu barusan, suasana menjadi hening setelah itu dan Minhwa bisa melihat wajah Ayahnya yang mulai memerah. Dalam hati Minhwa mengumpat, apa kakaknya itu tidak bisa memilih waktu yang tepat untuk membicarakannya.

“Kenapa kau membicarakan masalah seperti itu disini?” Sang Ayah mulai berkilat marah. “Kembali ke kamarmu jika kau tidak ingin makan, jangan merusak suasana. Kita bicarakan ini nanti.”

“Oh, jadi Ayah juga tahu?” Chanyeol berujar tak percaya, sendok ditangannya terjatuh dan kini ia benar-benar sudah kehilangan selera.

“Jaga bicaramu, nak. Dia itu Ayahmu.” Sang Ibu mengangkat suara, berharap jika Chanyeol mengerti dan segera menurut untuk naik ke kamarnya.

Chanyeol menghela napas sejenak, kemudian menatap orang tua nya bergantian. “Aku tidak takut menjadi anak pembangkang jika menurutku itu benar.” Ujarnya penuh ketegasan. Tanpa menunggu salah seorang dari mereka menjawab ucapannya, Chanyeol segera beranjak membawa tungkainya pergi dari sana.

Minhwa menelan ludah, suasana di meja makan itu benar-benar tidak bagus, sangat tidak bagus. Jadi, sebelum ia nantinya terkena imbasnya, sebaiknya ia segera pergi. “Aku sudah selesai, aku akan pergi ke kamar.” Katanya hati-hati.

Belum sampai langkah ketiganya, Minhwa bergeming ketika suara berat sang Ayah berucap lagi.

“Tanggal pertunangannya sudah dekat, kau harus segera menyelesaikannya, Minjung.”

.

Nonhyeondong-1 No. 1547

Mrs. Park melirik kembali alamat yang tertulis di secarik kertas dalam genggamannya dan mencocokannya dengan alamat yang terpampang di tembok dihadapannya. Setelah yakin alamat tersebut sama persis, wanita paruh baya itu memindai rumah sederhana dengan pekarangan kecil di hadapannya dengan seksama.

Meski sedikit ragu, ia mendorong pagar besi yang sedikit berkarat itu dan mengambil langkah maju menuju pintu. Setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali, Mrs. Park menunggu dengan sabar, kembali memperhatikan pekarangan rumah dimana ada dua buah ayunan disana sampai akhirnya suara pintu berderit bersamaan dengan suara seorang wanita melewati pendengarannya.

Nuguseyo?”

Mrs. Park membalikkan tubuhnya kembali menghadap pintu—bermaksud memberikan salam dan memperkenalkan diri namun kedua matanya langsung terbelalak tak percaya begitu juga dengan wanita dihadapannya.

“Kim Yujin?”

“Park Minjung?”

.

Dua wanita paruh baya itu duduk dalam diam sembari sesekali saling memandang.

“Ini sudah lama sekali ya, Yujin.” Mrs. Park mengangkat suara untuk pertama kali—mencoba mencairkan suasana yang sedikit canggung diantara mereka.

Mrs. Kim—atau yang tadi disapa dengan nama Yujin itu mengangguk mengiyakan. Wanita yang lebih muda itu masih memikirkan apa yang harus ia katakan, rasanya canggung sekali setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu dan pula keduanya tidak terlalu dekat di masa lampau. “Terakhir kali kita bertemu adalah saat kakakku melahirkan anaknya, kan?”

Kini Mrs. Park yang mengangguk mengiyakan, bibirnya menyulum senyum kecil mengingat hari tersebut, hari dimana suara tangisan anak perempuan mengalir indah di telinganya dan Chanyeol masih seumur jagung dalam dekapannya saat itu.

“Dimana sekarang kakakmu tinggal? Kami sudah lama sekali tidak berhubungan sejak aku dan suamiku pindah ke luar kota.” Mrs. Park menatap Mrs. Kim dengan mata berbinar—membayangkan bagaimana ia akan bertemu kembali dengan sahabat lamanya yang sudah begitu ia rindukan.

Alis Mrs. Park berjinjit cukup tinggi kala wanita di hadapannya itu tak kunjung menjawab. Merasa ada sesuatu yang aneh, Mrs. Park kembali melemparkan tanya, “Kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?”

Mrs. Kim menggigit bibirnya ragu, bingung bagaimana ia harus mengatakannya. “Kakakku—dia sudah meninggal dunia lima tahun yang lalu.”

“Apa?” Mrs. Park begitu terkejut dengan apa yang ia dengar. “Bagaimana bisa? Dan kenapa tidak ada seorang pun yang memberitahuku?”

Mrs. Kim menarik napas panjang, “Kakakku meninggal karena kanker paru-paru dan—aku tidak memberitahumu karena aku tidak tahu alamatmu saat itu.”

Mrs. Park berulang kali mengerjap, masih tak percaya dengan sebuah kenyataan yang baru di dengarnya sampai akhirnya pintu terbuka menampakkan seorang gadis dengan seragam sekolahnya. “Aku pulang,”

Kedua wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya bersamaan, Mrs. Kim tersenyum kecil pada Yoona namun langsung keheranan ketika mendapati ekspresi terkejut dari keduanya.

“Yoona-ya, kemarilah.”  Mrs. Kim melambaikan tangannya—mengisyaratkan Yoona untuk menghampirinya dan duduk disampingnya.

“Beri hormat, dia teman lama mendiang Ibumu,” ujar Mrs. Kim lalu beralih menatap Mrs. Park. “Minjung, ini Yoona—putri tunggal kakakku.”

.

Angin di luar bertiup cukup kencang, beberapa menit yang lalu Minhwa sudah berbaik hati menutup jendela kamar kakaknya yang sedari tadi dibiarkan terbuka. Gadis itu menoleh sekali lagi pada jendela yang tirainya masih dibiarkan terbuka, langit tidak begitu cerah—awannya mendung dan sesekali gemerisik daun terdengar pelan. Gadis itu termenung beberapa saat, kemudian menatap pada kakaknya yang kini tengah telungkup di atas kasur—semenjak satu jam yang lalu.

Oppa, kau baik-baik saja kan?”

Chanyeol sudah mendengar itu sejak satu jam yang lalu, tapi dia tidak ingin menjawab apa-apa. Dia ingin terlihat kuat dengan mengatakan baik-baik saja, tapi juga tidak ingin berbohong dengan mengatakan baik-baik saja. Jadi solusinya adalah diam.

Diam menunggu, mungkin? Atau diam memikirkan cara untuk menguraikan kembali benang kusut hubungannya dengan Yoona menjadi seperti semula.

Minhwa memang tidak pernah putus asa, gadis itu mengalihkan tatapannya lagi pada jendela. Sudah satu jam dia duduk di kursi itu, di dalam ruangan bersama kakaknya yang seolah-olah bisu dan tidak mau tahu. Gadis itu memikirkan banyak hal juga. Tentang Jung Sooyeon—calon tunangan kakaknya yang tidak tahu malu, Ibunya yang jelas-jelas menyukai Yoona tapi tidak bisa berbuat apa-apa, Ayahnya yang keras kepala dan tidak akan mengubah keputusannya bahkan jika bumi terbelah dua, Yoona Eonni yang mungkin memiliki banyak luka di hatinya, juga kakaknya yang tidak bisa menghadapi kenyataan dengan berpikir jernih dan hanya telungkup diam seperti orang bodoh.

Oppa kau tahu?” Minhwa bersuara pelan, kemudian melanjutkan. “Cara mencintai yang paling baik adalah dengan tidak membuat orang yang kau cintai terbebani dengan cintamu.”

Minhwa memperhatikkan reaksi kakaknya, dia tahu saat ini kakaknya sedang mendengarkan, jadi dia berkata lagi. “Tentu tidak ada yang menyenangkan dari dibuat sakit hati berkali-kali. Kau akan merasakan kebas dari atas kepala hingga ke ujung kaki,”

“Jadi mungkin kau akan mengerti tentang perasaan Yoona Eonni saat ini, kau hanya marah dan kesal karena dia menolak bertemu atau mengangkat teleponmu. Tapi tidakkah kau mengerti tentang apa yang dirasakannya saat ini?”

“Kau masih menuntutnya untuk menjadi Yoona Eonni yang seperti biasa, saat sebenarnya dia sedang tidak baik-baik saja. Kau akan bertunangan, dan kau masih berpacaran dengan Yoona Eonni. Jadi kau ingin terus seperti ini? Telungkup di kasur seharian? Membiarkan Yoona Eonni bingung sendirian dan membiarkan Jung Sooyeon memiliki harapan?” Kali ini Minhwa menangkap pergerakan kakaknya, dia melanjutkan lagi, “Setidaknya lakukan sesuatu, diam tidak akan mengubah apapun. Perjuangkan atau tinggalkan, itu pilihanmu. Dengan begitu setidaknya kau tidak akan dianggap pecundang. Aku tidak tahu apakah lebih baik memperjuangkan Yoona Eonni atau meninggalkannya. Karena semua ini, kau yang merasakannya. Tanyakan pada hatimu, biar hatimu yang memutuskan, mana yang lebih baik. Untukmu, juga untuknya.”

Chanyeol sudah duduk di kasurnya, menatap Minhwa yang kini juga menatapnya dengan tenang. Chanyeol tidak pernah berpikir, adiknya yang cerewet dan kekanakan bisa mengatakan hal-hal dewasa seperti itu.

“Aku akan pergi menemui Youngran,” tambah Minhwa, dia bangkit dari kursi dan menatap kakaknya satu kali lagi. “Setelah selama ini, ini pertama kalinya aku merasa kasihan padamu,” ucapnya miris, kemudian melangkahkan kakinya keluar.

Tatapan Chanyeol mengikuti punggung adiknya, sampai akhirnya pintu tertutup. Chanyeol merenung.

Cara mencintai yang paling baik adalah dengan tidak membuat orang yang kau cintai terbebani dengan cintamu.

.

Yoona menutup pintu kamarnya, wajahnya masih bingung. Baru saja dia menempatkan dua cangkir teh hijau di hadapan bibinya dan err—Mrs.Park. Yoona jelas-jelas melihat Mrs. Park sangat terkejut dan matanya berkaca-kaca. Ini aneh, jadi Mrs. Park adalah teman mendiang Ibunya? Ibu Chanyeol adalah teman mendiang ibunya?

Yoona berjalan ke ranjang, melewati Youngran yang kini tengah menatapnya ingin tahu. “Dia benar Mrs. Park kan? Ibunya Minhwa?” Youngran langsung menyerbu dengan bersemangat, Yoona menatapnya kemudian mengangguk pelan. “Tapi—apa yang dia lakukan disini?”

Yoona tidak berniat menjawab apapun, jadi dia hanya diam dan duduk di atas tempat tidurnya. Dia bingung, bagaimana bisa Ibunya kenal dengan Mrs. Park. Bukankah ini aneh? Yoona tahu ibunya bukan semodel ibu-ibu arisan yang menghabiskan uang mereka untuk pakaian branded ataupun perhiasan berlian, Ibunya tidak mungkin mengenal kalangan seperti Mrs. Park, tidak mungkin karena selama ini dia tahu siapa saja yang menjadi teman Ibunya.

Youngran mendesis kali ini, membuat Yoona menatapnya penuh tanya. “Apa Mrs. Park mencoba memperingati Eomma untuk menyuruh kalian putus?” gumamnya ragu, kemudian balas menatap Yoona dengan mata membulat. “Wah, Daebak! aku melihat ini dalam drama, dan kini benar-benar terjadi di depan mataku sendiri.”

“Itu tidak seperti yang kau pikirkan Youngran-aa.”

“Tapi aku pikir seperti itu, memangnya apalagi yang dia lakukan disini? Apakah Eomma diberi uang juga? Apakah kita semua disuruh meninggalkan Seoul?” gadis kurus itu meracau tidak jelas, membuat Yoona merasa sedikit kesal. Youngran harus berhenti menonton drama.

“Siapa yang harus meninggalkan Seoul?” Yoona dan Youngran menatap sosok jangkung Jongin yang kini menutup pintu dengan kaki kirinya dan berjalan lunglai ke tempat tidur. Keduanya membulatkan mata mereka saat lelaki tampan itu menidurkan dirinya di tempat tidur Youngran dan memejamkan matanya.

Youngran tidak bisa menutupi keterkejutannya, gadis itu berdiri di samping ranjangnya. “Hey! Apa yang kau lakukan di tempat tidurku!” pekiknya tak terima.

Jongin tidak membuka mata, namun bergumam pelan. “Saat ini aku butuh tempat tidur yang nyaman dan bersih, tadi aku ke kamarku—dan aku tahu tempat tidurku bukan tempat yang aku butuhkan saat ini.”

“Itu karena kau menaruh segala jenis barang tidak berguna disana!” omel Youngran kesal, “Cepat bangun dan bereskan kamarmu!”

Jongin membuka matanya kemudian menatap Youngran tenang, “Kau kan sedang tidak sibuk, coba kau sekali-sekali bersihkan kamarku.” Jawabnya kemudian menutup matanya lagi, Youngran hendak mengomel lagi—tapi lelaki itu segera mendudukan dirinya dan menatap Yoona. “Ah, apa kau tahu wanita yang tadi? Aku bertemu dengannya di gerbang. Sejak kapan Eomma memiliki teman seperti itu? Aku kira temannya hanya para penjual ikan dan makanan di pasar.”

“Dia sudah pulang?” tanya Yoona.

“Iya, tapi dia siapa?”

Yoona tidak menjawab dia kemudian berdiri dan berjalan keluar, “Aku akan membereskan kamarmu.”

.

Youngran memperhatikkan gerakan Minhwa yang baru saja menaruh nampan dengan dua mangkuk ice cream di atasnya. Gadis cantik yang tidak lain adalah adik Park Chanyeol itu kemudian duduk di hadapan Youngran dan menatap gadis itu dari balik bulu matanya.

Youngran masih menatapnya, bibirnya membentuk garis tegas, dia bertanya, “Tapi apa kau benar-benar tidak tahu apa tujuan Ibumu datang ke rumahku?” sepertinya Youngran sangat frustasi dengan pikiran-pikiran ala drama yang sejak tadi memenuhi otaknya. Gadis itu merenggut, “Aku yakin dia datang untuk mencoba memisahkan Eonni dengan kakakmu.”

Park Minhwa cemberut, gadis itu kecewa. “Ibuku bukan orang seperti itu,” ujarnya.

Youngran menatap Minhwa—menilainya dengan teliti. “Lalu memangnya apalagi yang membawanya ke rumahku?”

Minhwa mengendikkan bahunya, dia sudah malas berdebat dengan Youngran yang sedari tadi terus mengoceh tentang hal-hal itu. Dia menarik mangkuk ice cream-nya. “Aku tidak tahu, nanti akan kutanyakan. Sementara itu, bisakah kau sedikit tenang dan makan saja ice cream-mu?”

Youngran terdiam selama tiga detik, “Maaf tapi kalau bisa kumohon dengan sangat pastikan Ibumu tidak datang ke rumahku lagi ya, kau tidak tahu betapa terkejutnya aku ketika melihat Ibumu tahu-tahu sedang minum teh dengan Ibuku.” Katanya kemudian menyaksikan Minhwa yang mulai menyendokkan ice cream ke mulutnya. “Kau yang traktir kan?”

Minhwa tidak menatap Youngran, tapi gadis itu mengangguk mengiyakan.

“Dan juga, kau tidak keberatan kan kalau aku pesan satu lagi?”

“Lakukan semaumu—dasar penggila ice cream!”

Youngran sudah kehilangan kekhawatirannya, dia mulai menyendok ice cream dan makan dengan bahagia. Sesekali mereka berdua membicarakan hal-hal ringan, tentang acara televisi yang aneh dan membosankan, drama terbaru yang akan tayang, sampai tentang teman di sekolah mereka masing-masing. Saat ini, mereka mengobrol bukan sebagai adik seorang Park Chanyeol atau sepupu seorang Im Yoona lagi. Saat ini, mereka mengobrol sudah sebagai teman.

Sementara Youngran dan Minhwa menikmati ice cream mereka, pintu café terbuka dan beberapa gadis berseragam SMA masuk. Mereka ribut seperti kebanyakan siswa perempuan lainnya—tapi sialnya mereka jauh lebih ribut. Membuat perhatian para pengunjung café teralihkan untuk sesaat.

Youngran ikut menatap gadis-gadis itu, Minhwa seolah tidak peduli—mungkin karena posisinya yang membelakangi gadis-gadis itu. Tapi Youngran merundukkan kepalanya, berbisik kepada Minhwa, “Minhwa dia disini—”

“Siapa?”

“Gadis itu—”

“Siapa?” Minhwa masih menyendokkan ice cream-nya—tidak ingin kehilangan fokus dari sana.

“Jung—Jung siapa? Aku  sedikit lupa.” Youngran kesulitan mengingat, gadis itu menatap ke arah para gadis SMA itu sekali lagi.

Minhwa menaruh sendoknya, ekspresinya terkejut. “Jangan bilang jika dia itu Jung Soo Yeon?”

Youngran menatap Minhwa kali ini, gadis itu mengangguk pelan, kemudian merunduk lagi untuk berbisik. “Dia disini, dan dia berjalan kesini!”

Minhwa tidak perlu repot-repot menengok ke belakang karena kini Jung Soo Yeon sudah ada di sampingnya. Gadis itu tersenyum lebar dengan cara yang paling memuakkan, rambutnya tergerai dan dia masih memakai seragamnya—tapi entah kenapa seragamnya terasa berbeda saat disana terpasang berbagai aksesoris mahal disana. Minhwa menatap Jung Sooyeon dengan ngeri, gadis itu memicingkan matanya.

“Apa maumu?”

Sooyeon tidak terkejut dengan sikap Minhwa yang kasar, gadis itu duduk di kursi dan tersenyum lagi. “Halo, aku senang kita bertemu lagi—adik ipar?”

“Adik ipar?” Youngran memekik pelan, membuat Sooyeon menatapnya sebentar kemudian kembali menatap Minhwa yang kini terlihat kesal.

Sooyeon terus tersenyum, dan itu sama sekali tidak membuat suasana menjadi lebih baik. “Bagaimana kabar Park Chan—ah, maksudku tunanganku?”

“Tunangan?” Pekik Youngran lagi—yang sepertinya langsung disesalinya saat kali ini Sooyeon menatapnya dengan sinis.

Minhwa menatap Sooyeon dengan dingin, “Aku ingin bertanya kepadamu,tapi sebelum itu aku ingin menegaskan dua hal kepadamu,” ucapnya tenang, “Pertama, aku bukan adik iparmu dan kedua, Park Chanyeol—kakakku bukanlah tunanganmu.”

Sooyeon kehilangan senyum sumringahnya, dia mentap Minhwa satu kali lagi—kali ini dia tersenyum kecil, tapi senyumnya tidak menyentuh matanya. “Tapi setidaknya kau akan menjadi adik iparku dan Park Chanyeol akan menjadi tunanganku, bukankah begitu Park Minhwa? Lagipula, tanggal pertunangannya sudah ditentukan,” Sooyeon berkata dengan pelan-pelan namun sangat membuat Minhwa sebal.

Minhwa memutar bola matanya kepada Sooyeon, beralih menatap Youngran yang kini juga menatapnya dengan datar—menatap Minhwa dengan pandangan seolah berkata ‘apa-apaan ini?’ sementara Minhwa hanya mengedipkan mata, “Nanti kuceritakan.” Katanya tanpa suara.

Dalam sepersekian detik kedua gadis itu tersenyum kecil, Youngran mengerti dan memulainya dengan berdiri—dia memakai ranselnya lalu merapikan rambutnya dengan cara yang dibuat-buat.

“Youngran kau mau kemana?” Minhwa bertanya dengan suara aneh yang bisa terdengar oleh kasir atau dua orang Ahjussi yang duduk di ujung ruangan. Gadis itu memperhatikkan ekspresi bingung Sooyeon dengan geli.

“Aku akan pulang sekarang, kau mau pulang? Atau kau akan dengan—” Youngran menjawab dengan frekuensi yang hampir sama—seluruh café bisa mendengarnya. Gadis itu menggantung ucapannya sembari menatap Jung Sooyeon—membuat Sooyeon menengadah.

“Aku juga ingin pulang sekarang,” Minhwa berujar sembari berdiri dan membawa tasnya. Gadis itu tersenyum lebar dan berjalan beriringan dengan Youngran—meninggalkan Jung Sooyeon sendirian.

Sambil berjalan mereka masih berbicara dengan suara keras mereka—kesan dibuat-buat benar-benar tidak bisa mereka sembunyikan. “Chanyeol Oppa dan Yoona Eonni benar-benar serasi bukan? Ah—kemarin sepertinya kakakku baru berkencan dengan Yoona Eonni—kau tahu wajahnya? Wajahnya sangat berseri-seri!”

Youngran menimpali saat mereka berdua melewati meja yang diduduki oleh teman-teman Sooyeon. “Tentu saja, mereka berdua kan berpacaran—tentu saja mereka serasi. Aku tidak sabar mendengar cerita Yoona Eonni tentang betapa romantisnya Chanyeol Oppa.”

Lalu Minhwa dan Youngran cekikikan keluar melewati pintu, para gadis mulai ribut dan menatap Sooyeon yang sendirian.

“Sooyeon—aa? Park Chanyeol yang mereka bicarakan, bukan tunanganmu kan?”

“Tapi tadi kau bilang gadis itu adik iparmu, berarti yang dia maksud Park Chanyeol tunanganmu kan? Wah, daebak!”

“Sooyeon-aa? Kau baik-baik saja kan? Sepertinya adik iparmu tidak menyukaimu.”

“Tutup mulut bodoh kalian!” Jung Sooyeon baru saja berteriak kencang sembari menatap teman-temannya kesal. Gadis itu menarik napas panjang sebelum merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang. “Appa!”

.

Yoona menutup gerbang rumahnya dan merapatkan jaketnya sekali lagi. Gadis itu akan pergi bekerja—walaupun suasana hatinya sedang sangat buruk. Dia cukup lelah dengan semua yang terjadi belakangan ini. Chanyeol akan bertunangan, Chanyeol masuk rumah sakit, Mrs. Park yang memintanya menjauhi Chanyeol, dan Chanyeol yang bahkan belum bisa menjelaskan apapun dan mengambil tindakan apapun. Sebenarnya Yoona sudah lelah, tidak bisakah dia merasa bahagia kali ini saja? Bersama Park Chanyeol. Tidakkah cukup penderitaannya selama ini? Mengapa lagi-lagi dirinya harus menghadapi hal-hal seperti ini? Batin Yoona berontak, dia ingin datang kepada Chanyeol, mengatakkan betapa menyiksanya saat dia merindukannya, dia ingin datang kepada Chanyeol, menyaksikkan sikap malu-malunya dan ekspresinya yang selalu spontan. Tapi disinilah dia, di depan rumah dengan wajah pucat dan hati yang berantakan. Yoona tidak bisa melakukan apa-apa selain menjalaninya. Berharap semua ini akan berakhir dengan bahagia.

Langkahnya terhenti saat sepatu hitam mengkilap berhenti di hadapannya. Belum sempat Yoona mengangkat kepalanya untuk melihat pemilik sepatu itu, sebuah tangan membekapnya dari belakang—membuat gadis itu terjengkang ke belakang dan penglihatannya mulai samar-samar. Yoona tidak bisa melihat dengan jelas, dia hanya melihat beberapa orang berpakaian jas hitam mengerubunginya—dan juga samar-samar wajah Youngran tidak jauh darinya saat ini. Gadis itu terlihat terkejut, mulutnya terbuka—seperti ingin berteriak namun kenyataannya tidak terdengar apapun keluar dari tenggorokkannya. Samar-samar Youngran terlihat berlari mengejarnya, Youngran semakin jauh—dan semuanya semakin gelap.

Youngran berhenti berlari saat dua mobil hitam itu melesat pergi dengan cepat, matanya berair dan dia tidak bisa berdiri dengan tegak lagi. Youngran merogoh saku seragamnya dengan gemetaran. Matanya berkaca mengingat Yoona baru saja dibawa ke dalam mobil dalam keadaan pingsan. Gadis itu segera menekan panggilan dan marah-marah saat tidak juga ada jawaban. Gadis itu menekan panggilan untuk kedua kalinya—masih dengan tangan yang gemetar, dia membulatkan matanya saat panggilan sudah terjawab.

“Jongin! Yoona Eonni—mereka membawanya!”

.

TBC

 

 

2 thoughts on “In Your Eyes (Chapter 11)

  1. Yaahh! Yoona mau di bawa kemana Heyy Ahjussi..
    Ckckck kenapa jadi begini. Ini suruhan siapa?
    Appanya Chanyeol apa Jessica.. Benar2 konflik Dramanya terasa bgt. Ikutan tegang gue.. Kkk

    di part ini sama sekali tidak ada moment YoonYeolnya. It’s oke, mungkin part selanjutnya akan ada banyak. Hihih
    tp kejadian yg tidak di sanngka2 adalah kedatangan Ny. Park. Dan beliau ternyata adalah sahabat Ibunya Yoona. Ini benar2 diluar ekspetasi aku. Jadi.. Apakah akhirnya Para orang tua Chanyeol eumm terlebih Appanya. Akan menyetujui hubungan mereka(YoonYeol)?

    Scene menarik juga ada di Minhwa-Youngra si duo trouble maker kesayangan gue dan Sooyeon.. Ishh menurutku walaupun terlihat kekanakan tp mereka keren. Hahha pasti malu banget Jessica.
    Oke lah ngga sabar banget menantikan part 12nya.. Semangat ya para Author!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s