In Your Eyes (END)

in-your-eyes-new-poster

IN YOUR EYES
(Last Chapter)

Author: PinkyPark & Potterviskey || Cast: SNSD’s Yoona, EXO’s Chanyeol & Jongin, Jung Sooyeon & OC || Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort, Drama || Length: Chaptered || Rating: G || Disclaimer: We own this fic’s plot and idea only. Cast belongs to God. So please respect with your comment. Don’t copy-paste or plagiarism! Thanks, enjoy reading guys🙂

.

Terkadang yang ditakdirkan bersama harus berpisah sementara jika ingin bersama untuk selamanya.

.

.

Park Seokwang sudah terdiam di ruangannya semenjak pukul delapan malam. Baru saja istrinya menaruh nampan berisi segelas air putih—semangkuk obat—juga permen di meja kerjanya. Park Seokwang menatap nampan itu dengan datar, lalu pikirannya terbang kepada wanita yang baru saja membawanya—ingat kata-katanya.

“Park Chanyeol tidak ingin bicara denganku—dia tidak ingin bicara dengan ibunya sendiri.”

“Aku tidak yakin bisa membujukmu, tapi menurutku kau harus mempertimbangkan ini lagi.”

“Dia, tidak akan benar-benar menikah jika tidak dengan Im Yoona.”

“Dia mencintainya.”

Park Seokwang tidak sengaja memikirkan nama itu, Im Yoona. Lalu tangannya meraih laci dan mengambil amplop coklat besar berisi foto-foto gadis itu. Dia memperhatikkannya satu-persatu. Foto terakhir adalah foto gadis itu yang menundukkan kepala di tengah hujan bersama Park Chanyeol. Mr. Park kembali meraih foto-foto Yoona yang menampakkan wajahnya secara close-up. Dirinya memicingkan matanya, menatap dengan lekat sosok cantik berambut panjang yang tengah tersenyum lebar dalam foto.

Sayangnya, Park Seokwang menemukan dirinya terhenyak. Senyuman itu.

Tahun 1971, Park Seokwang sudah duduk di salah satu kursi taman semenjak lima belas menit yang lalu, dia baru saja mencukur rambutnya karena terakhir kali dirinya dimarahi habis-habisan karena rambut yang berantakan. Dari ujung jalan, dia sudah tahu siapa yang datang. Senyuman ramah dan rambut panjang juga mata yang bersinar adalah salah satu yang selalu dia ingat. Gadis itu berhenti dan duduk di sampingnya, dia tersenyum lagi. “Whoa, Seokwang-aa, kau sudah mencukur rambutmu!” serunya senang.  Park Seokwang gugup, dia memang selalu gugup. Jadi dia hanya tersenyum sebagai jawaban. “Kau terlihat lebih tampan sekarang.”

Seokwang berhenti tersenyum, dia menatap gadis di sampingnya dengan terkejut. Dia terkejut, aneh karena lima kata itu bisa secara otomatis membuat jantungnya berpacu. Gadis di sampingnya hanya terkekeh. “Jadi, apa yang ingin kau katakan hm?”

Lagi—Park Seokwang membisu. Mulutnya mendadak terkunci dan tak bisa mengatakan apa-apa. Tidak, sebenarnya dia memang tidak pernah bisa mengatakan apapun kepada gadis itu.

“Ahn Yoomi—aku..” menyukaimu.

“Ya?”

Sekujur tubuh Seokwang kembali gemetaran. Untaian kata yang dipersiapkannya dari semalam mendadak buyar dalam pikirannya. Seokwang tahu apa yang ingin dia utarakan tapi tak tahu bagaimana mengutarakannya.

Tak kunjung mendapat balasan, gadis dihadapannya itu tak bisa menunggu lebih lama. “Kalau begitu, aku yang akan mengatakan sesuatu lebih dulu.”

“Eh?”

Gadis itu menatap Seokwang dengan mata yang berbinar, rasanya seperti pria itu tertarik kedalam dua bola mata indahnya. “Kubilang sebelumnya, aku juga akan mengatakan sesuatu bukan?”

Park Seokwang mengangguk ragu. “Ah, benar. Kau mengatakan itu semalam, Yoomi-ya.”

Gadis yang dipanggil Yoomi itu kini melempar pandangannya lurus ke depan, pipinya makin bersemu di setiap sekonnya. “Aku—“

Entah kenapa, firasat Seokwang berkata ini bukan berita yang bagus—baginya. “Apa?”

“Semalam, Jin Oppa melamarku.”

“Apa?” Seperti disambar halilintar, tubuh Seokwang terasa kaku. Angin sore serasa menusuk bahkan hingga ke tulang. Seokwang membeku. Untuk beberapa sekon, Seokwang tidak bisa berkata apa-apa lantaran terkejut. Bagaimana bisa?, batinnya kecewa.

“Seokwang-aa? Kau baik-baik saja?”Yoomi merenggut saat pria di sampingnya tak kunjung menjawab.

Tidak. Aku tidak baik-baik saja.

Seokwang tidak mungkin jujur tentang perasaannya kala itu. Melihat bagaimana senyum merekah di bibir Yoomi, gadis itu pasti tengah bahagia sekali.

“Kalau begitu selamat, Yoomi-ya.” Seokwang mencoba tersenyum. Hatinya memang terluka, tapi melihat bagaimana bahagianya Yoomi, Seokwang tidak bisa apa-apa lagi selain ikut bahagia—meski sebenarnya dirinya tidak.

Yoomi tersenyum lebar, “Jadi, apa yang ingin kau katakan?”

Seokwang mengalihkan pandangannya lurus ke depan. “Tidaktidak ada.”

Alih-alih kebingungan, Ahn Yoomi tersenyum lebar—senyuman itu lengkap menyentuh kedua matanya. “Kalau begitu, kapan kau akan mencari kekasih? Aku mungkin tidak akan sering berada di sampingmu lagi.”

Seokwang tertawa kecil, “Ey, jadi aku dibuang sekarang?” ujarnya tak percaya sembari memamerkan ekspresi berlebihan. Yang ditanya malah menjawab dengan gelak tawa. Hanya sebentar sampai Yoomi tiba-tiba memekik. “Ah benar,” katanya sembari menatap Seokwang dengan serius.

“Apa?”

Aku akan memperkenalkan seseorang kepadamu,” ucapnya. “Namanya Oh Minjung, dia ingin bertemu denganmu.”

Hari itu—kisah cinta pertamanya berakhir. Ahn Yoomi tidak pernah menjadi apapun selain sahabat baik. Dan dirinya, bertemu dengan Oh Minjung.

Oh Minjung menjadi istrinya, salah satu yang membuat Park Seokwang melupakan perasaannya kepada Ahn Yoomi adalah sosok Oh Minjung yang kuat, saat itu Seokwang membutuhkan sosoknya, sosok yang mampu membuatnya bangkit lagi dari keterpurukan saat mendengar kabar pernikahan Ahn Yoomi dengan pria yang dicintainya. Seokwang tidak pernah belajar untuk mencintai Minjung, tapi cinta Minjung lah yang perlahan-lahan membuatnya mencintai wanita itu.

Ahn Yoomi, yang kini ia tahu adalah ibu dari Im Yoona.

Sudah benarkah keputusannya?

Pintu kamar diketuk dua kali, Park Seokwang berhenti melamun dan sedikit linglung saat selembar foto masih dipegangnya. Pria itu membereskan semuanya dengan kikuk, lalu pintu terbuka sedikit.

Appa?”

Itu suara Park Minhwa. Separuh wajahnya menyembul dari balik pintu, “Ada apa?”

“Aku ingin masuk, boleh?”

Mr. Park sedikit membetulkan duduknya, lalu menjawab, “Masuklah.”

Anak gadisnya berjalan perlahan, dengan piama satin berwarna pink dan sandal tidur berbentuk boneka. Matanya menatap sang ayah takut, sesekali mengerjap dan menarik napas dalam seperti orang frustasi.

“Ini sudah larut, seharusnya kau tidur di kamarmu.”

Park Minhwa menatap ayahnya, “Aku tidak bisa tidur.”

“Kenapa?”

Gadis itu mengedipkan matanya, lalu berdehem kemudian. “Aku ingin bernegosiasi, dengan Appa.”

Sang ayah menatap anak gadisnya lekat—perlahan dia mengerti akan kemana arah pembicaraan ini. Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi—matanya tidak pernah lepas dari Park Minhwa. “Akan kucoba dengarkan.”

“Aku ingin kau mempertimbangkan lagi perjodohan kakak,” dia berujar cukup cepat lalu mengambil tarikan napas panjang yang kedua, “Sebagai gantinya kau bisa menjodohkan ku dengan siapapun nanti.” Pernyataan anak gadisnya baru saja membuat dirinya terkejut, pria itu membentuk kerutan di dahinya, lalu menanti kata-kata selanjutnya dari anaknya itu yang mungkin akan lebih mengejutkan lagi. “Sebenarnya aku tidak begitu peduli, aku hanya menyukai para Oppa—ku, lagipula masih sangat lama sampai umurku cukup untuk bertunangan ataupun menikah. Jadi aku pikir tidak apa jika aku dijodohkan. Sebenarnya aku lebih fleksibel dari kakak, aku tahu kalian tidak mungkin menjodohkanku dengan pria yang tidak memenuhi klasifikasi, asalkan mereka tampan dan bukan alien—aku tidak keberatan.” Dia mengakhiri ucapannya dengan gerakan menaikkan kedua bahunya bersamaan. Matanya yang besar menatap ayahnya penuh harap.

“Jadi?”

“Aku ingin kau membatalkan perjodohan kakak. Kau bisa menjodohkanku nanti—well, sebagai gantinya mungkin. Aku akan berusaha untuk tidak jatuh cinta seperti kakak.”

Sang Ayah menyunggingkan senyum tipis, mungkin karena geli—dia berdehem singkat. “Aku pikir kau tidak mengerti dengan apa yang kau katakan dan situasi yang sedang terjadi sekarang ini, Park Minhwa,” ucapnya.

“Aku hanya ingin kakakku bahagia dengan orang yang dicintainya.”

Aku hanya ingin kakakku bahagia dengan orang yang dicintainya. Seperti magic, kata-kata itu sukses membuat Park Seokwang tertegun, dia ingat dirinya pernah mengatakan hal yang serupa kepada istrinya suatu hari.

Aku hanya ingin Yoomi bahagia dengan orang yang dicintainya.

Pria itu sedikit limbung, dia menatap anak gadisnya satu kali lagi. Mata besar yang ditatapnya jelas-jelas sedang menunggu. “Ini sudah malam, kau harus tidur.”

Appa—tapi..”

“Aku tidak ingin mendengar penolakan.” Sergahnya—tidak ingin mendengarkan apa-apa lagi. Park Minhwa hanya cemberut, dia jelas-jelas mendelik pada ayahnya lalu membalikkan badannya dengan sedikit gaya merajuk andalannya.

Tangannya yang kurus hendak meraih knop pintu, tapi suara berat ayahnya sempat menggantung di udara, membuat dirinya terdiam untuk beberapa saat.  “Dan satu lagi—kau tidak pernah bisa menolak untuk jatuh cinta, anakku.”

.

Ada podium dan panggung lumayan besar di sisi ruangan. Sisi lainnya penuh dengan meja-meja minuman juga meja-meja tamu. Pelayan berpakaian hitam putih berseliweran kesana-kemari, dengan nampan di tangan mereka. Banyak sekali tamu yang datang, tentunya datang dengan atasan berjas dan bergaun glamour. Tawa senang yang seakan dibuat-buat terkadang terdengar dari beberapa kelompok.

Waktu berjalan begitu cepat—setidaknya bagi Park Chanyeol yang kini diam-diam menatap kosong foto berharga dalam dompetnya. Fotonya bersama Yoona dengan ekspresi konyol sekaligus bahagia ketika mereka melakukan photobox dulu.

Hari ini pesta pembukaan cabang baru perusahaan Ayahnya. Sekaligus acara pertunangannya. Banyak pengusaha datang, dan semua orang ingin tahu siapa anak dari pengusaha sukses yang kini melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru Korea. Jadi disinilah mereka, Park Chanyeol yang terlihat sangat tampan dengan tuxedo hitam dan dasi abu-abunya, Park Minhwa yang terlihat bosan juga cantik dengan gaun merah tua yang melekat di kulitnya. Juga di sisi lain tidak jauh dari mereka, Jung Sooyeon yang menatapnya genit dengan gaun shocking pink-nya yang cukup mengekspos tubuh indah gadis itu—dan Chanyeol adalah satu-satunya orang yang tidak tertarik akan hal itu.

Acap kali Minhwa melirik Chanyeol dan menepuk bahunya—mencoba memberi kekuatan pada sang kakak yang tampak begitu tertekan beberapa hari kebelakang. Minhwa bahkan khawatir jika kakaknya itu bisa gila saking menderitanya.

“Aku bisa mengacaukan pestanya jika kau mau, Oppa.” Katanya bersungguh-sungguh—matanya melebar berusaha meyakinkan kakaknya.

Chanyeol menggeleng, menyesakkan dompetnya lagi ke dalam saku, lalu mengusap kepala Minhwa. “Terima kasih. Kau benar-benar adikku yang terbaik, Park Minhwa.”

Minhwa tersenyum kecil, ucapan kakaknya itu terdengar seperti remaja putus asa yang perlu dikasihani baginya. “Oppa, kau tahu akan selalu ada hal baik di balik semuanya. Dan kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu—jika sudah saatnya.” Minhwa baru saja mengatakan kata-kata penuh keraguan dengan perlahan. Dia tahu akan sulit bagi kakaknya untuk merasakan perasaan seperti dengan Yoona dulu, jadi gadis itu menambahkan sebuah senyuman aneh di akhir ucapannya.

Chanyeol tersenyum—kepahitan tersamar di senyuman yang menghias wajah tampannya itu. Jika sudah saatnya? Sayangnya, ‘saatnya’ itu nyatanya tidak pernah datang padanya. Kebahagiaan tidak pernah memihaknya.

“Ya, semoga saja.” Katanya dengan keraguan yang tetap sama. Dia melirik ke sekitar, kemudian beralih kembali menatap sang adik. Sedikit ragu, ia bertanya, “Kau—kau tahu kabar Yoona?”

Minhwa memutar bola matanya, dia menjawab ketus, “Kau tahu—sejak hari itu aku tidak pernah ada hubungan apapun lagi dengan mereka.”

“Kau tidak berhubungan lagi dengan Youngran?”

Minhwa tampak berpikir sebentar, dia tidak bisa menyembunyikkan tatapan sedihnya—gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya seperti orang yang tengah kepanasan. “Ah tidak tahu—aku mau minum, kau mau?”

Park Chanyeol hanya menggeleng, maniknya menatap kosong punggung Minhwa yang menjauh. Pemuda itu megalihkan pandangannya, kemudian mengambil langkah lebar memasuki sebuah ruangan tanpa penghuni. Chanyeol butuh tempat sendiri—setidaknya beberapa menit sebelum acaranya dimulai.

Hanya beberapa saat setelah Chanyeol menyandarkan tubuhnya di sofa dan mencoba memejamkan mata, pintu ruangan itu terbuka. Chanyeol menolehkan kepalanya, mendapati Ayahnya kini sedang berdiri di ambang pintu. Tatapannya dingin dan tanpa eskpresi. Pria tua itu berjalan perlahan dengan tongkat kayu antiknya.

Chanyeol tidak bereaksi apa-apa selain menegakkan posisi duduknya. Lelaki itu tak berniat menyapa ataupun memberi salam pada sang Ayah lantaran ceritanya ia sedang mogok bicara.

“Kau terlihat buruk.” Ujar sang Ayah di detik setelah mendudukkan diri di salah satu sofa lainnya.

Chanyeol kali ini membalas tatapan dingin Ayahnya, dia menyunggingkan senyuman mengejek. “Abeoji jelas tahu apa penyebabnya.”

“Itu yang tidak aku suka darimu.”

Kali ini Chanyeol tertawa, lalu berhenti seketika. “Aku tidak berniat lagi untuk membuatmu menyukaiku.”

Ayahnya mengangguk mengerti, raut tuanya jelas-jelas menunjukkan kelelahan. Dia menatap Chanyeol, tatapannya tidak sedingin sebelumnya—tapi masih tetap tegas. “Katakan apa yang sebenarnya kau inginkan kepadaku sekarang, sebelum semuanya terlambat,” Ujarnya tiba-tiba yang tentu saja cukup membuat bingung sang anak.

Setelah beberapa sekon terdiam, Chanyeol menggelengkan kepala. “Aku pikir aku tidak akan menginginkan apa-apa lagi mulai dari sekarang.”

“Ayahmu ini bicara serius, Park Chanyeol.”

Chanyeol tersenyum miring, dia memajukkan badannya sedikit—senyumnya hilang, dan tatapannya berubah kasar. “Apa saat ini aku terlihat sedang tidak serius?”

“Gadis itu—kau menginginkannya.”

Wajah Chanyeol berubah-ubah; dia gugup, terkejut, takut dan keras seperti semula. “Apa lagi maksudmu? Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan, kenapa kau masih mengungkitnya!” Chanyeol berbicara dengan nada cukup tinggi—lantaran emosi, tamu-tamu yang sudah berdatangan di luar pasti bisa mendengarnya jika saja ruangan itu tidak kedap suara.

“Kau masih menginginkannya.”

“Kurasa cukup!”

“Kau masih mengharapkannya.”

Abeoji!” suara Chanyeol meninggi, Ayahnya tidak terkejut—dia lebih seperti memaksakan diri untuk tetap tenang. Pria tua itu menarik nafas dalam lalu menatap anaknya, dalam sekejap dia ingat foto-foto yang dimilikinya dalam amplop. Potret disana jelas sangat kontras dengan potret anaknya saat ini. Kemana anakku yang bahagia?

Ayahnya membuka suara lagi, “Aku akan bertanya satu hal padamu, nak.” Manik Chanyeol gusar, dia menatap Ayahnya gelisah—antara bingung dan takut, sang Ayah tidak menemukkan alasan untuk tersenyum, jadi dia tetap pada wajah dinginnya. “Im Yoona—gadis itu, apa kau benar-benar mencintainya?”

Butuh jeda selama lima detik sebelum akhirnya Chanyeol benar-benar lumpuh. Matanya sudah berkaca, dia menatap Ayahnya—meminta tolong—tidak ingin menangis seperti anak cengeng.

“Aku—selalu mencintainya.”

Mengucapkan hal itu—membuat Chanyeol bisa bernapas lebih lega, pria itu merasakan luar biasa ringan di dadanya. Matanya masih berkaca—bersiap untuk menjadi berkeping-keping.

“Kalau begitu kau bisa pergi sekarang,” cetus Ayahnya.

Park Chanyeol tidak merespon, dia menjawab tiga detik setelahnya. “Apa?”

“Kau bisa pergi padanya sekarang—sebelum aku berubah pikiran.” Pria tua itu sebenarnya tidak setuju dengan ucapannya sendiri, tapi dia menambahkan, “Aku juga ragu, tapi kau bisa pergi. Jika itu yang benar-benar kau inginkan.”

Napas Chanyeol semakin cepat, dia merasa aneh di perutnya. Pria itu meringis, “Abeoji, kau tahu itu tidak mungkin, jika aku pergi pertunangan ini akan batal.”

“Maka batallah.” jawab sang ayah dengan tenang seolah hal itu bukan masalah besar.

Chanyeol terkejut lagi, suaranya serak kali ini. “Apa sebenarnya maksud ini semua, Abeoji?”

“Aku akan membatalkannya. Kau bisa pergi sekarang juga!” sang Ayah mulai tak sabar, tidakkah anaknya itu mengerti apa maksud ucapannya, haruskah ia mengulangnya terus hingga kerongkongannya kering?

Chanyeol tidak langsung bersorak, dia menatap ayahnya lekat. “Lalu, bagaimana dengan bisnismu?”

Sang Ayah sudah terlihat kesal, dia memejamkan matanya. “Sejak kapan kau peduli dengan bisnisku? Lagipula, itu bisnisku bukan bisnismu. Urus saja urusanmu,” Jawabnya ketus, jelas-jelas pria itu sedang menentang logikanya, dia membuka mata—semakin kesal saat melihat anaknya masih ditempatnya, menatapnya dengan ekspresi kosong. “Kau tidak pergi?” tanyanya jengkel.

Park Chanyeol segera berdiri, tubuhnya yang jangkung menjulang dan dia tersenyum kecil—mungkin masih bingung apakah ini nyata atau khayalan semata. “Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan,”

“Kau tidak pergi juga? Kau ingin aku merubah pikiranku sekarang?”

“A—aku pergi! Aku pergi sekarang! Terima kasih, Abeoji.”

Park Chanyeol melesat dengan cepat. Dia melangkahkan kakinya lebar-lebar dan membuka pintu dengan bersemangat. Wajahnya berseri membuat Minhwa yang berdiri di balik pintu—menatapnya dengan tatapan curiga. Lelaki itu hanya tersenyum lebar, dalam sekali gerakan memeluk adiknya—mengangkatnya ke udara dan memutarnya sebanyak dua kali putaran.

Minhwa limbung saat Chanyeol menurunkannya. Masih dengan tanda tanya besar di kepalanya, keningnya berkerut keheranan. “Apa kau gila?”

Chanyeol tertawa—memang seperti orang gila. “Minhwa-ya, kami menang! Aku dan Yoona menang!” pekiknya gembira, Park Chanyeol segera melepas dasi abu-abunya yang sedari tadi membuatnya frustasi, menyisakan kemeja linen putih dan tuxedo hitamnya. “Aku akan menemui Yoona—ini pegang.” Lelaki itu menyerahkan dasinya dan tersenyum lagi. “Kau mau ikut tidak?”

Park Minhwa memainkan dasi sang kakak tanpa kehilangan fokusnya, dia menggeleng senang. “Aku tidak mungkin melewatkan ekspresi Jung Sooyeon setelah ini! Kau pergilah, cepat!”

Chanyeol menganggukkan kepalanya, lalu berlalu pergi dengan hati berbunga-bunga.

Kami menang, aku dan Yoona menang.

Mrs. Park baru saja tiba dan terkejut melihat Chanyeol berlari seperti anak kecil. Dia menatap Minhwa yang kini hanya tersenyum dengan deretan giginya. “Kemana kakakmu pergi?”

“Menemui belahan jiwanya.” Minhwa bersenandung sembari mengedipkan matanya, Ayahnya baru saja keluar—namun tertahan oleh ekspresi istrinya yang meminta penjelasan.

“Apa? Aku hanya ingin anakku bahagia dengan orang yang dicintainya.”

.

Youngran duduk di lantai dengan sekantung makanan ringan kesukaannya. Acara musik favoritnya sedang tayang—sedikit aneh mengingat biasanya dirinya selalu menghubungi Minhwa terlebih dahulu untuk mengingatkan. Gadis itu membuang napas berat untuk menyeret lagi pikirannya dan kembali teralihkan ketika Yoona keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi.

Eonni, kau mau keluar? Ini kan hari minggu, bukannya kau libur bekerja?”

Yoona mengangguk; membenarkan tas bahunya yang merosot di detik setelah ia menutup pintu kamar. “Aku akan pergi ke perpustakaan, karena absen beberapa hari aku harus segera mengejar ketinggalan,” Jelasnya kemudian tersenyum tipis. “Dimana Jongin? Aku tidak melihatnya sedari tadi?”

Youngran memasukan segenggam snack ke dalam mulutnya. “Dia sedang di kamar mandi,” ujarnya sembari menunjuk ke arah dapur dengan dagunya, dan berbisik. “Sepertinya dia sedang sembelit.” Yoona tidak terlalu terkejut, Jongin memang tidak pernah mendengarkan nasihat ibunya—jadi biarlah dia merasakan dulu akibatnya dan mungkin akan berhenti memakan sembarang makanan. Yoona hendak berjalan ke arah pintu ketika Youngran bersuara lagi. “Mau kutemani?”

Yoona tersenyum—masih senyuman tipis seperti beberapa hari ke belakang. “Tidak usah. Aku pergi ya.”

Yoona menutup pintu hati-hati kemudian berbalik—berniat merajut langkah pergi namun langsung terhenti di langkah kedua ketika seseorang berdiri di depan pagar rumahnya. Seseorang yang berada di urutan terakhir dari orang yang ingin Yoona temui saat ini. Gadis itu membeku, dua hari sudah dirinya berusaha keras melupakannya, tapi lihat! Semuanya seakan sia-sia saja ketika Park Chanyeol menampakan wajah dihadapannya—beserta senyuman konyol yang selalu jadi favorit Yoona.

Chanyeol tanpa tahu malu memamerkan deretan gigi putihnya. “Hai. Aku baru saja akan menyerukan namamu.”

Bagai disiram air dingin, Yoona mengerjapkan matanya berkali-kali; masuk kembali ke dalam rumah sepertinya ide bagus. Meski tak dapat dipungkiri jika Yoona merindukan Park Chanyeol, gadis itu masih belum siap bertemu dengannya, terlalu menyakitkan.

“Kau mau pergi ke suatu tempat?” Chanyeol kembali melempar tanya, sontak membuat Yoona menghentikkan langkah mundur kakinya.

Yoona tak mengerti, apa yang dilakukan Chanyeol di depan pagar rumahnya dengan kemeja putih berjas yang sudah tidak rapi, rambut berantakan, dan juga gadis itu bisa lihat keringat yang membanjiri pelipisnya seolah Chanyeol telah selesai lari marathon.

“Kenapa kau disini?” Yoona berbicara tanpa ekspresi—mencoba menghilangkan kegugupannya.

“Apa kita akan berbicara seperti ini? Dengan jarak dua meter?” Alih-alih menjawab, Chanyeol hanya balik bertanya dengan bahunya yang naik turun dan senyuman konyol yang masih terpampang di wajahnya seolah yang terjadi sebelumnya bukanlah apa-apa.

Yoona hanya diam tak menjawab, kedua maniknya menatap Chanyeol dengan sendu. Lantas, suara Jongin samar-samar didengarnya.

Yoona pergi ke perpustakaan?

Ya.

Kenapa dia pergi sendiri? Setidaknya tadi kau harus menemaninya Kim Youngran!

Kenapa kau jadi menyalahkanku?

Yoona tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba panik. Dia jadi teringat perkelahian antara dua pria itu dan Yoona tidak ingin hal semacam itu terjadi lagi—ia tahu jelas akan seperti apa reaksi Jongin jika pria itu tahu Chanyeol datang kemari. Jadi, tanpa berpikir panjang Yoona berjalan menghampiri Chanyeol, “Sebaiknya kita bicara di tempat lain,” Gadis itu berujar tanpa menatap Chanyeol, kemudian tubuhnya berjalan ringkih melewati pria itu tanpa suara.

.

Park Minhwa tersenyum sangat lebar—dia berjalan dengan menggunakan irama. Mengekori ayah dan ibunya yang kini berjalan berdampingan. Gadis itu tidak kuat menahan senyum saat kedua orang tuanya berhenti di hadapan orang tua Jung Sooyeon.

“Aku kira kalian membawa calon tunangan pria-nya, dia sudah terlalu lama di dalam. Sooyeon kami kesepian,” sindiran dari ibu Sooyeon terdengar begitu lucu bagi Minhwa hingga gadis itu terkikik dan langsung membuatnya dipelototi oleh sang ibu.

“Sebenarnya kami ingin membicarakan sesuatu.” Ayah Minhwa berucap, Minhwa menelengkan kepalanya ke arah Sooyeon dan menatapnya seolah berkata ‘kau akan habis sebentar lagi’.

“Kukira sekarang lebih penting kita umumkan terlebih dahulu pertunangan anak kita.” Ayah Sooyeon menyela, sang anak membenarkan dengan mengangguk kesal.

“Sebenarnya kami berencana membatalkan pertunangan ini.”

Minhwa baru saja berjingkrak di belakang orangtuanya sesaat setelah ayahnya mengatakan petisi itu. Gadis itu menelengkan kepalanya lagi—tidak sabar melihat eskpresi Sooyeon.

“A–apa maksudmu?” Ibu Sooyeon tampak terkejut, dia melirik anaknya yang kini hanya tampak kehilangan darah di wajahnya.

Ayah Minhwa menjelaskan, “Anak kami menolak perjodohan ini sejak awal, aku baru memikirkannya belakangan ini—aku tidak ingin membuatnya lebih tertekan. Dan juga, aku akan bertanggung jawab penuh atas kerugian pembatalan kontraknya.”

Tiga kepala di hadapan mereka terkejut bukan main, terlebih Sooyeon yang saat ini tidak bisa bereaksi apa-apa.

Minhwa menelengkan kepalanya sekali lagi, saat ini Sooyeon menatapnya—dan Minhwa tersenyum lebar. “Kau pucat,” kometarnya tanpa suara sambil terkikik.

Sooyeon mendapatkan lagi darah di wajahnya, namun terlalu banyak sampai-sampai wajahnya memerah. “Appa, Eomma, apa-apaan ini!” pekiknya marah.

Ayah Sooyeon menatap Mr. Park tak kalah marah, “Kau serius dengan ucapanmu?”

“Kau sangat mengenalku, aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku.”

“Kau akan menyesali ini!” Mr. Jung berteriak berang sementara Mr. Park hanya memandangnya datar, “Aku akan lebih menyesal jika membiarkan ini tetap terjadi.”

Sooyeon tampak kehabisan napas—selain wajahnya yang merah kini giginya gemeletukkan, membuat Minhwa yang awalnya terhibur menjadi sedikit terkejut dengan reaksinya. Mau tidak mau—seisi ruangan mulai memperhatikkan perdebatan yang tengah terjadi itu.

Appa, Eomma, jelaskan padaku apa yang terjadi!” jeritnya lagi, sang ibu mencoba menenangkannya namun itu gagal seratus persen. Sooyeon merengek dan wajahnya memerah, seolah gadis itu akan meledak saat itu juga.

Ayahnya berseru sambil berlalu. “Kita bicarakan ini di rumah, ayo pulang.”

Sooyeon menatap Minhwa dengan ujung matanya saat dirinya ditarik sang ibu, Minhwa menegakkan tubuhnya dan mengisyaratkan kata ‘selamat-tinggal’ lewat bibirnya. Sooyeon merajuk dan tidak bisa berhenti untuk marah, gadis itu semakin menjadi saat para dayangnya hanya menatapnya dengan tidak percaya.

“Dia ditolak?”

“Jung Sooyeon ditolak!”

Senyum Minhwa semakin melebar. Memikirkan apa yang akan terjadi pada Jung Sooyeon membuatnya geli sendiri. “Ya ampun, kasihan sekali.” Katanya sembari menelengkan kepala seolah iba.

.

Yoona duduk di ayunan dengan kepala tertunduk. Di ayunan lain, Chanyeol hanya menatapnya dengan senyuman berseri. Dia masih belum percaya gadis ini ada disini bersamanya. Pria itu menggoyangkan ayunannya sedikit—dia bersenandung, membuat Yoona menoleh, hanya sebentar sebelum menundukkan kepala lagi.

“Apa tidak ada yang ingin kau tanyakan?” Chanyeol membuka percakapan pertama kali semenjak keduanya sampai di taman itu. Ayunan yang didudukinya bergoyang pelan—seirama dengan desiran angin yang menerbangkan beberapa daun kering ke udara.

Yoona tampak ragu sejenak. “Selamat—atas pertunanganmu,” Ujarnya rendah, namun beruntung Chanyeol masih bisa mendengarnya.

Lelaki itu kini menatap Yoona terang-terangan. “Kenapa kau mengatakan hal yang sebenarnya tidak ingin kau katakan?” Suara Chanyeol membuat sepasang manik Yoona terseret pada pria disampingnya itu, pandangan mereka bersirobok; disaat raut wajah Yoona sulit ditebak, Chanyeol malah kembali tersenyum lebar. “Jangan katakan hal-hal semacam itu jika itu justru membuatmu terluka.”

“Lalu aku harus bagaimana? Apa lagi yang harus kukatakan saat melihatmu sangat bahagia  dan datang lagi padaku disaat aku ingin melupakanmu?”

Chanyeol sedikit terkejut dengan apa yang Yoona katakan, ia terdiam sejenak. Sejauh ini, itu adalah kalima paling panjang yang pernah Yoona ucapkan semenjak terakhir kali.

“Kalau begitu jangan lakukan,” Chanyeol membagi pandangan serius, dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya, tatapan bingung Yoona membuat dirinya berkata lagi, “Jangan lupakan aku jika itu justru menyakitimu.”

“Sebenarnya apa yang saat ini kau lakukan, Park Chanyeol-ssi?”

Chanyeol bangkit dari duduknya, mengambil langkah hingga sampai di hadapan Yoona kemudian berlutut dengan perlahan. Pria itu meraih kedua tangan Yoona dengan hati-hati. “Maaf karena pernah melepaskan tangan ini sebelumnya,” gumamnya, matanya menatap jari-jari Yoona dengan sendu.

Gadis itu mengerjap beberapa kali. “Apa maksudmu?”

“Apa aku datang terlambat?”

“Berhenti membuatku semakin tak mengerti!” Gadis itu menarik kedua tangannya dari genggaman Chanyeol dengan gusar—dia tidak ingin, dia tidak ingin terjatuh lagi.

Park Chanyeol menghapus senyuman lebarnya—wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat, tapi bukan sedih yang ada disana. Matanya menatap Yoona selama tiga detik, dia berkedip lalu menyunggingkan senyuman tulus yang membuat jantung Yoona berdegup kencang. “Aku kembali, apa aku terlambat?”

Yoona seperti dibawa berputar ke atas langit, membuat kepalanya pusing dan tidak bisa merasakan apapun. Gadis itu menatap Chanyeol dengan mata yang melebar. “Bagaimana bisa? Lalu bagaimana dengan pertunganganmu?”

Chanyeol kembali meraih kedua tangan Yoona, menggenggamnya dengan erat hingga ia pastikan Yoona tak akan bisa melepaskannya lagi. “Bagaimana aku melakukannya jika calon tunanganku kelak adalah dirimu, Im Yoona.”

Yoona mengerjap lagi, gadis itu tak tahu harus berkata apa. Matanya berkaca-kaca dan Park Chanyeol menyaksikannya untuk sesaat, lalu tersenyum lagi. “Apa disana, tempatku belum terisi? Apakah masih kau biarkan kosong?”

Yoona tidak bisa mengartikan apa-apa tentang reaksi tubuhnya akan perkataan Chanyeol, gadis itu bersuara—serak dan memalukan. “Tempat itu—selalu aku biarkan kosong,” jawabnya perlahan—matanya menatap Chanyeol lekat-lekat, “Sebenarnya aku menunggumu, walau aku tidak tahu kau akan datang atau tidak, aku menemukan diriku tetap menunggu, walau kau bilang selamanya adalah waktu yang terlalu lama, tapi aku tetap menunggu.” Yoona menarik tangannya dan menutup wajahnya dengan itu, dia mulai menangis.

Chanyeol memperhatikan untuk beberapa saat, dengan perlahan tangannya menurunkan jari-jari Yoona yang basah. Pria itu menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi gadis itu dan dengan hati-hati menghapus bulir-bulir air matanya. “Maaf karena datang terlambat,” Katanya sambil menatap dalam pada manik Yoona. “Kau ingin memukulku?”

“Untuk apa aku melakukan itu?”

“Untuk melampiaskan kemarahanmu,” jawabnya, dia tidak melepaskan tatapannya sedetikpun, “Kau mungkin marah karena aku datang terlambat.”

Yoona menatap pria tampan yang sedang tersenyum itu dengan berkaca, bibirnya tidak bisa menolak untuk tidak tersenyum. “Jika aku meminta sesuatu darimu, apakah kau akan melakukannya?”

Pria itu masih menatap Yoona dengan tenang, kemudian mengangguk mengiyakan.

“Jangan pergi lagi, Park Chanyeol,” Ujarnya pelan, tangan kanannya memukul dada Chanyeol pelan. “Jangan pernah menyerah padaku lagi.” Tuturnya dan kembali melemparkan pukulan pelan pada pria dihadapannya itu.

Chanyeol tersenyum, menatap Yoona lurus kedalam matanya. “Tidak. Tidak akan lagi.”

Pria itu bangkit. Yoona menengadah saat Chanyeol merentangkan tangannya dengan senyuman yang tidak pernah hilang. Ini ajaib, rasa sakit yang selama ini Yoona rasakan perlahan menghilang. Gadis itu lalu berdiri—menatap kedua mata Chanyeol dengan lekat lalu memeluknya dalam sekali gerakan di detik saat air matanya menetes lagi.

Yoona menangis bahagia, dia tidak akan bertanya mengapa Chanyeol kembali, dia hanya ingin Chanyeol kembali bersamanya lagi—seperti sekarang ini. Wajahnya sudah terbenam di bahu Chanyeol, pria itu hanya menghirup rambut Yoona dengan bahagia. Ini yang aku rindukan—rasanya menyenangkan sekali melepas rindu seperti ini.

“Terima kasih, karena telah kembali, Park Chanyeol.”

“Tidak. Terima kasih, karena tidak pernah menyerah padaku, Im Yoona.”

.

Dua tahun kemudian …

Kim Youngran menggunakan sendoknya untuk mencicipi ice cream milik Park Minhwa. Gadis di hadapannya hanya memperhatikkan dengan tatapan kesal. “Kalau akhirnya tetap minta punyaku kenapa tadi kau tidak pesan yang sama denganku saja?” tanyanya jengkel, menarik mangkuk ice creamnya dari jangkauan Youngran.

Gadis yang dimaksud hanya cemberut, memasukkan sesendok ice cream yang sempat di ambilnya tadi dengan cepat. “Itu agar kita bisa saling mencicipi Park Minhwa!”

“Begitukah? Tapi dari tadi hanya kau yang memakan semuanya! Kau makan punyamu dan punyaku.” Park Minhwa baru saja memetakan maksudnya dengan menunjuk Youngran dan dirinya sendiri dengan sendok.

Kim Youngran hanya terkekeh, dia menyendokkan lagi ice creamnya dengan bersemangat, “Aku hanya suka ice cream, apa aku salah?”

“Lihatlah kau ini, dasar!” Gerutu Minhwa dengan kedua tangan saling menyilang di dada. Gadis itu berpikir sejenak, lalu dirinya mengingat sesuatu dan berkata lagi kepada Youngran, “Omong-omong, kau belum mengembalikan album yang kau pinjam seminggu yang lalu.”

Kim Youngran membeku sejenak, kemudian menaruh sendoknya dan menatap sahabatnya dengan tawa pelan mencurigakan. “B–benarkah? Kukira kau mungkin lupa—”

“Aku tidak lupa.”

“Pikirkan lagi—”

“Aku sudah memikirkannya.”

Kim Youngran menatap Park Minhwa dengan putus asa, lalu gadis itu membuang napas berat dan menjatuhkan bahunya. “Sebenarnya…” Youngran tampak ragu. “Kakakku menghilangkannya—” dia menggantung ucapannya sebentar, lalu cepat-cepat melanjutkan saat Minhwa membelalakan matanya, “Jongin meminjamnya untuk latihan, saat itu aku tidak berpikir karena rasanya ajaib mengetahui Jongin menyukai lagu-lagu di album itu. Jadi aku meminjamkannya saat dia bilang dia akan mulai berlatih untuk perlombaan bulan ini,” suara Youngran semakin menghilang saat Park Minhwa menatapnya dengan terkejut.

“Jadi maksudmu—yang terjadi sekarang adalah kau meminjam albumku dan meminjamkannya lagi pada kakakmu dan albumnya hilang?”

Youngran mengangguk lemah, dia belum berani menatap Minhwa. Rencananya gadis itu akan menabung untuk menggantinya, tapi sekarang sepertinya sudah terlambat.

“Kim Youngran kau—”

“Maafkan aku.”

“Bagaimana bisa kau—”

“Kubilang maafkan aku! Lagipula itu bukan sepenuhnya salahku, kakakku yang menghilangkannya!”

“Oke tapi mengapa kau balik berteriak kepadaku?”

“Ah maafkan aku. Kau tahu aku menyesal,” jawabnya pelan. “Aku benar-benar berniat menggantinya, sungguh.”

Minhwa mendesah, “Aku marah, tapi karena kau sahabatku kupikir itu tidak masalah.”

Dalam sekejap ekspresi Youngran berubah cerah, “Kau akan melupakannya?”

“Apa yang kau maksud melupakan? Sebagai gantinya kau harus mengajakku melihat kakakmu menari dengan lagu-lagu itu. Kapan lombanya?”

Youngran menemukan senyumannya, dia menjawab dengan riang. “Akhir minggu ini, kita bisa pergi bersama.”

.

Dua tahun berlalu dan semuanya terjadi begitu saja. Chanyeol dan Yoona meneruskan sekolah mereka ke Universitas Chung–Ang. Keduanya bersatu lagi dan hampir setiap pagi menunggu bis di halte tempat mereka pertama kali bertemu. Chanyeol berlari tergesa dengan tangan kanan memegang tas ransel dan tangan kiri menggenggam smartphone miliknya. Terhitung masih pagi, tapi penampilannya sudah berantakan sekali. Chanyeol memperlambat langkahnya ketika dirinya sudah hampir sampai. Pria itu mengatur napasnya sejenak, kemudian berjalan mendekati seorang wanita yang duduk di halte sendirian.

“Apa aku membuatmu menunggu lagi?”

Sadar bahwa orang yang ditunggunya telah tiba, Yoona mengalihkan pandangannya. Awalnya dirinya ingin merajuk, tapi melihat pria itu bermandikan keringat justru membuat dirinya mengurungkan niatnya. “Tentu saja, kenapa kau lama sekali?”

Chanyeol terkekeh kecil, mengambil tempat di samping Yoona lalu tanpa segan mencubit kedua pipinya dengan gemas. “Aigoo, aigoo. Mianhae.”

Yoona menarik kedua tangan Chanyeol dari pipinya. “Kau berlari lagi?”

“Tentu saja. Aku tidak mau kekasihku menunggu terlalu lama.”

Yoona merogoh sesuatu dari tasnya, mengeluarkan selembar tissue lalu mulai menyeka buliran keringat di pelipis pria itu. “Jangan memaksakan dirimu. Tak apa aku menunggu lama. Berhenti berlarian jika kau terlambat, kau akan menghabiskan tenagamu. Mengerti?”

Chanyeol tersenyum. “Aku mengerti, Nona Park!” serunya riang.

“Dan berhenti memanggilku begitu, kau masih harus berusaha keras agar aku tidak berpaling pada lelaki lain, Park Chanyeol.”

Chanyeol tertawa, “Kau bahkan lebih tahu jika hatimu telah sepenuhnya milikku, bagaimana mungkin kau berpaling hm?”

Yoona mendesis, tangannya terangkat lagi untuk merapikan rambut Chanyeol yang walaupun berantakan tidak mengurangi kadar ketampanannya sedikitpun. “Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi Tuan.” Candanya dengan sebuah senyuman simpul yang manis.

Pria di hadapannya menyelidik, “Kau berniat begitu? Kau berniat lain-lain kan?” tuduhnya dengan mata melebar.

Alih-alih menjawab, Yoona hanya tertawa. “Bagaimana jika iya?”

“Kau tahu kau tidak akan bisa!”

“Benarkah?”

“Kau ini jangan begitu!”

Yoona tertawa lagi, belakangan ini dirinya sangat senang membuat Chanyeol marah-marah. Melihat pria itu merajuk membuatnya bahagia, Chanyeol sangat lucu—dan Yoona semakin menyukainya. “Jika kau marah-marah terus seperti ini, kau akan terlihat lebih tua dan aku tidak mau menikahi pria yang sudah terlihat tua sebelum waktunya.”

“Kau ini! Lihat saja, sampai nanti—hanya denganku kau akan menunggu bus di tempat ini, seperti ini.”

Yoona tersenyum lebar, “Aku memegang kata-katamu.”

Bus baru saja berhenti di halte yang mereka tempati, membuat keduanya teralihkan dari perbincangan yang sedang terjadi. “Bus nya sudah datang.”

“Ayo.” Chanyeol menggenggam tangan Yoona dan keduanya segera menaiki bus dan melanjutkan lagi perdebatan yang belum selesai.

“Kau akan melakukan yang lain-lain kan?”

“Berhenti berdebat aku lelah.”

“Tidak mau. Kau memulainya.”

“Ya ampun Park Chanyeol kau ini benar-benar.”

“Katakan dulu kau tidak akan lain-lain.”

“Apa sih maksudmu?”

“Katakan dulu kau tidak akan berbuat lain-lain!”

“Ya aku tidak.”

“Tidak apa?”

“Tidak tahu.”

“Hey kau ini!”

.

FIN

So, this is the last chapter. Hope you all love it and we just wanna say thank you so much for reading and comment and appreciating this fanfiction. We also wanna say thank you for all silent readers? Kkk. We know that this fanfict will not be interesting without your support. And thank you for give us the support and your time to read and waiting this fanfict. You know that we love you. Please keep support us and wait for our next fanfiction. You can contact us on twitter @putrii_tasha & @iamlincyi

See yaa!! Gomapseumnida!!

—Pinkypark & Potterviskey—

6 thoughts on “In Your Eyes (END)

  1. Hufth kenapa harus ending?

    Titip cubit park minhwa ya. Gemesin banget. Apalagi pas ngeledek sooyeon. Boleh culik gak? Tawaran ke bapaknya lucu juga. Argh… pokoke dia sesuatu banget.

    But, eniwei, kalo taun 1971 ibunya yoona udah tunangan, berarti setting cerita ini taun berapa ya? Tapi, udah ada suju. Gimana kalo tunangannya 1991 ajah biar jaraknya gak terlalu jauh sama zaman suju? Hehehe *readers maksa

    • Eh iya, kita gak hitung. Ceroboh banget ya. Tapi makasih loh kak sudah diingatkan🙂 Makasih juga udah mantengin in your eyes dr awal sampai akhir. Aku padamuuuu :* hihihi

  2. Joha…senyum sendiri, nyengir bahkan nangis..aq bener2 terbawa sama ff buatan kalian ini…argghhh
    Ayo bikin gg chanyoon yg lebih keren lagi..
    Semangat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s